Home » Militer Indonesia » Masalah yang Sama dengan F-22, Pilot Super Hornet Kekurangan Pasokan Oksigen

Masalah yang Sama dengan F-22, Pilot Super Hornet Kekurangan Pasokan Oksigen

Ternyata pilot Angkatan Laut AS kesulitan bernapas! Pesawat tempur andalan Angkatan Laut AS, F-18 Super Hornet ternyata menderita kegagalan sistem On Board Oxygen Generation System (OBOGS).

Meskipun jarang, insiden kekurangan oksigen pilot saat menerbangkan pesawat tempur bisa berpotensi membunuh pilot dan menghancurkan sebuah pesawat seharga US$ 30 – 60 juta, dan setelah lima tahun mengalaminya, Angkatan Laut AS masih kesulitan mencari penyebab dan pemecahan masalahnya.

Beberapa pihak prihatin dengan tingginya tingkat hipoksia yang disebabkan oleh kekurangan oksigen dan masalah fisiologis lain yang tampaknya dialami oleh pilot pesawat F-18 selama lima tahun terakhir.

Kekurangan oksigen dapat membuat pilot pusing atau bingung, yang sangat berbahaya ketika meluncur di pesawat tempur dengan kecepatan ratusan mil per jam di udara. F-18 sebenarnya juga dilengkapi dengan botol oksigen cadangan, tapi pasokan oksigen darurat itu harus diaktifkan secara manual – yang tetap membuat pilot kesulitan mengaktifkannya (serupa dengan masalah pada pesawat siluman F-22 tapi sudah menggunakan pasokan cadangan otomatis).

Suplai oksigen tambahan juga memliki kelemahan lain karena hanya memiliki cadangan oksigen sekitar 10 menit yang mungkin tidak akan cukup untuk membawa pesawat kembali ke kapal induk.

Masalah kekurangan pasokan oksigen juga terjadi dengan skala yang hampir sama pada F-18 Hornet seri lawas A, B, C sampai seri D yang dibangun oleh McDonnell-Douglas dan pada varian terbaru super Hornet E/F dan EA-18G Growler yang saat ini dibangun oleh Boeing.

F-18 varian lama dan varian baru memiliki sistem pasokan oksigen yang berbeda. Hornet lawas menggunakan tabung besar oksigen cair seperti kebanyakan pesawat tempur buatan era 1940-an, sedangkan Super Hornet dan Growler menggunakan Cobham-built On-Board Oxygen Generation Systems (OBOGS) yang memurnikan udara dari intake mesin, yang secara teoritis memberi pasokan oksigen secara terbatas selama OBOGS bekerja.

Seiring bertambahnya usia pakai, F-18 mulai mengalami masalah terhadap sistem tekanan kabin dan kemungkinan kontaminasi. Super Hornets yang relatif pesawat baru juga mengalami masalah serupa, dan pihak Angkatan Laut mengira hal tersebut berkaitan dengan sistem filtrasi atau pasokan oksigen generasi terbaru yang bermasalah.