Tak Ada Su-35……Su-27SM3 pun Jadi

Beberapa waktu yang lalu Direktur Perusahaan Riset dan Pengembangan Persenjataan Rusia, Tikhomirov-NIIP Jenderal Yuri Bely menyatakan “Akhir September 2015 merupakan peluncuran pertama rudal udara ke udara jarak menengah baru R-77-1 dengan menggunakan prototipe pesawat tempur Su-27SM3.”

“Uji coba penembakan itu untuk melihat kemampuan rudal yang memiliki jangkauan lebih jauh, termasuk untuk melihat sistem antena, pemancar dan radar datalink yang juga telah ditingkatkan. Su-27SM3 menunjukkan kemampuannya dalam program uji resmi “.

Empat pesawat tempur Su-27SM3 versi khusus (kemampuan menembakkan rudal R-77-1) kemungkinan sudah diserahkan pada bulan Februari 2016. Su-27SM3 juga mendapatkan peningkatan pada sistem radar kontrol penembakan dan sistem perangkat persenjataan rudal jarak menengah , sistem manajemen kokpit dengan tampilan empat display ‘Full Glass’.

Menggunakan rangka yang diperkuat, terutama untuk meningkatkan kemampuan membawa persenjataan lebih banyak dari 10 hardpoint menjadi 12 hardpoint (total kemampuan membawa beban tambahan hingga 1 ton lebih banyak dari Su-27 standar), Penguatan rangka juga menjadikan lifetime atau umur Su-27SM3 menjadi dua kali lebih panjang dari Su-27 lawas.

Su-27SM3 terbaru juga menggunakan radar N001VEP, mampu melacak 10 target secara bersamaan dan menyerang empat target udara paling potensial dan juga kemampuan melacak 10 target di darat dan menyerang 4 target penting. Sistem deteksi radar ini juga memiliki kemampuan mengendus pesawat tempur musuh pada jarak 150 km, pada pesawat lebih besar seperti bomber, kemampuan melacaknya meningkat menjadi 300 km. Radar juga sangat sesuai dengan rudal R-77-1.

Bisa dikatakan, Su-27SM3 adalah seperti Su-35 namun dengan airframe Su-27. Apabila Indonesia tidak jadi membeli Su-35, masih ada SU-27SM3 yang bisa dijadikan alternatif pengganti.