Hot News : Melacak Transfer Teknologi Rudal C-705 Indonesia

Senang sekali rasanya setelah mengetahui transfer of technology rudal C-705 dari Tiongkok ke Indonesia, masuk ke dalam rencana kerja pemerintah tahun 2017. Transfer teknologi rudal C-705 ini merupakan bagian dari penguatan industri pertahanan, bersama tiga proyek besar lainnya, yakni :

1) Pengembangan Pesawat KFX/IFX
2) Pembuatan prototype medium tank
3) Habituation roket R-Han 122 B

Dari informasi yang diterima JakartaGreater, 6/9/2016, program kegiatan prioritas dari rencana kerja pemerintah tahun 2017 di bidang penguatan industri pertahanan, memiliki empat sasaran proyek penting :

1) Pengembangan Pesawat KFX/IFX
2) Pembuatan prototype medium tank
3) Transfer of Technology Rudal C-705
4) Habituation roket R-Han 122 B

Mendengar berita ini, gembira sekali rasa di hati. Hati melompat-lompat saat melihat Transfer of Technology Rudal C-705, masuk ke dalam RKP 2017.

Ini artinya proyek rudal nasional melalui ToT Rudal C-705 tetap berjalan pada tracknya. Kita kilas balik dulu, sedikit ke belakang.

Bertempat di Beijing, Tiongkok, pada tanggal 27-28 Agustus 2015 delegasi Kementerian Pertahanan Indonesia dan SASTIND China melakukan review perkembangan hasil pertemuan yang digagas pada DICM ke 3, antara lain proyek : Rudal Anti Kapal C-705, Rudal Panggul QW-3, KS-1A/FK-3 Air Defence Missile, SmartHunter TH-S311/711 of CPMIEC, GCI Radar & DECI Program of CETC, JRSCCS & KCR-60 of CSOC, UAV, PGB, LY-80 Air Defence Missile of ALIT, AA Gun & Ammunition of NORINCO dan sebagainya.

Kerjasama transfer of technology rudal C-705 telah ditandatangani pada tahun 2013, antara Indonesia dan Tiongkok melalui sebuah kerjasama karena kedekatan dan persahabatan dari kedua negara. Hal ini dituangkan ke dalam Kontrak ke 2.

Adapun kontrak ke 3 dari kerjasama rudal C-705, ditandatangani akhir tahun 2014. Sebagai tindak lanjut dari kontrak tersebut, dikirimlah sejumlah rudal C-705 (sesuai kontak ke 3) untuk dilakukan tes uji penembakan oleh Indonesia pada tahun 2015. Persetujuan kredit segera disetujui dan L/C segera dibuka.

Indonesia pun menyiapkan segala kebutuhan untuk uji rudal C-705 tersebut. Tiongkok akan menyiapkan program bagi prajurit TNI AL untuk melakukan training di Tiongkok, setelah Indonesia menyetujui uji rudal yang dilakukan oleh pabrik yang bersangkutan.

Tiongkok menyarankan TNI AL membeli kendaraan peluncur rudal anti-kapal permukaan C-705, untuk memudahkan operasional, perawatan dan perbaikan di kemudian hari.

Dari kurun waktu itu, pada tanggal 27 Agustus 2015 dalam pertemuan DICM di Beijing, Tiongkok, diskusi program transfer of technology (ToT) rudal C-705 kembali mengemuka. Saat itu SASTIND Tiongkok mengatakan segera mempelajari perjanjian dasar terbaru dari Program Transfer Teknologi Rudal C-705, antara Kementerian Pertahanan RI dan SASTIND Tiongkok, yang perjanjiannya diusulkan oleh Kementerian Pertahanan. Tiongkok mengatakan pada tahun 2015 itu, mereka segera merespon.

Diskusi antara CPMIEC China dengan perwakilan PT DI menyangkut fasilitas Program ToT Rudal C-705 juga berlangsung di DICM ke 4, yang membahas: jumlah material dan jumlah rudal yang akan disiapkan.

Indonesia akan menyiapkan budget untuk kepentingan penyediaan material dan Final Assembly Line facilities dari rudal C-705 dan komponen rudal tersebut (SKD parts).

PTDI yang ditunjuk oleh KKIP sebagai pemimpin proyek ini, yang akan diberikan Transfer Teknologi oleh CPMIEC China, agar memiliki kemampuan memproduksi sistem rudal C-705.

PT DI (PT Dirgantara Indonesia) akan menjadi supplier bagi Angkatan Laut Indonesia, setelah memiliki kemampuan memproduksi sisten rudal C-705.

Kedua pihak kemudian membuat list / daftar urutan pekerjaan yang akan dilakukan PT DI seperti missile shock/overload test system, electric system pre-installation dan sebagainya.

PT DI menyatakan sanggup memenuhi dan melakukan sebagian besar list yang harus dikerjakan (ada 10 item). PT DI juga diminta berbagi ilmu pemasangan rudal dan teknik persiapannya kepada TNI AL.

PT DI meminta pendokumentasian Transfer of Technology, dan ToT Technical Training dibebaskan dari biaya. Namun pihak Tiongkok menyanggupi jika Indonesia setidaknya memesan 100 rudal C-705 (SKD missile) pada Phase I.

Local content terkait rudal ini akan disediakan oleh PT DI.

CPMIEC China meminta agar setidaknya dilakukan pembelian 50 rudal C-705 dalam bentuk SKD, untuk memulai transfer teknologi. Dan ToT technical documentation akan diberikan gratis pada ToT Phase I, jika Indonesia membeli 100 rudal dalam bentuk SKD. Formulasinya sedang dikaji oleh kedua pihak.

Pada pertemuan 27 Agustus 2015 di Beijing itu, pihak PT DI (PT Dirgantara Indonesia) menyatakan akan mengkaji secara internal dan melaporkannya kepada Kementerian Pertahanan Indonesia.

Kini satu tahun telah berlalu, tepatnya tanggal 6 September 2016. Pemerintah telah memasukkan proyek transfer of technology rudal C-705 ke dalam rencana kerja pemerintah tahun 2017, sebagai program/kegiatan prioritas untuk bidang penguatan industri pertahanan Indonesia.

Please jangan meleset untuk yang satu ini. Dalam beberapa langkah lagi Indonesia akan mampu membuat rudal sendiri dengan kemampuan yang hebat. Rudal ini sangat dibutuhkan kapal kapal perang Indonesia, yang kini mulai dibangun marak di dalam negeri. Go… Indonesia Go…

JakartaGreater