Home » Alutsita Canggih » Inilah Buku Kuno yang Jadi Dasar China “Klaim” Laut China Selatan

Inilah Buku Kuno yang Jadi Dasar China “Klaim” Laut China Selatan

Buku kuno yang dijuluki “holy grail” ini diklaim ditulis lebih dari 600 tahun silam. Buku kuno tulisan tangan inilah yang jadi jadikan pijakan China sebagai pemilik hampir seluruh kawasan Laut China Selatan yang kini disengketakan banyak negara.

Buku tersebut juga diklaim China sudah jadi warisan turun-temurun nelayan China sejak ditulis. Buku itu merupakan panduan navigasi tradisional yang dikenal sebagai “genglubu”.

Dalam buku tersebut terdapat petunjuk navigasi ke kepulauan Spartly di Laut China Selatan yang diklaim China dengan nama Kepulauan Nansha dan Huangyan. Namun oleh Filipina dan Taiwan juga diklaim dengan nama Scarborough Shoal.

”Buku ini tidak mudah untuk dipahami atau diuraikan, karena menggunakan kata-kata kuno dan ungkapan kuno untuk petunjuk. Tapi begitu ‘kode’ terpecahkan, akurasinya perlu dipertanyakan,” tulis China Daily yang mengulas tentang buku kuno tersebut, Kamis (23/6).

Pemilik buku kuno ini adalah seorang pensiunan kapten kapal nelayan berusia 81 tahun bernama Su Chengfen, yang tinggal di Kota Tanmen, Provinsi Hainan. Kepada media pemerintah China, ia mengaku mewarisi buku kuno itu dari ayahnya ketika dia menjadi kapten kapal pada usia 23 tahun. Su mengatakan ayahnya diberi buku oleh kakeknya.

”Saya mengandalkan itu selama bertahun-tahun sampai saya punya peta modern dari Laut China Selatan pada tahun 1985,” katanya.

Menurut ulasan media China, ada sekitar 1.000 “genglubu” yang beredar, tetapi akademisi memperkirakan hanya sekitar selusin yang masih ada. Dari jumlah itu, buku milik Su dianggap sebagai yang paling rinci dan penting.

Gao Zhiguo, Direktur Institut China untuk Strategi Pembangunan Kelautan, yang jadi ahli di Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut, menyebut buku kuno tersebut sebagai ”bukti besi berlapis”.

”Kami dapat menyimpulkan hak bersejarah China untuk memancing dan berlayar di Laut China Selatan, serta (hak) berdaulat. Salah satu buku tentang genglubu mengalahkan seribu kata,” ujarnya.

Menurut Gao yang juga bertugas sebagai hakim di Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut tersebut, buku itu memang merupakan sebuah bukti kuat yang bisa memberikan informasi mengenai sejarah nelayan China dan hak-hak berlayar di LCS sekaligus kepemilikannya.

Sementara Zhou Weimin, mantan profesor Hainan University dan penulis buku tentang genglubu berjudul An Arcane Book About The South China Sea mengatakan buku milik Su adalah “bukti tak terbantahkan kedaulatan China atas Kepulauan Huangyan”.

”Tidak seperti versi lain (dari genglubu), itu menggambarkan rute yang tepat menuju Kepulauan Huangyan. Ini jelas membuktikan bahwa generasi nelayan China telah bekerja di pulau itu,” katanya. Zhou mengatakan nelayan China di zaman kuno menyebut ada 136 pulau dan terumbu karang di berbagai genglubu, dan itu masih banyak yang digunakan sampai sekarang.

Saat ini, China yang mengklaim hampir seluruh wilayah di LCS bersengketa dengan lima negara lainnya yaitu Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam yang juga memiliki klaim di perairan penting itu. Sengketa itu menyebabkan ketegangan di lokasi yang banyak dilintasi oleh kapal-kapal dagang dari seluruh dunia. (marksman/ sumber : sindonews.com dan okezone.com)