Monster Baja Baru TNI

Pekan ini, Indonesia baru saja mendapat kiriman delapan dari 61 tank tempur utama Leopard 2A4 yang dipesan dari Jerman. Tank tempur ini rupanya pernah menjadi andalan tentara Jerman ‘Bundeswehr’ pada masa Perang Dingin. Namun setelah tahun 2000, Jerman menjual semua tank tempurnya ke negara-negara sahabat, antara lain Singapura, Portugal, Turki, termasuk Indonesia.

Namun ternyata, tank berbobot 62,3 ton ini memiliki kelemahan pada baja pelindung. Pasalnya, tank yang muat mengangkut 4 awak ini mulanya diciptakan sebagai tank tempur bermobilitas tinggi. Dengan demikian, bobotnya pun otomatis dipangkas sehingga mengorbankan lapisan baja pelindung di bagian samping dan depan. Oleh sebab itu, penjualan tank tempur ini akan disertai modifikasi sistem pelindungnya.

Di samping kekurangan sistem pelindung, tank ini memang dikenal unggul karena lincah dengan kemampuan manuvernya yang tinggi, kecepatan maksimal 70 kilometer per jam, dan hemat bahan bakar. Konsumsi bahan bakarnya separuh dari yang dibutuhkan tank utama militer Amerika Serikat, M1 Abrams.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mengeluarkan kocek fantastis, yaitu 280 juta dolar Amerika atau sekitar 3,8 triliun rupiah untuk memboyong tank tempur generasi ketiga dari Jerman ini ke tanah air.

Selain dirombak dengan tambahan lapisan pelindung di bagian depan dan samping, tank untuk Indonesia ini nantinya akan dimodifikasi dengan menambahkan pendingin ruangan agar cocok dengan iklim tropis di Indonesia. Tank ini diberi nama Leopard 2 RI.

Sementara tank dengan modifikasi berupa pengeras suara, sistem kamera pengawas 360 derajat diberi nama Leopard 2A6 Revolution. Modifikasi tersebut dilakukan agar tank cocok digunakan pada medan tempur perkotaan.

Total, TNI AD telah memesan 103 Leopard 2A4 bekas pakai milik Jerman. Tank-tank tersebut telah dipesan sejak Desember 2012 lalu. Selain tank tempur utama, Indonesia juga mendapat 42 kendaraan tempur infanteri tipe Marder 1A3 yang telah dimodifikasi dan 4 tank penderek jenis Büffel ARV, serta 3 tank pengangkut jembatan yang dimiliki militer Jerman. Menurut jurnal militer IHS Jane, pembelian itu juga melibatkan transfer teknologi dari Rheinmetall kepada PT. Pindad (Persero) Indonesia.

Leave a Comment