Hari Ini, Mengingatkan Soekarno Pidato Lahirnya Pancasila

Lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) pada 1 Juni 1945. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal “Pancasila” pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK tersebut.

Soekarno saat pidato lahirnya pancasila di dalam sidang Dokuritsu Junbi.

Di masa kini, Sebuah Perayaan Peringatan Pidato Bung Karno digelar hari ini di Bandung, Rabu, 1 Juni 2016. Ketua MPR Zulkifli Hasan mengatakan perayaan ini adalah momen untuk mengingat janji-janji kebangsaan, tidak hanya retorika atau pidato, tapi juga usaha mewujudkan nilai-nilai Pancasila secara bersama-sama oleh semua manusia Indonesia.

“Itulah yang harus menjadi perilaku budaya hidup manusia Indonesia sehari-hari. Karena itu, MPR sekuat tenaga mensosialisasi pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 45. Sekali lagi, agar empat konsensus dasar berbangsa bernegara itu menjadi perilaku kita,” kata Zulkifli setelah mengikuti gladi bersih Peringatan Pidato Bung Karno di Gedung Merdeka, Bandung, pada Selasa, 31 Mei 2016.

Ketua MPR Zulkifli Hasan dalam sebuah pidato di Istana Negara (Istimewa)

Berbeda dibanding peringatan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Zulkifli menilai semangat persaudaraan kebangsaan dan roh kebangsaan mulai memudar. Sebab itu, tahun ini diharapkan menjadi titik tolak kebangkitan bangsa.

“Anak-anak muda tidak mengerti simbol-simbol negara, tidak paham 1965 kita mengalami peristiwa kelam, tidak mengenal pahlawan-pahlawannya. Tentu itu mengkhawatirkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Karena itu, tahun ini, kalau bisa, menjadi titik tolak agar kita secara masif melakukan sosialisasi dasar berbangsa dan bernegara yang harus menjadi perilaku rakyat Indonesia.” (marksman/ sumber republika.co.id dan nasional.tempo.co)