Kepak Sayap Super Tucano Hingga SU 30 MK2

Tahun 2012 -2014 Indonesia akan didatangi banyak pesawat tempur dari berbagai jenis dan berbagai negara. Sayap sayap yang lemah itu, akan kembali mengepak dengan gagah. Betapa tidak, akan ada 34 jet tempur F-16, ada 16 Sukhoi SU27/SU30 MK2, 28 F-5 Tiger, 18 Super Tucano, serta 16 jet T-50 Golden Eagle.

Pada tahun 2014, kekuatan TNI AU akan meningkat cukup signifikan.

Super Tucano
Pesawat yang pertama datang tahun 2012 adalah 6 Super Tucano EMB-314 buatan Brasil. Bulan Agustus 2012 Super Tucano akan mengisi Pangkalan TNI AU Abdurahman Saleh, Malang, Jawa Timur.

“Pengiriman pesawat Super Tucano dilakukan secara bertahap. Dari 18 pesawat taktis yang dipesan, enam pesawat dipastikan tiba bulan Agustus 2012,” ujar Panglima Komando Operasi TNI-AU II, Marsekal Muda Ismono Widjajanto, di Malang. Jawa Timur.

Kedatangan Super Tocano akan menggantikan pesawat tempur taktis OV-10 F Bronco buatan North American Rockwell AS yang sudah dinyatakan grounded Juli 2012. Kini Komandan Lanud Abdulrachman Saleh sedang menyiapkan 27 pilot, untuk 18 Super Tucano.

Maret 2012, TNI AU telah mengirim 50 personil ke Brasil, terdiri: 12 calon awak pesawat, 23 personel pemeliharaan pesawat tingkat ringan serta 15 orang tim pemeliharaan tingkat sedang.

Super Tocano berfungsi menunjang misi operasi taktis, membantu pasukan di darat dalam misi penghancuran, karena memiliki keunggulan “close air support”. Pesawat bermesin tunggal buatan Empresa Braziliera de Aeronautica ini, mampu menembakkan asap ke darat secara cepat untuk menunjukkan posisi musuh.

T 50 Golden Eagle
Masih di tahun 2012, Indonesia juga akan kedatangkan 16 pesawat latih lanjut-serang ringan T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan. T 50 ini untuk menggantikan Hawk MK-53 buatan Inggris yang segera dipensiunkan. Untuk mendatangkan satu suadron T 50 pemerintah menyiapkan 400 juta dolar AS.

Pesawat T-50 cocok untuk latihan pilot pesawat Sukhoi dan memiliki kemampuan mirip F 16. Para calon pilot Sukhoi akan dilatih menggunakan T-50 lebih dulu, karena latihan langsung menggunakan Sukhoi, biaya operasionalnya cukup besar.

T-50 Golden Eagle bisa digunakan untuk operasi penyerangan ringan. Jet tempur latih T-50 dikembangkan hasil kerja sama Korea Aerospace Industries (KAI) dan Lockheed Martin dari Amerika Serikat. Kecepatan maksimum T-50, mencapai Mach 1,5 dengan berat 77% dari berat pesawat F-16.

Pesawat T-50 dilengkapi radar multiguna, sistem navigasi inersial, dan sistem identifikasi musuh secara terpadu (IFF). Persenjataannya, rudal Air to Air Massile System (AAMS) dan Air to Ground Massile System (AGMS) yang siap ditempatkan di sayap.

Sukhoi 30 MK2.

Pesawat lain yang akan tiba di tanah air di tahun 2012 akhir atau 2013 adalah 6 Sukhoi SU 30 MK2 dari Rusia. Keenam Sukhoi itu akan melengkapi 10 Sukhoi TNI agar menajdi satu skuadron atau 16 pesawat. Ke 16 Sukhoi ditempatkan di Lanud Hassanudin Makassar, Sulawesi Selatan. Skuadron Sukhoi digeser dari Lanud Iswahyudi Madiun Jawa Timur ke Makassar, agar posisinya lebih ke tengah. Ia lebih cepat bereaksi, jika harus menyergap ke perbatasan Kalimantan atau ke Papua.

F 16 AS
Sementara tahun 2014, Indonesia akan kedatangan 24 pesawat tempur F-16, hibah dari Amerika Serikat. “Bisa lebih cepat. Dua sampai tiga tahun sudah siap dan proses hibah sudah berjalan,” ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta 04/2012.

Indonesia memilih mendatangkan pesawat F-16 hibah dari AS karena jika membeli pesawat baru F -16, hanya akan mendapat enam unit.

“Upgrade” ke blok 52 amemakan biaya yang sangat tinggi. Pilihan yang lebih baik, melakukan peningkatan kemampuan F-16 blok 32″, ujar Kepala Staf TNI-AU Marsekal Imam Sufaat.

Untuk meningkatkan kemampuan ke 24 F-16 tersebut, pemerintah mengucurkan dana 430 juta dolar AS.

F-5 Tiger.

Pesawat lain dalam taraf negosiasi untuk didatangkan ke Indonesia adalah hibah pesawat tempur F-5E/F Tiger dari Taiwan.

“Taiwan akan menghibahkan sekitar satu skadron F-5E/F dan kita sedang menjajakinya”, ujar Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat.

Usia pakai pesawat-pesawat F-5E/F TNI AU bisa diperpanjang hingga tahun 2020. Saat ini rata-rata jam terbang pesawat F-5 TNI AU tersisa 4.000 dari 10.000 ribu jam terbang. Jika setahun 200 jam terbang, maka bisa sampai 2020.

Asisten Perencanaan Kasau Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo mengatakan pesawat-pesawat F-5E/FTaiwan masih baik dan tidak perlu di-“up grade”.

Sekarang yang perlu disiapkan adalah kemampuan para pilot karena lebih baik mandi keringat daripada mandi darah. “Hasanuddin Tower, Sukhoi, Three One Six Zero Foxtrot, Receiving Calverton Vor, Over”. “Rajawali, Two One Four Lima, Roger”.

Leave a Reply