Sejarah Pembangunan Pesawat Tempur India

Bicara tentang pesawat terbang, kadang terasa miris di hati. Ketika BJ Habibie akan mengangkat bangsa Indonesia ke tataran yang lebih tinggi dengan pesawat N250, maka di situlah awal petaka terjadi. Ekonomi Indonesia ambruk oleh Krisis 1998. Presiden Soeharto pun, akhirnya menuruti saran dari IMF untuk menghentikan proyek prestisius tersebut. Pegganti Presiden Soeharto adalah BJ Habibie. Namun dia mendapatkan negara dalam kondisi ekonomi yang porak poranda. Tentu tidak ada waktu bagi dia untuk menghidupkan kembali pesawat N-250 yang sudah terbang, melainkan sibuk merecovery perekonomian Indonesia yang ambruk.

Kisah pesawat terbang Indonesia itu, semoga menjadi pelajaran ke depan, terkait kerjasama pembangunan pesawat tempur KFX/IFX antara Indonesia dan Korea Selatan.

Tampaknya membuat pesawat terbang memang tidak mudah. Banyak aral melintang yang harus dilalui. Kecerdasan bukan satu satunya modal, melainkan diperlukan juga kecerdikan dalam lobby-lobby tingkat tinggi, selama Anda belum menguasai semua ilmu pembuatan pesawat tersebut.

India kita kenal telah menjadi negara dengan kemampuan teknologi dan kedirgantaraan yang mumpuni. Namun meski demikian mereka harus menungu 30 tahun, sebelum pesawat tempur ringan buatan dalam negeri Tejas, bergabung ke jajaran Angkatan Udara India, 1 Juli 2016.

Pesawat Tempur Ringan Tejas India

Pesawat Tejas India dimulai dibangun pada tahun 1985 dan direncanakan bergabung dengan Angkatan Udara pada tahun 1994. Namun proyek itu kemudian tertunda akibat berbagai hal dan baru terbang perdana tahun 2001. Meski telah terbang, Angkatan Udara India tidak mau menggunakannya karena dianggap tidak memenuhi kualifikasi dasar yang dipatok India, alias masih lemah dan didera berbagai masalah.

India akhirnya mendapatkan pertolongan dari Israel untuk urusan radar multi mode Elta 2032, penargetan sasaran yang advanced, pod laser dan rudal udara ke udara Derby. Namun kesadaran itu mereka dapatkan setelah 25 tahun bergelut mengutak atik pesawat tempur HAL Tejas.

Setelah 30 tahun berlalu, India memutuskan 18 pesawat tempur Tejas akan bergabung dengan IAF pada tahun 2018, walau sejauh ini baru dua pesawat yang diserahkan. Pada tahun 2022 ditargetkan menggantikan armada pesawat MiG India.

Pesawat Tempur Ringan Tejas India Pesawat Tempur Ringan Tejas India

Karena waktu untuk memproduksinya selama 30 tahun, maka bisa dikatakan, pesawat ini lahir sudah sangat terlambat. Pesawat dengan single engine ini, bisa dikatakan lebih menyerupai pesawat latih atau light fighter. Namun India tampaknya ingin merampungkan apa yang telah mereka mulai, untuk pesawat Tejas ini.

Untuk itu tidak heran, India kini juga sedang berusaha terlibat kerjasama dengan Rusia, dalam membangun pesawat tempur generasi kelima FGFA, yang merujuk pada basis PAK FA T-50 Rusia. Namun pembangunan pesawat ini juga masih bermasalah. PM India sempat mengeluarkan kritiknya, Rusia hanya mau uangnya tanpa mau membagi teknologi pesawat generasi kelima tersebut kepada India. Apakah nasib pesawat Gen 5 India, akan mirip dengan Tejas ?.

Pesawat Tempur Ringan Tejas India

Indonesia dan Korea Selatan kini, telah memulai pembangunan pesawat Gen 4,5 yang akan terus dikembangkan menjadi Gen 5, untuk pesawat KFX/IFX. Proyek pesawat itu pun sebenarnya telah mengalami keterlambatan. Untunglah dalam beberapa tahun terakhir kedua negara menguatkan kembali komitmennya, untuk membangun pesawat ini. Model pesawat KFX/IFX telah menjalani proses wind tunnel. Radar dan mesin pesawat juga telah dipilih. Rencananya, prototype pertama diperkenalkan ke publik tahun 2019-2020. Dan pada tahun 2020, pesawat ini akan diproduksi di Indonesia.

Semoga proyek pesawat komersial N-250 PTDI dan HAL Tejas India, menjadi pelajaran dari proyek prestisius Korea Selatan-Indonesia ini.