Home » Alutsita Canggih » Serangan Gerombolan Drone ‘Anjing Hutan’ Lebih Berbahaya daripada Rudal Anti Kapal

Serangan Gerombolan Drone ‘Anjing Hutan’ Lebih Berbahaya daripada Rudal Anti Kapal

Apa yang akan terjadi ketika segerombolan drone yang terbang lambat dan rendah menyerang sebuah kapal perang modern?

Dengan sistem pertahanan udaranya yang canggih, kapal perang modern kini mampu untuk merontokkan rudal jelajah supersonik dan jet tempur musuh yang terbang cepat menyerang, bandingkan dengan serangan drone kecil yang akan mudah ditembak, seperti menembak sasaran kalkun terbang.

Tapi benarkah seperti itu kenyataannya, ataukah sebaliknya yang akan terjadi ? Skenario dibawah ini yang akan menjawab sebaliknya.

Angkatan Laut AS telah menganalisa ancaman dalam sejumlah makalah di Naval Postgraduate School. Makalah ini membeberkan skenario sederhana:

Dalam sebuah simulasi, destroyer Angkatan Laut diserang oleh sekitar sembilan sampai sepuluh drone yang datang secara bersamaan dari semua arah dalam cuaca cerah. Drone diasumsikan terbuat dari komponen murah yang mudah didapatkan dipasaran, dikendalikan secara rahasia dari sebuah kapal nelayan di dekatnya. Beberapa dari mereka dikendalikan secara visual, sedangkan yang lainnya dikendalikan dengan bimbingan radar.

Sistem pertahanan udara kapal perusak sudah disiap siagakan. Sistem pertahanan udara Aegis adalah salah satu sistem pertahanan yang terbaik di dunia, dengan perangkat sensor dan senjata yang terintegrasi termasuk perangkat jammers, flare, rudal permukaan ke udara Standard Missile (SM), meriam lima inci dan dua sistem senjata Phalanx yang masing-masing dilengkapi kanon multibarel 20 mm, juga dilengkapi dengan enam senapan mesin berat di dek.

Drone kecil ternyata memiliki jejak radar yang kecil dan pada saat drone sudah terlalu dekat, destroyer AS akan kesulitan menembaknya dengan rudal atau meriam 5 inchi, bahkan jammer AEGIS tidak dirancang untuk mempengaruhi sistem kontrol drone.

Semua upaya merontokkan drone ternyata hanya dapat dilakukan oleh sistem Phalanx dan senapan mesin dari jarak dekat. Dengan drone yang datang menyerang dengan kecepatan 200 km/jam, tim pertahanan udara hanya memiliki waktu lima belas detik saat drone mulai mendekat (kurang dari satu mil) dan dampaknya sungguh mengagetkan! Tim pertahanan hanya berhasil menembak beberapa drone yang datang dari arah yang berbeda, beberapa drone lainnya berhasil lolos tanpa kerusakan sama sekali.

Tim Angkatan Laut AS melakukan beberapa ratus simulasi, dan menemukan rata-rata 2,8 dari delapan drone penyerang berhasil lolos dari sergapan pertahanan kapal perang. Bahkan saat pertahanan udara ditingkatkan – dengan sensor yang lebih baik dan tambahan senapan mesin dan senjata Phalanx – setidaknya satu drone berhasil menembusnya. Itu baru menggunakan delapan drone yang menyerang, bagaimana dengan drone yang lebih banyak – sepuluh, dua puluh, lima puluh – tim pertahanan diperkirakan hanya dapat merontokkan tujuh drone pertama yang menyerang.

Kelemahan pertahanan udara ini yang akan dimanfaatkan Angkatan Laut AS. Mengembangkan drone LOw-Cost Unmanned aerial vehicle Swarming Technology (LOCUST) yang bernama ‘Coyote’ dan berharga murah, sekitar US$ 15.000 untuk satu drone, bandingkan dengan rudal Harpoon yang seharga US$ 1.2 juta atau bisa dikatakan AS bisa menerjunkan puluhan drone dalam satu kali serangan dibandingkan dengan satu rudal Harpoon.

Tiga puluh drone dapat terbang bersama-sama dalam satu serangan. Seperti kawanan burung, operator dapat mengendalikan seluruh kawanan drone sebagai satu kesatuan tanpa harus mengendalikan satu persatu.

Drone memang membawa hulu ledak lebih kecil, tapi serangan drone lebih berbahaya daripada rudal berhulu ledak besar karena drone menyerang sasaran vital kapal perang seperti sistem radar dengan lebih akurat.

DefenceTech