Pasukan Penyapu Ranjau, Kota Palmyra dan Sang Dalang

Russian sappers 1

Russian sappers 2

Russian sappers 3

Kota tua dan Antik Palmyra selama ini menjadi salah satu basis ISIS di Suriah. Kota Palmyra juga menjadi saksi, puluhan hingga ratusan orang dipenggal dan ditembak ISIS di kota ini, sambil foto dan videonya dipamerkan lewat sosial media ke dunia internasional. Peninggalan bersejarah di Kota Palmyra juga dihancurkan. Tidak tahu apa hubungan antara Ketuhanan manusia saat ini, dengan peninggalan kuno di Palmyra. Peninggalan kota di Palmyra, seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi manusia saat ini. Toh tidak ada pula manusia yang menyembah batu batu kuno di Palmyra tersebut.

Kini Rusia mengirimkan pasukan penyapu ranjau ke kota Palmyra, Suriah, karena diketahui, ISIS banyak sekali menyimpan ranjau di Kota Palmyra. ISIS yang dulunya begitu garang dengan segala teaternya di Kota Palmyra, kini hilang seperti debu, pergi entah kemana. Mereka tidak memilih bertarung sampai darah penghabisan dengan tentara Suriah dan Rusia. Namun mereka yang dulu garang, hilang dikegelapan malam, yang sebagian menyamar menjadi penduduk, meski ada pula yang tertangkap.

Sang dalamg, tidak memperhitungkan Rusia ternyata ikut campur tangan dari cerita perang yang dibangun di Sutiah, untuk kepentingan kelompok/negara lain, yang bukan dari Suriah. Sang Dalang, tentu akan mengarang sandiwara yang lain, untuk dipentaskan di belahan bumi ini. Di mana ?. Di tempat yang penduduknya mudah diprovokasi dan diadu domba. Di tempat yang pendudukny lebih panjang syahwat emosi ketimbang akalnya.

Pasukan Anak-anak ISIS Tembak Mati 25 Tentara Suriah di Palymara
Pasukan Anak-anak ISIS Tembak Mati 25 Tentara Suriah di Palymara

Kini kita lihat, siapa sebenarnya yang menghancurkan Suriah dan siapa pula yang memperbaikinya. ISIS menghancurkan dan membunuhi warga Suriah dengan keji tak terperikan. Penghancuran itu, mereka lekatkan dengan dasar agama, untuk mendapatkan pembenaran. Mereka tahu, kalau sudah diembel-embeli agama, manusia pada umumnya, akan takut dan patuh. Rasionalitas pun akan tertutup. Padahal Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada umatnya, tentang bagaimana menyikapi sebuah perbedaan yang sudah menjadi takdir dari manusia. Perbedaan adalah takdir manusia. Yang tidak mau melihat ada perbedaan, mungkin harus tinggal di bulan. Sensitivitas persoalan inilah yang tampaknya dimanfaatkan Sang Dalang.

Sharing

Tinggalkan komentar