Home » Militer Indonesia » Demi Sukhoi Su-30, Biar Tekor Yang Penting Kesohor

Demi Sukhoi Su-30, Biar Tekor Yang Penting Kesohor

Angkatan Udara negara-negara Afrika royal dalam belanja pesawat tempur ‘High-Tech’ . Menghasilkan pendapatan dari minyak, banyak negara Afrika menginvestasikan dana besar membeli pesawat tempur modern multirole, helikopter tempur mematikan dan sistem rudal pertahanan udara canggih.

Beberapa pembelian paling menarik adalah pesawat tempur modern dari Rusia. Sukhoi Su-30 “Flanker-C” adalah jet tempur favorit negara-negara Afrika. Hanya dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Afrika bersama-sama telah membeli tidak kurang 50 pesawat tempur Su-30MK.

Aljazair dan Uganda sudah memiliki Su-30, dan yang terbaru 18 Su-30 yang dimiliki Angola. Dengan harga sekitar US$ 37 juta untuk pesawat tempur bermesin ganda multirole, tentu bukan sebuah harga yang murah bagi negara-negara yang masih memiliki peringkat rendah pada indeks pembangunannya.

Su-30 adalah pesawat tempur multirole yang sangat canggih dengan kemampuan sebanding dengan F-15E Strike Eagle buatan AS. Memiliki radar yang kuat, jangkauan tempur 3.000 kilometer dan dilengkapi beragam persenjataan mematikan. Di Afrika, hanya Afrika Selatan yang memiliki 26 jet tempur JAS-39C Gripen yang sebanding dengan Su-30.

Pesawat-pesawat tempur baru ini adalah permata dan mahkotanya kekuatan udara Afrika, tetapi Su-30 bukanlah kekuatan udara modern satu-satunya yang dimiliki negara-negara Afrika. Berbagai sistem senjata modern lainnya masih akan datang ke benua hitam tersebut, setidaknya 64 helikopter serang Mi-24 sudah dipesan negara Republik Demokratik Kongo, Nigeria dan Sudan.

Hanya saja negara-negara tersebut memiliki kesulitan pada pemeliharaannya. Sudah sejak lama Angkatan Udara Afrika kesulitan dengan biaya pemeliharaan pesawat tempurnya terutama untuk membeli suku cadang, bahan bakar dan minimnya pilot dan teknisi profesional yang merawat.

Sebagai contoh, Afrika Selatan telah menggrounded sebagian Gripennya karena biaya operasionalnya yang mahal. Negara-negara Afrika juga kesulitan mencari pilot berkualitas untuk menerbangkan helikopter dan pesawat tempur karena mahalnya pelatihan pilot profesional.
.

Tags: