Home » Indonesia Belum Pikirkan Operasi Militer ke Filipina

Indonesia Belum Pikirkan Operasi Militer ke Filipina

  • Uncategorized

Jakarta – Pemerintah Indonesia dan Filipina terus mengupayakan perundingan, untuk membebaskan 10 warga negara Indonesia yang diculik kelompok bersenjata, Abu Sayyaf, di Filipina Selatan.

Operasi militer bukanlah pilihan untuk menyelamatkan WNI yang disandera.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakannya usai bertemu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Pandjaitan.

“Pemerintah Filipina tidak merencanakan serangan karena takut jatuh korban banyak,” ujar JK di Jakarta, (20/4/2016).

Wapres mengatakan, pemerintah Indonesia setuju dengan rencana Filipina. Apalagi Filipina masih kooperatif terkait rencana pembebasan para sandera

“Kami juga minta (kalaupun ada serangan militer), jangan di daerah yang diperkirakan ada sandera,” ujar JK.

Luhut Pandjaitan sebelumnya mengaku terus memantau perkembangan pembayaran tebusan untuk 10 WNI yang diculik. Dia menyatakan, perusahaan kapal, PT Patria Maritime Lines, akan membayar tebusan 50 juta peso atau setara Rp15 miliar.

“Tebusan untuk 10 orang WNI sedang difinalisasi oleh perusahaan. Ditunggu saja,” ujar Luhut di Universitas Indonesia.

Menurut Luhut, dari laporan sambungan telepon yang diterimanya, para sandera dalam keadaan sehat.

Sepuluh orang yang disandera merupakan awak kapal tongkang Anand 12 dan Brahma 12 yang membawa 7 ribu ton batu bara dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ke Filipina.

Kapal bertolak 15 Maret dan kemudian dibajak Abu Sayyaf di perairan Sulu pada 27 Maret lalu.

15 April lalu, Abu Sayyaf kembali menyandera empat WNI lain. Mereka merupakan awak kapal tunda TB Henry dan tongkang Crista yang yang dalam pelayaran dari Cebu, Filipina menuju Tarakan, Kalimantan Utara.

Pemerintah menyatakan, masih mengidentifikasi motif penyanderaan empat WNI ini berkaitan dengan politik atau sekedar ingin mendapatkan tebusan.

Sumber : CNN Indonesia