Respon Rusia Terhadap Aktivitas NATO di Dekat Perbatasan

NATO terus melakukan penumpukan militer di sepanjang perbatasan Rusia. Sementara, pihak Rusia menanggapi setiap langkah aliansi tersebut dengan mengerahkan senjata pertahanan terbaru di perbatasan. Moskow juga telah mengumumkan pembentukan dua unit baru di Distrik Militer Barat (di Smolensk dan Voronezh) serta satu divisi baru di Distrik Militer Selatan (Rostov-on-Don).

Menurut satu artikel di situs Voltaire Network, Washington pada kenyataannya tidak akan menyerang Rusia. Penumpukan militer itu lebih ditujukan untuk memprovokasi Moskow, guna membenarkan ekspansi NATO di Eropa Tengah.

Service combat surveillance vehicle SBRM. (© PHOTO: VITALY KUZMIN)
Pada saat yang sama, di sepanjang perbatasan Rusia dengan Finlandia, Baltik dan Polandia, Rusia menyiagakan jaringan anti-intrusi Sova. Peralatan itu memungkinkan pengawasan dan pemantauan beberapa target bergerak beserta dengan lintasan mereka.

Sova-SBRM (stands for Combat Surveillance Vehicle) dioperasikan oleh sekelompok prajurit. Kendaraan itu didasarkan pada chassis kendaraan tempur GAZ-233036 Tigr.

Sova-SBRM dilengkapi dengan 50-80 sensor magnetik, seismik dan akustik. Berbagai sensor itu dapat diintegrasikan ke dalam jaringan di wilayah yang ditetapkan dan dikendalikan dari jarak jauh. Setiap sensor dirancang untuk mengenali frekuensi dari jumlah getaran suara, termasuk yang dihasilkan oleh helikopter, pesawat terbang dan kendaraan lapis baja.

Service combat surveillance vehicle SBRM. (© PHOTO: VITALY KUZMIN)
Sensor dapat mendeteksi target pada jarak hingga 15 kilometer, dengan akurasi maksimal dua derajat. Sensor juga menunjukkan lintasan pergerakan target.

Sementara, untuk kendaraan dilengkapi antena teleskopik dengan jangkauan operasional hingga 40 kilometer. Antena itu juga memiliki sistem elektro-optik delapan channel yang terdiri dari kamera video, perangkat thermal imaging dan laser range finders.

Awak kendaraan dapat pula mengoperasikan dua mini-drone, dengan waktu penerbangan 60 menit.

Sputnik News