Home » Alutsita Canggih » Penumpang Muslim Diusir dari Maskapai Penerbangan AS

Penumpang Muslim Diusir dari Maskapai Penerbangan AS

Mohamed Ahmed Radwan, pria ini dikeluarkan dari pesawat American Airlines di bandara Charlotte, North Carolina, Amerika Serikat (AS) lantaran identitasnya sebagai seorang Muslim. Sebelum dipaksa keluar pesawat, Radwan terus diawasi khusus oleh pramugari.

Insiden tersebut dialami pria asal Mesir ini pada Desember tahun lalu, namun baru diungkapnya 20 Juli lalu.
Perlakuan maskapai American Airlines saat itu membuat Radwan merasa tersudut dan terhina. Mulanya, Radwan yang merupakan pengusaha asal Florida ini menempati kursi pesawat sesuai yang dia pesan, yaitu kursi 25-A.

Tidak lama, seorang pramugari mengumumkan nama, nomor tempat duduknya dan mengatakan bahwa pramugari itu akan mengawasi Radwan. Pengumuman itu dilakukan dengan pengeras suara dan dilakukan berulang kali.

”Mohamed Ahmed, kursi 25-A. Saya akan mengawasi Anda,” bunyi suara dari pengeras suara di pesawat tersebut.

Dari semua penumpang, hanya Radwan yang diperlakukan seperti itu. Radwan kemudian menyadari bahwa dia diasingkan di antara penumpang lain karena etnis dan agamnya. Padahal, Radwan sudah menetap di AS selama 20 tahun dan telah resmi menjadi warga negara AS secara terhormat.

Bermaksud mendapatkan kejelasan atas tindakan si pramugari, Radwan akhirnya mendekati pramugari tersebut dan menanyakan maksud dan tujuan ucapannya. Namun, si pramugari mengelak serta berdalih memperhatikan semua orang, dan malah menuduh Radwan terlalu sensitif.

Merasa tidak nyaman, Radwan pun mengadukan tindakan pramugari itu kepada karyawan American Airlines lain. Namun, alih-alih mendapatkan pembelaan, kapten pilot pesawat justru memerintahkan agar Radwan dikeluarkan dari pesawat karena dianggap membuat pramugari “tidak nyaman”.

Setelah melakukan percakapan dengan staf American Airlines, Radwan malah dikawal untuk meninggalkan pesawat. Ia pun terpaksa memesan penerbangan pada malam harinya, menggunakan maskapai yang berbeda.

Kini, Radwan menuntut keadilan dengan dukungan dari Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi advokasi Muslim di AS. Organisasi pembela hak-hak sipil Muslim di AS itupun mendesak Departemen Perhubungan untuk menyelidiki “pengusiran” Radwan dari penerbangan American Airlines sebagai perlakuan bias dan cenderung diskriminatif.

Sementara itu, pihak maskapai American Airlines justru tidak memberikan komentar apapun. Juru bicara American Airlines justru mengatakan bahwa mereka tidak melakukan diskriminasi dalam kasus itu.

“American Airlines telah dihubungi oleh CAIR awal tahun ini. Kami meninjau tuduhan ini dan menyimpulkan tidak ada diskriminasi yang terjadi. Kami melayani pelanggan dari barbagai latar belakang dan keyakinan, dan tidak menoleransi diskriminasi dalam bentuk apa pun,” ujarnya.

Namun, pihak CAIR mengungkapkan bahwa pengalaman Radwan sesuai dengan pola yang mengganggu dari maskapai penerbangan AS, yakni wisatawan yang bepergian menggunakan pesawat telah dipilih dan kadang-kadang didepak dari penerbangan hanya karena agama atau etnis mereka. Menurut Dewan Hubungan Amerika-Islam CAIR, pengusiran Radwan merupakan bentuk diskriminasi dan rasialisme yang seharunya tidak terjadi di dalam pesawat.

”Banyak kasus yang kita lihat, mereka gagal untuk memberikan alasan objektif yang wajar atau penjelasan, dan mereka melakukannya hanya didasarkan pada ketakutan yang tidak berdasar atau spekulasi,” kata Maha Sayed, seorang pengacara CAIR yang menangani kasus Radwan.

Sayed juga menambahkan tindakan pengusiran penumpang Muslim atau mereka yang memiliki latar belakang Timur Tengah tanpa alasan jelas dan penjelasan yang objektif merupakan insiden yang sungguh memprihatinkan.

Pasalnya, insiden pengusiran seperti itu bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, seorang wanita Muslim juga pernah diusir dari pesawat maskapai Southwest Airlines di bandara Chicago, AS hanya karena ia meminta tukar tempat duduk. Alasan maskapai penerbangan mengusirnya karena wanita tersebut dianggap membuat pramugari “tidak nyaman”.

Pada Maret lalu, keluarga Muslim yang terdiri dari lima orang digiring keluar dari pesawat United Airlines karena penampilan mereka. Padahal saat itu, salah seorang dari mereka hanya bertanya soal sabuk keselamatan bagi anak-anak. Kemudian, pilot justru meminta mereka meninggalkan pesawat dengan “alasan keamanan”.