Tiga Nelayan Filipina Mengaku Diserang Malaysian Navy

Manila – Tiga nelayan Filipina yang mengaku ditahan dan dipukuli pada tanggal 9 Mei 2016 oleh Angkatan Laut Malaysia, mendesak pemerintah Filipina untuk bertindak terhadap orang-orang yang menyerang mereka.

Nelson Flamiano, Arlon Sandro dan Teody Baisa, semua penduduk kota pesisir Subic di Zambales, kembali ke rumah pada hari Sabtu, setelah ditahan selama beberapa jam karena diduga memancing di perairan Malaysia.

Ketiganya merupakan bagian dari 22 awak kapal F/B Justin Lloyd mengatakan, mereka akan mengajukan keluhannya terhadap penangkapan pihak berwenang angkatan laut Malaysia, menurut laporan Manila Times.

Laporan tersebut mengutip Kapten kapal F/B Justin Lloyd, Martin Datingginoo yang mengatakan mereka saat itu memancing bersama di Commodore Reef, atau di sekitar Rizal Reef, markas detasemen Angkatan Laut Filipina, ketika mereka didatangi oleh personel Angkatan Laut Malaysia pada 9 Mei 2016.

Dia mengatakan pihak Malaysia memerintahkan mereka untuk menjauh dari perairan teritorial mereka, sambil menodongkan senjata api panjang mereka.

Datingginoo kemudian mengontak lewat radio ke stasiun Angkatan Laut terdekat Filipina di Palawan untuk mendapatkan bantuan, namun dia diberitahu untuk terus menuju detasemen Angkatan Laut Filipina di dekatnya.

Mendapatkan respon seperti itu, Datingginoo menginstruksikan tiga awak kapal untuk pergi mendekat kapal Malaysia dengan perahu kecil untuk menunjukkan dokumen mereka, tetapi nelayan itu malah ditangkap.

Baisa mengatakan kepada The Manila Times, mereka diborgol dan disuruh berlutut di dek kapal Malaysia saat mereka ditendang dan ditinju. Mereka dituduh melanggar perairan Malaysia.

“Cuaca sangat panas dan mereka membuat kami berlutut di dek kapal, untungnya badan saya tinggi dan luka saya tidak seburuk dua orang lain,” kata Flamiano.

Teody Baisa menunjukkan lututnya yang berbekas dengan luka yang dalam, Manila Times melaporkan.

Flamiano mengklaim bahwa dalam menendang dan meninju, Malaysia memastikan mereka tidak meninggalkan bekas, dan bahkan memeriksa jejak ini sebelum melepaskan ketiganya.

Teody Biasa bersikeras bahwa daerah mereka memancing selama bertahun-tahun ini, merupakan milik Filipina, dan bahwa ini adalah pertama kalinya mereka dicegah dari melakukan hal tersebut, ujar laporan itu.

Seorang wakil Angkatan Laut Filipina bertemu dengan nelayan di Subic pada hari Senin dan dengan perwakilan lokal lainnya untuk mempersiapkan protes resmi terhadap Angkatan Laut Malaysia, ujar laporan itu.

Sementara itu, Manila Times menambahkan, para pejabat Filipina telah menghubungi rekan-rekan mereka di Pemerintah Malaysia atas insiden tersebut.

Sumber : Freemalaysiatoday.com