Amerika Was-was, J-20 Black Eagle China sudah aktif bergabung gugus tempur

China telah memiliki sebuah pesawat tempur siluman, J-20. Namun, pesawat jet itu belum akan digunakan karena masih dalam tahap-tahap pengujian. J-20 Black Eagle China diharapkan bisa beroperasi penuh pada tahun 2018.

Angkatan Udara (AU) China menghatakan hal itu, Rabu (1/6/2016), setelah beredar foto jet tempur itu bergabung dalam armada aktif. China berharap J-20 akan mengurangi ketimpangan militer dengan Amerika Serikat (AS).

Para analis mengatakan, foto J-20 yang beredar itu menunjukkan bahwa China kemungkinan telah menjalani perkembangan yang lebih cepat dari perkiraan. Kemajuan dalam pengembangan pesawat itu dapat menyaingi pesawat F-22 Raptor yang mampu menghindari radar buatan Lockheed Martin, AS.

Dalam pernyataan dinyatakan, J-20 telah muncul di sejumlah latihan, menyusul siaran televisi nasional yang menunjukkan sejumlah gambar buram yang disebut sebagai J-20 oleh para pemirsa. Namun, AU China menyebut laporan tersebut sebagai “tidak bisa diandalkan”.

“Pada saat ini, J-20 belum digunakan untuk tugas AU,” kata  pihak AU China di situs remisnya Selasa (31/5/2016) sore.

Perbandingan fisik pesawat tempur yang dimiliki China.

Pihak AU China juga mengatakan, baik J-20 dan pesawat baru lainnya, pesawat pengangkut Y-20, masih berada dalam status uji coba terbang seperti yang telah direncanakan. “Dalam waktu dekat, J-20 dan Y-20 akan, secara berurutan, dipergunakan untuk tugas, yang secara efektif akan meningkatkan kemampuan AU untuk menjalankan tugas mereka,” tambahnya.

Para ahli mengatakan, China sedang berusaha keras untuk mengembangkan mesin mutakhir yang akan membuat jet tempurnya bisa menandingi kemampuan buatan Barat. Pesawat jet tempur J-20 Black Eagle produksi Chengdu Aircraft Industry Group, membenamkan teknologi manufaktur aditif (lebih dikenal sebagai 3D-printing) untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi dalam manufaktur pesawat tempur.

Karena itu J-20 diyakini memiliki kemampuan dua kali lipat (dogfighting) dalam melakukan serangan udara dan sangat diandalkan jika melawan negara lain, terutama Taiwan. Dalam konflik, J-20 kemungkinan akan dikerahkan di pertempuran udara ke udara dengan misi membatasi cakupan radar dan menyerang berbagai musuh.

Kini pertengahan 2016, Beijing terus berupaya meningkatkan penelitian dengan pesat dalam sektor perlengkapan militer baru, termasuk kapal selam, kapal induk, dan rudal anti-satelit, yang telah memicu kekhawatiran di wilayah sekitarnya dan di Washington. (marksman/ sumber : reuters, beritamiliterdunia.com)