50 Persen Kondisi Alutsista TNI Tak Layak Digunakan

Sudah hampir sepekan sejak jatuhnya Helikopter TNI Angkatan Darat di Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Dalam peristiwa memilukan itu, 13 kru dan penumpang yang seluruhnya adalah anggota TNI gugur saat melakukan tugas operasi Tinombala di Poso.

Sejumlah spekulasi terkait penyebab jatuhnya helikopter itu pun bermunculan, seperti kemungkinan serangan teroris. Namun, Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti menyatakan bahwa jatuhnya helikopter TNI AD itu bukan karena serangan teroris kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Pernyataan Kapolri diperkuat oleh Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Tatang Sulaiman yang mengungkapkan penyebab jatuhnya helikopter jenis Bell 412 EP dengan nomor penerbangan HA 5171 itu karena faktor cuaca.

Ada pula dugaan, penyebab kecelakaan karena helikopter itu tersambar petir. Namun, kepastian penyebab jatuhnya helikopter itu masih menunggu hasil investigasi lengkap yang dilakukan pihak TNI.

Peristiwa jatuhnya helikopter milik TNI AD di Poso itu menambah daftar panjang kecelakaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Indonesia. Pada bulan Februari 2016 lalu, publik dikejutkan dengan jatuhnya pesawat Super Tucano milik TNI AU di Malang, Jawa Timur. Sebelumnya, pesawat T-50i Golden Eagle milik TNI AU juga jatuh di Yogyakarta pada bulan Desember 2015.

Gugurnya para prajurit TNI dalam setiap kecelakaan bukan hanya menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga korban, melainkan juga membuat bangsa Indonesia kehilangan putra-putri terbaiknya. Meski penyebab kecelakaan alutsista TNI berbeda-beda, namun berbagai kecelakaan itu seharusnya bisa dijadikan dasar untuk mengevaluasi dan memperbaiki tata kelola alutsista TNI di Tanah Air.

Pesawat tempur milik TNI AU dari lanud Hasanuddin Makassar terparkir di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (28/10/2014). (tribunnews batam/argianto)
Pesawat tempur milik TNI AU dari lanud Hasanuddin Makassar terparkir di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (28/10/2014). (tribunnews batam/argianto)

Kementerian Pertahanan sudah memetakan kondisi alutsista di Indonesia pada tahun 2007 lalu. Hasilnya, disebutkan bahwa sekitar 30 persen hingga 50 persen kondisi alutsista TNI tidak layak digunakan. Oleh karena itu, upaya untuk modernisasi alutsista dilakukan pemerintah melalui program yang dikenal sebagai Minimum Essential Forces (MEF).

Program pembangunan kapabilitas alutsista di Indonesia dirancang dalam tiga tahap yakni MEF pada 2010-2014, essential forces pada 2015-2019, dan optimum forces pada 2020-2025.

Saat ini, tahap pertama telah selesai dilakukan dengan realisasi Rp122,2 triliun, atau mencapai target sebesar 74,98 persen. Untuk tahap kedua dan ketiga, direncanakan akan dialokasikan sekitar Rp157,5 triliun.

Pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang komprehensif untuk memperbaiki sistem pengadaan alutsista. Tidak lagi melakukan pembelian alutsista bekas yang cenderung selalu memiliki potensi bermasalah lebih besar.

Antara

Tinggalkan komentar