Project Pesawat Tempur KF-X Terlalu Tergantung AS

Ketergantungan yang besar Korea Selatan pada persenjataan buatan AS telah muncul kembali dalam proyek pengembangan jet tempur siluman KF-X, pihak pembuat pesawat tampaknya mencari kemajuan yang cepat dengan menggunakan produk buatan AS yang sudah familiar daripada memilih cara baru.

Tapi para kritikus mengkhawatiran ketergantungan pada produk dan teknologi dari Washington bisa menempatkan Korea Selatan pada posisi yang tidak menguntungkan di masa depan ketika ingin mengekspor jet tempur KF-X.

Proyek KF-X merupakan pengembangan jet tempur canggih bermesin ganda buatan Korea pada tahun 2026 yang akan menggantikan armada F-4 dan F-5 yang sudah tua.

Pada tanggal 26 Mei, General Electric (GE) memenangkan lelang melawan Eurojet Eropa untuk memasok mesin ganda untuk jet tempur Seoul. Mesin GE F414-GE-400 mengungguli mesin EJ200 Eurojet, meningkatkan pengaruh AS pada proyek KF-X yang sudah didorong ke depan dengan bantuan dari perusahaan pertahanan Lockheed Martin.

Pemerintah AS sepakat pada bulan Desember untuk mengijinkan Lockheed Martin mentransfer sekitar 21 teknologi yang terkait dengan jet tempur F-35, termasuk sistem kontrol penerbangan ke Korea Selatan dalam pertukaran untuk pembelian 40 jet tempur siluman F-35 Lightning II pada tahun 2014.

Selama tawaran lelang antara GE dan Eurojet, beberapa kritikus meminta pemerintah untuk memilih perusahaan Eropa karena khawatir Washington mungkin akan membatasi ekspor pesawat tempur KF-X ke negara-negara yang di anggap Washington sebagai ancaman.

Mereka juga mengutip janji Eurojet untuk mentransfer beberapa teknologi ke Korea jika terpilih sebagai pemasok mesin. Tapi GE memenangkan seperti yang diharapkan.

Pengamat pertahanan mengatakan kemenangan GE diperkirakan sampai batas tertentu, karena Defense Acquisition Program Administration (DAPA) dan Korea Aerospace Industries (KAI) tampaknya berusaha untuk membuat pilihan yang aman untuk mengurangi risiko sebanyak mungkin.

KAI sudah terbiasa dengan produk GE, setelah menggunakan produk buatan GE untuk pesawat latih supersonik T-50 dan helikopter utilitas Surion.

Pengamat mengatakan sikap menghindari risiko sehingga memilih produk yang sudah akrab diperkirakan akan terus berlanjut untuk pilihan perangkat lainnya seperti radar active electronically scanned array (AESA).

Pada tanggal 20 April, Hanwha Thales terpilih sebagai pemenang lelang untuk menghasilkan radar AESA untuk KF-X. Dapa mengatakan perusahaan Korea di bawah pengawasan Agency for Defense Development (ADD) akan terus maju mengembangkan dan memproduksi radar AESA, peralatan penting yang membantu pilot mengidentifikasi teman atau musuh dalam pertempuran dan mencari target dipermukaan.

Kemudian pada 18 Mei, Dapa juga membuka kemungkinan membeli radar AESA dari negara-lain apabila pengembangan di dalam negeri gagal.

Namun ketika ditanya di mana Korea akan membeli radar dari luar, CEO dan Presiden KAI, Ha Sung-yong menjawab, “Amerika Serikat.”

Jawaban yang terdengar terlalu yakin, mengingat karena perusahaan Selex dari Inggris, SAAB Swedia dan ELTA dari Israel juga tertarik untuk mengembangkan radar AESA bersama Korea .

Para kritikus mengatakan Korea bisa dihadapkan dengan masalah sulit karena ketergantungan yang berat pada persenjataan dan teknologi dari AS dalam proyek KF-X ketika mencoba untuk mengekspor jet tempur ke luar negeri.

Sebuah sumber di sektor pertahanan mengutip ekspor jet tempur latih T-50 sebagai contoh. KAI ikut mengembangkan T-50 Golden Eagle pada tahun 2006 dengan Lockheed Martin, menggunakan teknologi inti perusahaan AS, termasuk sistem avionik dan mesin.

Karena itu Korea harus mendapatkan persetujuan dari pemerintah AS untuk mengekspor pesawat sesuai dengan Arms Export Control Act dari Pemerintah AS.

“Teknologi Lockheed Martin yang termasuk dalam pengembangan T-50. Jadi, upaya Korea untuk mengekspor T-50 ke negara-negara tertentu sering menghadapi pembatasan karena penolakan Washington untuk mengeluarkan izin ekspor,” kata sumber itu.

Pada tahun 2015, pemerintah AS dikabarkan menolak mengizinkan Korea untuk mengekspor T-50 senilai US$ 400 juta ke Uzbekistan, khawatir kemungkinan terjadi kebocoran teknologi dan kebijakan diplomatik.

Korea sangat bergantung pada persenjataan produk AS sejak tahun 1970-an. Menurut laporan dari Stockholm International Peace Research Institute, 80 persen persenjataan yang diimpor Korea pada tahun 2008-2013 merupakan produk buatan Amerika Serikat.

“Ketergantungan Seoul pada sistem persenjataan AS berasal dari sejumlah situasi yang rumit, seperti pembagian dan ketegangan antara dua Korea, aliansi Seoul-Washington, tekanan dari Amerika Serikat, dan kurangnya teknologi dalam negeri,” kata seorang pejabat militer Korea Selatan.

Namun para ahli mengatakan ketergantungan yang besar pada Washington dapat melemahkan independensi militer Korea Selatan dan mengakibatkan kerugian ekonomi jika Seoul terus terseret oleh AS selama proses pembelian persenjataannya.

“Pemerintah harus menahan diri dan tidak terburu-buru untuk menghasilkan hasil yang nyata dalam waktu singkat dan harus membuat peta jalan jangka panjang untuk mengembangkan teknologi dalam negeri,” kata Kim Dae-young, seorang peneliti senior Korea Defense and Security Forum.

KoreaTimes