Korea Utara Siapkan Skema Perang Berskala Besar, Melalui Uji Coba Bom Nuklir ke-5 Terbaru

Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) melaporkan bahwa rezim Korea Utara telah mengaktifkan kembali pabrik pengolahan plutonium yang membuat negara itu bakal memiliki bom nuklir terbaru di tahun 2017. Pernyataan dari IAEA itu dikeluarkan menyusul laporan pencitraan satelit yang menunjukkan adanya aktivitas di fasilitas Yongbyon yang telah ditutup pada tahun 2007.

Seorang warga menyaksikan ledakan tes nuklir Korea Utara dari sebuah televisi di stasiun kereta Seoul, Korea Selatan, Rabu (6/1). Uji coba bom hidrogen Korea Utara ini menyebabkan gempa berkekuatan 5,1 skala richter dan menghebohkan negara tetangga seperti Korea Selatan dan China. (AFP)

Direktur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Yukiya Amano, mengatakan Selasa (7/6), ada indikasi Korea Utara memang mengolah kembali bahan bakar nuklirnya. Laporan IAEA ini semakin memicu kekhawatiran bahwa Korut yang dipimpin Kim Jong-un benar-benar mempersiapkan perang bersekala besar.

Menurut Badan Pengawas Nuklir PBB itu, aktifnya kembali pabrik pengolahan plutonium yang digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir Korut terpantau oleh citra satelit. Laporan IAEA ini menguatkan laporan serupa sebelumnya dari kelompok think tank yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

”Indikasi yang telah kita diperoleh dari kegiatan yang berkaitan dengan reaktor lima megawatt, ada perluasan fasilitas pengayaan dan kegiatan yang berkaitan dengan pengolahan plutonium,” kata Direktur IAEA, Yukiya Amano, saat konferensi pers di Wina.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, saat memberi pengarahan pada perwira militer Korut.(Reuters/KCNA)

”Namun, karena kami tidak memiliki inspektur di lapangan, kami hanya mengamati melalui citra satelit. Kami tidak bisa mengatakan itu dengan pasti, tapi kami memiliki indikasi ada kegiatan tertentu melalui citra satelit,” katanya lagi, seperti dikutip Sputniknews, Selasa (7/6).

Secara khusus, citra satelit memantau adanya gerakan kendaraan, debit uap, dan transportasi bahan yang konsisten dengan proses pengayaan plutonium. Reaktor nuklir Yongbyon di Korut sebenarnya telah dinonaktifkan pada tahun 2007 di bawah perjanjian bantuan untuk perlucutan senjata, tetapi rezim garang Kim Jong-un memindahkannya untuk merenovasi pabrik itu setelah uji coba senjata nuklir yang ketiga pada tahun 2013.

Berdasarkan catatan IAEA, Rezim Pyonyang telah melakukan uji coba senjata nuklir yang keempat kalinya pada tanggal 6 Januari 2016. Atas ulah Korea Utara itu, Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye telah memerintahkan pihak militernya untuk bersiaga menghadapi uji coba nuklir Korea Utara yang ke-5. “Korea Selatan telah mencium tanda-tanda bahwa Korea Utara tengah mempersiapkan uji coba nuklir kelima,” kata Presiden Park Geun-hye.

Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye, memperingatkan Angkatan Perangnya untuk bersiap hadapi Korea Utara.

Namun demikian, Park Geun-hye tidak merinci secara detail tanda-tanda apa yang menunjukkan adanya uji coba nuklir, tapi dia sudah memerintahkan militer Korea Selatan untuk bersiap, lapor kantor berita Yonhap. Peringatan ini muncul setelah adanya berbagai laporan di media lokal tentang peningkatan aktivitas di lokasi uji coba nuklir di Punggye-ri, tempat uji coba nuklir dilakukan sebelumnya.

Peringatan serupa juga muncul dari, Direktur Intelijen Nasional AS, James Clapper, yang mengingatkan pihak Korea Selatan untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat Korea utara bisa membuat senjata nuklir dalam hitungan minggu sampai bulan.

Pada bulan Mei lalu, Korea utara mengklaim telah berhasil memproduksi miniatur hulu ledak nuklir, sebagai langkah yang diperlukan untuk membuat rudal balistik antarbenua atau ICBM. “Korut selama ini mengancam akan menyerang wilayah AS dan Korea Selatan dengan senjata nuklirnya, ” tegas James Clapper. (marksman/ sumber  : sindonews.com, voaindonesia.com, dan bbc.com)