Logistik Menipis, Kelompok Santoso Semakin Terjepit di Persembunyian

Kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso saat ini diperkirakan semakin terjepit setelah pasokan logistik dari Desa Sangginora digagalkan oleh aparat gabungan TNI dan Polri pada 9 Februari 2016. Akibat keterbatasan logistik tersebut, Santoso dan kawan-kawan dipastikan semakin kesulitan untuk terus bertahan bersembunyi di hutan Poso.

Densus 88 Mabes Polri saat menangkap 6 orang tersangka teroris pemasok logistik kelompok santoso cs di wilayah pegunungan Poso.

Oleh karena itu, pemerintah Pemerintah Kabupaten Poso Sulawesi Tengah siap memfasilitasi kelompok sipil bersenjata di Poso dengan pemerintah jika kelompok tersebut bersedia menyerahkan diri. Bupati Poso Darmin Sigilipu, mengatakan pemerintahannya sangat berharap agar Santoso dan kelompoknya dapat turun gunung dan menyerahkan diri kepada aparat keamanan dalam operasi Tinombala 2016, untuk mencegah kembali jatuhnya korban dari kedua belah pihak.

Prajurit TNI menyusuri jalan setapak dalam hutan untuk memburu kelompok Santoso di Desa Sedoa.

Pemerintah Kabupaten Poso siap memfasilitasi penyerahan diri tersebut. Selain imbauan, upaya lain untuk membujuk Santoso menyerahkan diri adalah membangun komunikasi dengan pihak keluarga untuk menyampaikan keinginan pemerintah itu kepada Santoso dan kelompoknya yang hingga kini masih bertahan di hutan.

“Segeralah bersama pendukungnya untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, paling tidak menyerahkan diri dengan baik-baik, lewat keluarganya, lewat jaringannya yang ada, kepada aparat baik Kepolisian maupun TNI..(yang) akan menerima dengan baik baik. Juga bisa lewat pemerintah daerah apabila mungkin takut dengan TNI, takut dengan teman teman Kepolisian,” kata Darmin kepada wartawan seusai memimpin Rapat Komunitas Intelijen Daerah Kabupaten Poso di Madale, Kecamatan Poso Kota Utara.

Menurut Darmin Sigilipu, operasi Tinombala dari aparat Kepolisian yang dibantu TNI, berdampak positif dengan membuat kelompok Santoso di Poso tercerai berai sehingga jumlah dari anggota kelompok itu telah berkurang dari 41 hingga kini hanya tersisa 23 orang.

Kelompok santoso cs kini diperkirakan hanya bersisa 23 orang. (Antara/Basri Marzuki)

Sementara di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah, AKBP Hari Suprapto mengatakan Kelompok Teroris Santoso diyakini masih bertahan di hutan pegunungan yang meliputi tujuh wilayah Kecamatan di Kabupaten Poso. Perburuan terhadap kelompok itu sendiri terus dilakukan dalam operasi yang melibatkan 3.000 personel gabungan TNI-Polri hingga seluruh anggota kelompok Santoso itu dapat tertangkap.

Sebulan sebelumnya, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola, juga sempat melontarkan ide yang sama seperti yang disampaikan oleh Bupati Poso, Darmin Sigilipu. Longki mengatakan dirinya siap memediasi Santoso dengan pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Pertahanan dan Keamanan seperti dalam penyelesaian konflik Gerakan Aceh Merdeka di Aceh.

Menurut Longki penyelesaian konflik keamanan di Poso tidak semata-mata dilakukan dengan pendekatan represif tetapi juga pendekatan kemanusiaan.Gubernur berharap upaya pencarian Santoso melalui operasi Tinombala 2016 yang berlangsung di Poso segera membuahkan hasil dalam waktu 90 hari sejak penempatan pasukan TNI-Polri di daerah itu pada 10 Januari 2016. Operasi tersebut merupakan kelanjutan dari operasi Camar Maleo IV. (marksman/ sumber : voaindonesia.com dan elshinta.com)