Home » Alutsita Canggih » Ternyata AS Bergantung pada Rusia untuk Luncurkan Satelit

Ternyata AS Bergantung pada Rusia untuk Luncurkan Satelit

Amerika Serikat (AS) ternyata masih menggunakan mesin roket RD-180 Rusia.

Pihak Pentagon masih tergantung pada penggunaan mesin roket Rusia karena dinilai merupakan pilihan paling layak untuk melindungi keamanan nasional AS.

Ketergantungan atas mesin roket Rusia itu, mendapat kecaman dari para senator AS. John McChain, yang dikenal paling vokal mengecam keras Pentagon yang tidak bisa lepas dari ketergantungan terhadap teknologi ruang angkasa Rusia.

Sejak tahun 2011, Senator yang juga Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat (SASC) AS dari Partai Republik itu, mengusulkan agar mengakhiri ketergantungan pada mesin roket Rusia.

Namun Pentagon bersikukuh bahwa mesin RD-180 Rusia sangat penting untuk menjaga satelit Pentagon tetap meluncur di trek. Jika tidak, maka pengorbitan bisa tertunda lebih dari dua tahun.

Dikutip dari Wall Street Journal, Wakil Menteri Pertahanan AS, Robert Work, telah menegaskan bahwa AS tidak memiliki anggaran untuk membuat alternatif guna mengakhiri ketergantungan terhadap mesin roket RD-180 Rusia.

Dalam sebuah surat kepada Senator Partai Demokrat, Bill Nelson, Work menulis bahwa untuk mengembangkan alternatif lain dari mesin Rusia, dibutuhkan biaya tambahan USD1,5 milIar menjadi USD5 milIar selama sekitar enam tahun.

 “Beban tersebut, akan mendesak investasi penting pada (kepentingan) keamanan nasional lainnya,” tulis Work.

Work menambahkan, jika kontrak pembelian mesin RD-180 dibatalkan, maka tidak jelas apakah  ULA akan memiliki dana yang cukup tersedia untuk terus berinvestasi dalam peluncuran roket domestik, atau bahkan untuk bertahan dalam bisnis tersebut.

Saat ini produsen mesin roket RD-180 NPO Energomash Rusia masih terikat kontrak untuk memasok mesin roket kepada United Launch Alliance (ULA), perusahaan patungan Lockheed Martin dan Boeing dalam meluncurkan roket Atlas V.