Setelah Insiden Jatuhnya J-15, China Pamer Liaoning dengan Armada Udara J-15

Shenyang J-15. (Garudtejas7 via commons.wikimedia.org)

Tak lama setelah mengumumkan kecelakaan tragis pesawat tempur maritim J-15 yang menewaskan pilotnya, PLAN merilis foto kapal induk Liaoning dengan jejeran 8 J-15.

Bagi kebanyakan orang China, kapal induk dan kekuatan pesawat tempur berbasis kapal induknya merupakan unit militer yang paling misterius.

Hanya sejumlah kecil orang di luar militer China yang telah diundang untuk mengunjungi Liaoning. Orang lain hanya dapat melihat kapal induk dan pesawat tempurnya sekali atau dua kali setahun di berita TV.

Satu-satunya kesempatan pesawat tempur maritim J-15 tampil secara terbuka hanya selama parade militer 3 September tahun lalu yang menandai peringatan 70 tahun berakhirnya Perang Dunia II dan kemenangan China dalam Perang Perlawanan terhadap Agresi Jepang (1937-1945).

Pagi itu, lima jet tempur J-15 “Flying Shark”, yang dipimpin oleh Kapten Senior Dai Mingmeng, komandan armada pesawat tempur J-15 terbang di atas Tian’anmen Square di Beijing.

Cina menugaskan kapal induk Liaoning pada September 2012. Dua bulan kemudian, pilot Dai mendaratkan untuk pertama kalinya J-15 di dek penerbangan Liaoning, menjadi pilot China pertama yang melakukannya.

Pada Mei 2013, berdirilah unit sayap udara kapal induk yang pertama di Angkatan Laut PLA. Meskipun baru berumur tiga tahun, kekuatan penerbang kapal induk telah melatih beberapa kelompok pilot J-15.

Menurut komandan Dai, tidak butuh waktu lama untuk mencapai kemampuan operasional penuh penerbang kapal induk.” Pilot-pilot kami berlatih sangat keras. Keinginan terbesar mereka adalah menjadi pilot terbaik dikapal induk secepat mungkin dan kemudian bertugas mengamankan kepentingan China dari atas lautan.”

Unit penerbang maritime telah membuat kemajuan luar biasa dalam pelatihan, dan semakin siap membentuk kekuatan tempur.

Tragedi Jatuhnya J-15

Pihak militer China jarang mempublikasikan cerita tentang pilot pesawat tempurnya, jadi sangat sedikit orang yang tahu kesulitan, perjuangan dan pengorbanan para pilot penerbang. Namun, hal itu berubah ketika Angkatan Laut PLA memutuskan untuk menceritakan kisah Zhang Chao, pilot J-15 pilot pertama yang meninggal pada April selama latihan rutin.

Pada sore hari tanggal 27 April, pilot Zhang sedang bersiap untuk mendaratkan pesawat tempurnya setelah menjalani sesi latihan rutin, namun komputer J-15 tiba-tiba melaporkan adanya kerusakan pada sistem kontrol penerbangan. Dalam hitungan detik, pesawat menukik 80 derajat dengan posisi mendongak ke langit. Sebuah investigasi menyimpulkan pilot Zhang telah gagal untuk mencoba menyelamatkan pesawat, dan dia tidak memiliki pilihan lain selain ejeck sesaat sebelum pesawat tempur jatuh.

Karena jatuh di ketinggian rendah menyebabkan parasut tidak mengembang seluruhnya saat Zhang jatuh menyentuh tanah. Dia dilarikan ke rumah sakit terdekat tapi meninggal akibat luka serius.

Zhang direkrut oleh PLA Navy pada tahun 2004 setelah lulus dari sekolah menengah di provinsi Yueyang, Hunan. Dia dilatih sebagai pilot jet tempur selama lima tahun dan pada tahun 2009 Zhang bergabung dengan skuadron penerbang Angkatan Laut.

“Menerbangkan jet tempur J-15 dari atas kapal induk adalah keinginan terbesar Zhang Chao. Kami akan memenuhi keinginannya,” kata Sun, rekan sesama pilot.

Sharing

Tinggalkan komentar