Sertifikasi Pesawat N219 Butuh Dukungan Pemerintah

Pesawat komuter CASR ER berkapasitas 19 penumpang dengan dua mesin Turboprop ini dibanderol dengan harga berkisar Rp 75 milyar (5 – 6 juta dolar AS) per unit. Pesawat yang ide dan desainnya dikembangkan oleh PTDI dan LAPAN ini, diharpakan akan terbang pada HUT PTDI pada Agustus 2016.

Menurut Presiden Direktur PTDI Budi Santoso, “Investasi untuk membuat pesawat ini sekitar Rp 500 miliar. Semua investasi itu pendanaannya berasal dalam negeri. Terbesar dari LAPAN”.

Siap Jual 60 Pesawat N219 Akhir 2017

Presiden Direktur PTDI, Budi Santoso mengatakan bahwa pihaknya siap untuk menjual 60 unit Pesawat N 219 pada akhir 2017 mendatang. Kata dia, sudah banyak perusahaan dan negara-negara memesan produk hasil karya anak bangsa tersebut.

“Iya saat ini memang sudah banyak yang mau. Asal syaratnya bisa terbang dulu, kalau tidak bisa terbang mereka tidak jadi beli. Target kami 60 unit akhir tahun 2017,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Rabu (03/08/2016).

Teknisi melakukan tahapan proses perakitan salah satu Pesawat N219 di Hanggar Assembly Line PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI), Bandung, Jawa Barat

Meski belum diproduksi secara masal, diakui Budi, pemesanan pesawat N219 ini sudah banyak dilakukan oleh negara-negara lain. “Saya belum jamin ya, tapi seperti Thailand, Kanada sudah ada keinginan untuk membeli pesawat ini,” ujarnya.

Airbus Bantu Sertifikasi Pesawat N219

Airbus Group menilai sertifikasi pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia membutuhkan dukungan dari semua pihak termasuk pemerintah Indonesia. Pesawat N219 adalah pesawat berpenumpang 19 orang produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Pesawat ini memiliki kelebihan bisa lepas landas dalam jarak yang pendek. Seperti diketahui, pesawat ini dikerjakan seluruhnya oleh anak bangsa dan dirancang sejak 2007 lalu.

Dalam Paris Airshow tahun lalu di Le Bourget, Prancis, Menteri BUMN Rini Soemarno pernah menuturkan kepada pihak Airbus untuk membantu PTDI dalam mendapatkan sertifikasi pembuatan pesawat.

Atas permintaan ini, Head of Military Aircraft dari Airbus Defence and Space Fernando Alonso mengungkapkan pihaknya akan membantu PTDI tidak hanya dalam sertifikasi ini saja tetapi untuk kerjasama yang lebih panjang.

“Saya pikir sertifikasi merupakan proses yang penting dalam organisasi, baik industri dan pemerintah. Kita senang jika dapat mendukung PTDI dalam mempersiapkan organisasi yang baik. Tidak hanya untuk sertifikasi N219, tetapi juga proyek lainnya,” paparnya, Kamis (04/08/2016).

Pesawat N219

Namun, dia mengingatkan bahwa sertifikasi ini memerlukan banyak tahapan. Dalam penilaian Airbus, PTDI dan pemerintah Indonesia harus menunjukkan dan memastikan bahwa pembangunan setiap pesawat dilakukan dengan cara dan kualitas yang sama sebelum akhirnya dilakukan audit serifikasi.

“Dari semua proses ini yang terpenting adalah memastikan kemampuan dan prosedur dalam pembangunan pesawat tidak hanya dari sisi PTDI, tetapi juga pemerintah dalam hal ini Dirjen Perhubungan Udara,” ungkapnya.

Terkait dengan lama proses audit hingga sertifikasi keluar, Alonso tidak dapat memastikan hal tersebut. Namun, dia memperkirakan Airbus biasanya memerlukan waktu selama satu tahun untuk melakukan sertifikasi pesawat.

Berdasarkan pengalaman Airbus sebagai produsen pesawat, dia mengimbau agar PTDI membangun industrinya dengan fondasi yang kuat. “Anda tidak dapat membangun rumah yang bagus tanpa fondasi yang kuat,” tegasnya.

Sayangnya, dia mengaku belum dapat memberikan kepastian terkait sertifikasi ini karena pihak Airbus baru akan mengunjungi PTDI hari Jumat (05/08/2016).

Alonso sendiri melihat sertifikasi terhadap N219 akan membantu Airbus mengembangkan pasar di Asia karena wilayah ini merupakan pasar penting bagi perusahaan.