Lelang Peninggalan Nazi Munculkan Kontroversi

Sejumlah benda-benda bersejarah milik para petinggi Nazi Jerman akan dilelang di Munich, Kamis (16/6/2016). Seperti dikutip dari Dailymail, acara yang digelar oleh rumah pelelangan Hermann Historica Munich ini akan menjadi salah satu pelelangan benda-benda peninggalan Nazi terbesar yang pernah digelar.

Koleksi peninggalan Nazi yang akan dilelang kali ini didapat dari seorang kolektor bernama American John K. Lattimer, seorang ilmuwan urologi asal New York, Amerika Serikat. Sebelum meninggal dunia sembilan tahun silam, Lattimer diketahui memang hobi mengoleksi barang-barang bersejarah Nazi.

Koleksi seperti kaus kaki dan dasi Hitler, sepatu boot dan celana dalam milik Hermann Goering, serta tali yang digunakan untuk menggantung tawanan Nazi akan dihadirkan dalam pelelangan ini. Celana dalam milik orang nomor dua Nazi setelah Hitler, yang terbuat dari sutera dengan bordir inisial nama “HG” ini menjadi salah satu barang yang dibanderol dengan harga cukup tinggi, yaitu mulai dari harga € 500 atau setara dengan Rp 7,5 juta.

Ikut dilelang pula sebuah koper berisi kapsul sianida, yang rencananya akan digunakan Goering untuk bunuh diri, di malam sebelum ia dihukum gantung pada tahun 1946. Koper berisi kapsul sianida ini akan dilelang mulai dari harga €25.000 atau sekitar Rp 375 juta.

Tak ketinggalan, sebuah gaun indah milik kekasih Hitler, Eva Braun juga ikut dilelang. Lelang memorabilia Nazi seperti ini memang kerap dilakukan di Jerman. Namun, pelelangan kali ini mendapat kecaman keras dari kelompok Yahudi Jerman. Walikota Munich bahkan telah meminta agar lelang tersebut dibatalkan.

“Saya meminta rumah lelang membatalkan acara itu, atau setidaknya memastikan benda-benda yang dilelang tidak disalahgunakan untuk memuliakan Nazi,” ungkap Dieter Reiter, walikota Munich kepada majalah Spiegel.
Penyelenggara lelang, Hermann Historica sendiri menyatakan akan memeriksa latar belakang para peserta lelang dan memastikan tidak ada pembeli yang merupakan bekas anggota Nazi ataupun tercatat sebagai anggota Neo-Nazi.

Kontroversi terkait acara pelelangan ini didasari adanya publikasi sebuah studi, yang belum lama ini muncul dan mengungkap bahwa angka dukungan terhadap kelompok sayap kanan atau Neo-Nazi semakin meningkat. Dengan adanya pelelangan ini, sejumlah pihak khawatir benda-benda ini dilelang untuk tujuan menyebarkan ideologi tertentu.

Kekhawatiran ini didukung pula dengan maraknya gelaran aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh ribuan warga Jerman yang tergabung dalam gerakan Neo-Nazi belakangan ini. Sabtu, 4 Juni 2016 lalu, kelompok Neo-Nazi ini menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Kota Dortmund, Jerman. Dalam aksi ini, mereka menyebarkan misi untuk menghidupkan kembali semangat Nazi dengan sasaran baru, bukan lagi antikaum Yahudi, melainkan anti-imigran dan umat Muslim karena dianggap telah merusak budaya asli Jerman. Aksi serupa juga pernah terjadi pada 6 Februari 2016 lalu.

Meskipun gerakan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintahan Angela Merkel, kelompok yang menyatakan diri sebagai Neo-Nazi ini tetap konsisten melakukan aksi unjuk rasa di berbagai kota di Jerman. Gejolak islamofobia di kalangan warga Jerman ini muncul setelah pemerintah Jerman memutuskan untuk menerima sekitar lebih dari satu juta imigran dari Syria dan negara Timur Tengah lainnya.