May 122017
 

Kapal perang Filipina BRP Davao del Sur, buatan PT PAL Indonesia (Chiara Zambrano @chiarazambrano)

Pengetahuan dan literasinya di bidang perkapalan tidak perlu diragukan lagi, karena sejak menginjak bangku sekolah kejuruan, Ade panggilan akrabnya, sudah menggeluti secara khusus bidang bangunan kapal.

Adenandra Sulistyo Hendrawan, nama lengkapnya. Pria lulusan Universitas Muhammadiyah Surabaya jurusan perkapalan ini mendapat amanah menyelesaikan kapal perang pesanan kedua dari Filipina, dan ditunjuk sebagai pemimpin proyek pengerjaan kapal BRP Davao Del Sur LD 602 jenis “Landing Platform Dock” (LPD).

Tentunya, penunjukan ini dengan target penyelesaian harus bisa lebih cepat dan sempurna dibanding pesanan pertama.

Perlahan namun pasti, target itu pun dapat dilaluinya dengan baik melalui kerja sama tim yang dia pimpin, dan menjadi salah satu suksesi pengerjaan kapal perang lebih cepat dibanding yang pertama.

Sehingga pada Senin (8/5) pukul 11.00 waktu setempat, kapal perang ekspor kedua tiba di tangan negara pemesan, Filipina.

“Alhamdulillah, tentunya ini merupakan prestasi bagi bangsa Indonesia, karena mampu menyelesaikan pembuatan kapal perang secara tepat waktu, yang selama ini menjadi masalah galangan kapal nasional,” kata pria kelahiran Malang, Oktober 1975 tersebut.

Pesanan kedua kapal perang Filipina ini sebenarnya memiliki batas waktu atau “deadline” pengiriman tanggal 13 Mei 2017, namun PT Penataran Angkatan Laut (PAL) Indonesia mampu menyelesaikan dan mengirim ke tangan pemesan awal Mei 2017, sehingga kapal tiba lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

Ade yang kini juga menjadi salah satu sumber daya manusia (SDM) pilihan PT PAL Indonesia untuk “transfer of tecnologi” (TOT) bidang kapal selam dengan Korea Selatan mengaku, pada pengerjaan kapal perang pertama dia menjadi orang kedua dalam susunan struktur pimpinan proyek pengerjaan kapal.

Kemudian dalam pengerjaan kedua, pimpinan proyek kapal perang pertama, Turitan Indaryo mempercayakan Ade sebagai pimpinannya, karena Turitan ditunjuk Kementerian BUMN menjadi Direktur Pengembangan dan Pembangunan Kapal PT PAL Indonesia.

Usai ditunjuk, suami dari Pratiwi Diah Lestari ini lantas mengerjakan secara cepat kapal pesanan kedua, sebab telah mengetahui kendala-kendala pada pengerjaan pertama.

Bapak tiga anak ini mengakui, kendala pengerjaan kapal kedua tidak terlalu banyak, dan SDM PT PAL Indonesia sudah mengetahui beberapa masalah yang telah dialami pada pengerjaan kapal pertama.

“Teman-teman PT PAL Indonesia pada pengerjaan pertama memang merasa kesulitan, karena sebelumnya terbiasa mengerjakan kapal jenis niaga yang memiliki ruang tidak terlalu banyak,” katanya.

Konsep kapal niaga itu, berbeda dengan kapal perang pesanan Filipina yang memiliki banyak ruang, ditambah beberapa kecanggihan yang ada dalam kapal.

Sehingga pada proyek pertama, Ade memaklumi beberapa SDM masih bingung melakukan analisa pembuatan ruangan dalam kapal, akibatnya pengerjaan memakan waktu agak lama.

Untung saja pengerjaan kapal pertama telah sampai ke negara pemesan tepat waktu, sehingga tidak dikenai pinalti atau melebihi batas waktu yang ditentukan.

Ekspor kapal pertama jenis yang sama LPD “Strategic Sealift Vessel”, dan diberinama Tarlac itu tiba tepat waktu pada Jumat, 13 Mei 2016 pukul 22.30 waktu Manila.

Titik Pengerjaan Suksesnya pengerjaan kapal kedua diakui Ade karena pihaknya mengambil pelajaran proyek pertama, sehingga tidak banyak mengalami kendala dan beberapa SDM PT PAL Indonesia telah terbiasa dengan mengacu konsep proyek pertama.

Pada proyek SSV kedua, pria yang beralamatkan di Griya Candramas Kabupaten Sidoarjo itu mengaku menggunakan konsep pengerjaan dengan membagi enam titik blok, atau cara yang sama seperti pembuatan proyek pertama.

Kemudian, blok-blok tersebut dirakit pada bengkel “assembly” atau bengkel penggabungan yang berada di bagian Dok Semarang, PT PAL Indonesia untuk menjadi satu bangunan kapal utuh.

Penerapan sistem blok di setiap lokasi atau titik memiliki target sendiri-sendiri, sehingga proses pembuatan kapal bisa dilakukan lebih cepat dan sesuai target yang ditentukan.

Ade mengaku konsep ini dianggap sukses, sehingga PT PAL Indonesia bisa menyelesaikan pengerjaan kapal perang pertama dan kedua secara cepat.

“Keberhasilan ini sepenuhnya tidak lepas dari semangat para tim dan manajemen perusahaan, sehingga bisa mengerjakan secara tepat waktu,” kata pria yang pernah menempuh pendidikan di Politeknik Perkapalan Surabaya ini.

Ia berharap, ekspor dua kapal perang ke Filipina bisa menjadi semangat bagi dunia perkapalan Indonesia, dan membuat negara lain tertarik memesan kapal sejenis ke PT PAL Indonesia.

Karena, Ade yakin dan optimistis potensi anak negeri dan kemaritiman bangsa Indonesia tidak kalah dengan negara lain dalam membuat kapal perang canggih.

Terbukti, kata Ade, negara pemesan merasa puas dan berencana kembali memesan kapal jenis lainnya ke PT PAL Indonesia, hal ini tentunya membuka peluang bisnis serta menambah kepercayaan galangan nasional lainnya.

Sebelumnya, Filipina memesan dua kapal SSV ke PT PAL Indonesia dengan nilai pemesanan keduanya mencapai sekitar Rp1,1 triliun.

Ekspor kapal perang ini diawali setelah PT PAL Indonesia memenangkan tender dan lelang internasional yang diadakan negara setempat pada tahun 2014, dengan mengalahkan delapan negara, salah satunya Korea Selatan.

Profil Adenandra 1.Nama Lengkap : Adenandra Sulistyo Hendrawan 2.Tempat, Tanggal Lahir : Malang, 1 Oktober 1975 3.Pekerjaan : PT PAL Indonesia 4. Alamat : Griya Candramas, Kabupaten Sidoarjo.

Pendidikan Formal 1.S-1 Perkapalan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Oktober 2010 2.Diploma Bangunan Kapal Poltek Perkapalan Surabaya 1999.

Pendidikan Non Formal 1.Pelatihan Manajemen Proyek Kapal FTK-ITS 2012 2.Assessor dan Writter Pusdiklat PT PAL 2003 3.Pelatihan Kapal NonbajaKAPAL PT PALSeptember 1992 Jabatan 1.Karo Renpek Konstruksi Kapal 2005 2.Koordinator Desaian Proyek M229 2004 3.Kabeng Assemly 150T 2003 4.Koordinator Produksi Proyek M185 2002 5.Staf Dep Erection DKN 1999 5.Tukang Joiner 1992.

Keluarga Istri : Pratiwi Diah Lestari Anak : 1.Harits Urdha W 2.Hana Usha W 3.Helga Utari W.

Antara

  20 Responses to “Adenandra dan Kapal Perang Ekspor Indonesia”

  1. Waah ada ketinggalan nihhh, fhoto Pak Ade nya manaa? admin lupa ya?? one !

  2. PERTAMAX

  3. Hasil kerja keras. Dan terbukti

  4. waduh ternyata bukan PERTAMAX …

    malu aku … kikikikikih …

  5. Absen siang sj..

  6. Si Dah… :)

  7. Tgl buat kelas Mistralnya pak!he3.

  8. HUAHAHA…Entu Liaoning bagus buat arena skateboard soalnya landasan geladaknye dibuat pake tripleks…

  9. proyek pertama memang akan memakan waktu lama itu wajar. Sama seperti tempat saya waktu dipercayakan pengadaan barang mobil scisor lift untuk Garuda mantenance Fasilities (GMF). Proyek pertama memakan waktu hingga 5 bulan karena ada beberapa bagian yang diuji cobakan dan perubahaan desain yang mendadak oleh pihak GMF serta sistemnya yang terus-terusan di modifikasi sesuai permintaan user pihak (ACS). Tapi proyek ke 2 dan ke 3 cuma 3 bulan. Dan akhirnya sistem setelah jadi bisa kita sempurnakan sehingga sulit untuk di contek oleh vendor mana pun di Indonesia. Karena selama ini pengadaan mobil tersebut beli jadi ke Amerika pihak ACS nya.

    • wah bisa pesan mas…. untuk petik mangga…:)

      • Kok petik mangga. sekarang aja tempat saya lagi modifikasi mobil traktor buat alat petik kelapa sawit perusahaan sawit di kalimantan.
        Bahkan kita bikin sampai mesin riplemill nya buat merontokkan kelapa sawit.

    • dan saat ini juga tempat kerja saya lagi bikin winch untuk kapal PT. ALP yang merupakan bagian dari proyek TOL LAUT. Ini udah proyek ke 5 dan 6. bahkan kita juga sudah memodifikasi sistem hydraulic bowvisornya menggunakan digital electrik menggunakan PLC sehingga bisa di gerakkan bisa dari ruang kemudi dan remot. Kalo customer perusahaan kapal tempat kami yang sudah lama adalah PT. JEMLA VERY, perusahaan penyebranganan swasta terbesar di Indonesia. Silakan cek di http://www.facebook.com/nihonpandudayatama/

  10. Kemampuan dan kreatifitas SDM INDONESIA tidak kalah dengan tetangga. Asal diberi kepercayaan dan kesempatan. Dan tntunya pendanaan.
    Melangkah pada kapal selam. Terus pada fregat dan destroyer serta lhd. Harusnya BUMNIS itu saling bersinergi lebih kuat lagi.

  11. Saya bangga produk dalam negri coba buat kapal induk helkopter sekelas izumo 6 unit 3 stanbay di alki 3 stanbay di armada roling tiap 6 bulan skali

  12. Salut untuk beliau, Semoga semakin sukses memajukan alutsista matra laut bersama PT Pal

    http://kasamago.com/tarlac-menuju-lhd-kebanggan-bangsa/

 Leave a Reply