Jan 092015
 
 BKSDA Kerandangan

ADVENTURE JOURNEY JAKARTAGREATER BIRO LOMBOK DI BADAN KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM (BKSDA) KERANDANGAN

Tahun 2015 telah menghampiri, banyak hal dari perjalan hidup kami yg mesti dimuhasabahkan untuk menjadi pribadi yg lebih baik dan bernilai manfaat bagi diri sendiri, keluarga, sahabat, orang lain, nusa dan bangsa serta tentunya juga bagi alam yg Allah telah karuniakan kepada kami sebagai mahluk-Nya untuk bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya hingga dapat memberi kemaslahatan.

Kami mencoba mengawali untuk mengangkat tema artikel di tahun 2015 sedikit berbeda dengan artikel-artikel sebelumnya yg telah kami buat untuk warjager. Pastinya sesuatu yg berbeda…!. Kami melakukan semua ini sebagai salah satu bentuk ekspresi kecintaan kami kepada negeri ini. Karena kami sadar betul bahwa ada banyak pilihan jalan untuk menumbuhkan dan menunjukan rasa nasionalisme kita. So, Penafsiran tentang nasionalisme bukanlah monopoli individu atau kelompok tertentu saja.

Tapi kita semua berhak menafsirkan tentang nasionalisme menurut pilihan jalan yg kita ambil sebagai sesuatu yg kita nilai baik dan benar serta yg terpenting atas pilihan tersebut adalah bersifat positif, dilakukan dengan penuh keikhlasan dan dilandasi nilai-nilai kejujuran.

It’s our true story…. Kisah perjalanan berawal pada sabtu sore tanggal, 28 Desember 2014, bertepatan dengan hari dimana pesawat Air Asia QZ8501 mengalami musibah di Selat Karimata dalam perjalanan dari Surabaya menuju Singapura. Tragedi yg sangat memilukan bagi korban, keluarga, sahabat, kami secara pribadi dan tentunya juga bagi bangsa ini.

Kami rekan-rekan dari JakartaGreater Biro Lombok mengucapkan rasa belasungkawa yg sedalam-dalamnya bagi keluarga korban tragedi ini dan apresiasi yg setinggi-tinggi bagi pemerintah yg diwakili oleh BASARNAS, TNI, POLRI dan seluruh masyarakat Indonesia yg turut andil bahu membahu ikut membantu serta tentunya ucapan terimakasih yg sebesar-besarnya kami haturkan kepada negara-negara sahabat yg dengan tulus ikhlas sudi meringankan beban bangsa kami dengan bantuan yg telah diberikan untuk mempercepat proses evakuasi korban dan penemuan badan pesawat yg terbilang tidak mudah untuk dilakukan.

Sama halnya dengan kisah perjalanan kami untuk mencapai tempat tujuanpun bukan tanpa rintangan dan tantangan yg cukup berat dilalui bagi kami yg terbilang amatiran ini!!!! Heee….. Kami pun disambut cuaca yg tidak bersahabat sejak awal keberangkatan dari rumah hingga tempat yg dituju. Dengan persiapan ala kadarnya sebuah tenda, lampu badai, mie instan, makanan ringan dan beberapa botol air mineral sebagai bekal kegiatan kami selama satu setengah hari.

Hanya komitmen dan ketulusan niat yg menguatkan kami untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju salah satu tempat di Pulau Lombok yg kami anggap unik dan menarik untuk diangkat menjadi sebuah tema artikel.

Foto 1

BKSDA Kerandangan, Lombok, NTB (all photos: JakartaGreater Biro Lombok)

Tempat yg menjadi tujuan kami adalah Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA ) Kerandangan yg terletak disebelah utara Pulau Lombok, tepatnya di Desa Senggigi, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. BKSDA Kerandangan ditunjuk sebagai kawasan konservasi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 494/Kpts-II/1992 tertanggal, 01 Juni 1992, dengan area seluas 396,10 Ha.

Desa Senggigi yg menjadi lokasi BKSDA Kerandangan merupakan pusat kegiatan pariwisata di Pulau Lombok karena di sepanjang perjalanan menuju lokasi ini kita akan menjumpai pantai-pantai berpasir putih, bukit-bukit yg masih tampak hijau dikejauhan, Pusat oleh-oleh, Artshop, Hotel-hotel mulai dari yg melati hingga berbintang berjejer di kanan kiri jalan, Restourant, Cafe, Night Club, Discotique, dan fasilitas lainya sebagai penunjang industri pariwisata.

Dengan lokasi yg begitu strategis, berada dipusat pengembangan pariwisata di Pulau Lombok hingga saat ini eksistensi BKSDA Kerandangan terjaga tanpa adannya benturan kepentingan dari pembangunan industri pariwisata yg semakin gencar dikawasan ini terutama pembangunan hotel-hotel disepanjang kawasan ini, cottage dan vila-vila yg meskipun pembangunannya telah mencapai batas areal kawasan konservasi.

Tapi masih ada sedikit kekhawatiran terlintas di benak kami dengan pembangunan industri pariwisata yg begitu gencar di kawasan ini karena menurut hemat kami dilokasi-lokasi tertentu dari kawasan Senggigi ada beberapa pembangunan baik hotel, cottage, vila-vila dan fasilitas-fasilitas penunjang industri pariwisata lainnya yg kurang memperhatikan konsep pembangunan pariwisata yg berkelanjutan.

Foto 2

Kami berharap siapapun pihak yg memiliki wewenang sebagai pembuat kebijakan dalam hal ini baik tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota diharapkan memiliki Master Plan yg matang dan memastikan bahwa prinsip-prinsip pengembangan pariwisata berkelanjutan teraplikasi mulai dari :

  1. Pembangunan pariwisata harus dapat dibangun dengan melibatkan masyarakat lokal, visi pembangunan pariwisata mestinya dirancang berdasarkan ide dan kesejahteraan masyarakat lokal.
  2. Menciptakan keseimbangan antara kebutuhan wisatawan dan masyarakat.
  3. Harus melibatkan pemangku kepentingan dan lebih banyak pihak untuk mendapatkan input yg lebih baik.
  4. Memberikan kemudahan kepada para pengusaha lokal untuk usaha skala kecil dan menengah.
  5. Pembangunan pariwisata harus dikondisikan untuk tujuan adanya multiplier effect pada sektor lainnya.
  6. Adanya kerjasama antara masyarakat lokal sebagai kreator atraksi wisata dengan tour operator sehingga terbangun hubungan saling menguntungkan.
  7. Pembangunan pariwisata harus mampu menjamin keberlanjutan, memberikan keuntungan bagi masyarakat pada saat ini dan yg akan datang.
  8. Pembangunan pariwisata harus bertumbuh dalam prinsip optimalisasi bukan eksploitasi.
  9. Harus ada monitoring dan evaluasi secara periodik untuk memastikan bahwa pembangunan pariwisata harus tetap berjalan pada konsep pembangunan berkelanjutan.
  10. Harus ada keterbukaan terhadap penggunaan sumber daya seperti penggunaan air bawah tanah, lahan dan sumber daya lainnya harus dipastikan tidak disalahgunakan.
  11. Melakukan program peningkatan Sumber Daya Manusia ( SDM ).
  12. Terwujudnya tiga kualitas yakni kualitas hidup ( Quality of Life ) masyarakat lokal, kualitas berusaha ( Quality of Oportunity ) kepada para penyedia jasa industri pariwisata dan yg terpenting adalah kualitas pengalaman wisatawan  (Quality of Experience).

Selain hal-hal diatas pembangunan industri pariwisata harus juga memperhatikan penataan dan pengembangan infrastruktur dasar, diversifikasi aktivitas dan sanitasi yg mengacu pada ketentuan lingkungan untuk terwujudnya pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan merancang zonasi yg dibagi kedalam zona peruntukan yaitu zona inti ( zona konservasi alam ), zona buffer (zona penerimaan), zona pengembangan (zona aktivitas wisata). Waduh isinya kok malah makin serius… Maaf rekan-rekan warjager ini hanya sedikit uneg-uneg dari kami moga saja didengarkan oleh para stakeholder pariwisata di Pulau Lombok.

Hanya sedikit masukan, pastinya Pulau Lombok sampai dengan saat ini masih terjaga keindahannya dan harapan terbesar kami berkah keindahan yg telah Allah berikan bisa dinikmati oleh generasi berikutnya. Amin…

Foto 3

BKSDA Kerandangan, Lombok, NTB (all photos: JakartaGreater Biro Lombok)

Berlanjut ke kisah perjalanan kami, akhirnya sekitar pukul 19.00 Wita kami pun tiba di BKSDA Kerandangan untuk mengurus izin camping dan tracking untuk keesokan harinya. Setelah pengurusan izin selesai kamipun bergegas ke lokasi camping ground untuk membangun tenda, menyiapkan peralatan masak agar perut kami yg begitu keroncongan segera terisi.

Sesampai di lokasi pun kami masih disambut oleh kondisi cuaca yg kurang bersahabat karena hujan tak urung berhenti meskipun tidak sederas pada saat awal perjalanan kami. Suasana dingin begitu terasa hingga kami memutuskan untuk menyalakan api unggun sebagai penghangat tubuh dan membuat segelas kopi untuk menemani obrolan kami seputar rencana kegiatan hunting gambar hewan-hewan nokturnal yg menghuni BKSDA Kerandangan ini.

Sekitar pukul 22.00 Wita aktivitas hunting gambar kami lakukan dengan ditemani Bung Wahyu salah satu petugas yg menjaga kawasan BKSDA Kerandangan yg begitu totalitas menjaga kawasan ini tetap lestari dan tulus mendampingi kami. Tanpa terasa kami telah melakukan aktivitas ini hingga pukul 02.30 wita rasa letih, dingin dan sedikit kekhawatiranpun terbayar dengan hasil dokumentasi yg kami peroleh.

It’s Amazing & unforgetable experience for us….. setelah beberapa saat mengobrol kami pun memutuskan untuk beristirahat karena keesokan harinya ada aktivitas yg lebih menantang lagi untuk dilalui.

Foto 4

Suasana pagi dengan kesegaran udara yg tidak pernah dirasakan sebelumnya menyambut dengan ramah dan mendesak kami tersadar dari tidur untuk menikmati berkah pagi yg sungguh luar biasa. Suasana alami begitu terasa seolah-olah seluruh mahluk ciptaan Alloh begitu ramah menyapa panca indra kami, mulai dari pepohonan yg mengeluarkan aroma begitu khas dari batang-batangnya yg kokoh dengan hijau dedaunan yg sangat rimbun tanpa sungkan menyapa indra penciuman dan pengelihatan kami, suara aliran sungai dan siulan burung-burung berbagai jenis dengan penuh penjiwaan melantunkan harmonisasi suara menyapa indra pendengaran kami dan angin yg menghembuskan udara dingin nan sejuk dengan lembut menyentuh seluruh bagian kulit kami.

Pada saat alam menyajikan semua ini buat kami, waktu baru menunjukkan pukul 05.30 Wita, setelah terasa puas menikmati kamipun bergegas menyiapkan sarapan dan minuman hangat sebelum melanjutkan aktivitas tracking dan dokumentasi disisi lain dari kawasan ini untuk mendapatkan sudut foto yg pas.

Foto 5

Perjalananpun berlanjut sekitar pukul 09.00 Wita dengan ditemani Bung Wahyu sebagai pemandu menuju patok 14 sebagai pilihan titik lokasi untuk mengetahui kondisi sebenarnya dari BKSDA Kerandangan. Dengan perlengkapan dan perbekalan seadannya kami berjalan menaiki bukit yg cukup terjal, semak belukar yg begitu rimbun dan licinnya medan yg harus dilalui.

Terjalnya perbukitan telah menyapa sejak awal perjalan seolah-olah enggan memberi waktu untuk kami menghela napas, semak belukar yg begitu rimbun dengan dedurian sekali waktu menggores kulit kami dan licinnya medan terkadang membuat kami terjatuh.

Mental serasa diuji ditempat ini, apakah kami sosok yg mudah menyerah atau pantang menyerah ?. Kami berada di tempat ini untuk tujuan yg baik, Insya Allah alam akan mempermudah jalan kami untuk mencapai tempat yg dituju. Setelah 1 jam perjalanan telah ditempuh, kamipun tiba dipuncak bukit pertama.

Kami disambut hamparan pemandangan hijau dari pepohonan berbagai jenis yg tumbuh subur di sisi kiri dan kanan kami, tampak depan terbentang lautan biru dengan pasir putihnya yg begitu indah dipandang dari atas bukit dan deretan bangunan hotel, cottage dan vila pun menjadi bagian dari pemandangan yg tampak jelas terlihat.

Foto 6

Foto 7

Suara burung dari berbagai jenispun berkicau begitu ramah menyambut kehadiran kami. Kami menyempatkan diri beristirah sejenak ditempat ini sambil menikmati pemandangan alam dan kicauan burung yg tersaji serta sesekali waktu mengambil gambar.

Setelah beberapa saat beristirahat kamipun melanjutkan perjalanan menelusuri lebatnya hutan dikawasan konservasi ini. Jalur menanjak harus kami tempuh dengan kabut tebal menyelimuti sisi kiri dan kanan bukit dan sesekali tampak jelas terdengar kokokan ayam hutan, kicauan Cerucukan, Cikukua Tanduk, Raja Udang Biru, Kecial Kuning, Burung Gosong, Walik Kembang, Paok Laus, Punai, Srigunting dan lengkingan suara Kera Hitam/Lutung.

Kamipun mencari asal sumber suara dengan langkah yg diatur sedemikian rupa untuk tidak menimbulkan bunyi dari ranting yg terinjak. Dibutuhkan kejelian dan kesabaran untuk bisa menemukan obyek yg ingin kami dokumentasikan. Setelah 2 jam perjalanan kamipun tiba dipatok 14 yg menjadi titik tujuan dokumentasi. Setibanya di patok 14 ini keberuntungan belum berpihak kepada kami karena kabut tebal masih menyelimuti seluruh sudut dari area konservasi ini. Kami harus penuh sabar menunggu mendapatkan momen untuk didokumentasikan. Butuh 1 jam lamanya menunggu sampai akhirnya alam berbelas kasih kepada kami untuk sudi menunjukan keindahannya.

Bagi kami sajian ini sungguh luar biasa, momentum yg belum pernah kami nikmati sebelumnya. Begitu jelas terlihat disisi kanan kami bukit-bukit yg menjulang tinggi dengan dihiasi pepohonan-pepohonan yg begitu hijau sedangkan dari sisi kiri kami pemandangan bukit-bukit yg menjulang tinggi, pepohonan-pepohonan yg hijau, birunya laut dan 3 Gili di Pulau Lombok yg sangat terkenal dikalangan wisatawan domestik dan mancanegara yaitu Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air menjadi bonus sajian buat kami.

It’s amaziiiiiing…. Setelah puas menikmati keindahan alam dilokasi ini kamipun bergegas untuk melanjutkan perjalan kembali menuju camping ground di mana kami harus menempuh perjalanan kurang lebih selama 3 jam untuk menuruni area perbukitan.

Foto 8

BKSDA Kerandangan, Lombok, NTB (all photos: JakartaGreater Biro Lombok)

 

Foto 9

Foto 10

FOTO DAN DESKRIPSI FAUNA DI BKSDA KERANDANGAN :

Foto 11

Trachypithecus Auratus Kohlbruggei

  1. Kera Hitam/Lutung ( Trachypithecus Auratus Kohlbruggei )

Klasifikasi :
Nama lain dari Kera Hitam ini pada umumnya dikenal dengan nama Presbytis cristata , namun belakangan ini Weitzel dan Groves (1985) dalam Dirgayusa (1991) menyebutkan bahwa adanya kesalahan dalam nomenklatur yaitu perbedaan ukuran lingkaran tengkorak dan lengkung dental antara Kera Hitam di jawa dengan Kera Hitam di semenanjung malaysia dan daratan asia, sehingga nama latin Kera Hitam menjadi Trachypitechus auratus kohlbruggei . Jenis kera ini di Indonesia mempunyai 3 (tiga) anak jenis yaitu : 1. Trachypitechus auratus sondaicus di Jawa Barat, 2. Trachypitechus auratus auratus di Jawa timur dan 3. Trachypitechus auratus kohlbruggei di Bali dan Lombok.

Morfologi :
Ciri-ciri Kera Hitam atau yang lebih dikenal dengan Pitu di Pulau Lombok, Budeng di Bali dan Lutung di Jawa. menurut Roonwal dan Manhot (1977) dalam Dirgayusa (1991) Kera Hitam dewasa memiliki warna rambut hitam sampai hitam keperakan. Perbedaan antara betina dan jantan terletak pada bagian Velvik (selangkangan), yaitu pada bagian pelvik betina berwarna putih pucat sedangkan pada jantan berwarna hitam. Anak yang baru lahir mempunyai bulu badan berwarna jingga dan pada bagian wajah tangan dan kaki berwarna putih yang secara berangsur-angsur berubah menjadi hitam. Proses perubahan ini terjadi antara 3 sampai dengan 5 bulan. Kera Hitam jantan dewasa memiliki ukuran panjang kepala sampai badan rata-rata 571 mm ( 467 – 650 mm )  dan panjang ekor rata-rata 742 mm ( 680 – 810 mm ). (Mapier, 1985 dalam dirgayusa 1991).

Perilaku Mencari Makan :
Berdasarkan atas telaah langsung dilapangan, jenis-jenis tumbuhan yang dikonsumsi Kera Hitam secara umum Kera Hitam memakan bagian pucuk daun yang masih muda, tunas bunga, dan daun muda terutama dari jenis pohon : Kihujan/Trembesi (Samanea saman), Tekik (Albizzia lebbeckoides), Kemloko (Phylantus emblica), Pilang (Acacia leocoploea), Trenggulun (Protium  javanicum), Kesambi (scheleicera oleosa), Kepuh (Sterculia foetida), Buni (Antidesma bunius), Talok (Grewia koordersiana), Walikukun (Schoutenia ovata), Ketapang (Terminalia cattapa), Juwet Manting (Crypteronia paniculata), Pacar gunung (Diospyros buxipolia), Bunut (Ficus indica), Sawo Kecik (Manilkara kauki), Klampok (Eugenia javanica), Kilayu (Erioglosum rubiginosum), Buta buta (Excoecaria agallocha), Asam Jawa (Tamarindus indica), Bekul (Zizypus mauritiana), Kresek (Ficus rigida). Kera Hitam biasanya lebih menyukai daun-daun yang masih muda dan jarang sekali Kera Hitam memakan buah-buahan artinya hanya dalam jumlah yang sedikit.

  1. Celepuk Rinjani (Otus Jolanodea)
Otus Jolanodea

Otus Jolanodea

Celepuk Rinjani (Otus Jolanodea) adalah sejenis celepuk/burung hantu yg hanya terdapat di Pulau Lombok dan satu-satunya burung endemik di pulau ini. Burung ini pertama kali ditemukan pada bulan September 2003 dan secara resmi teridentifikasi pada tahun 2013. Namanya diambil dari gunung yg ada di Pulau Lombok yakni Gunung Rinjani sebagai salah satu habitatnya. Julukan spesifik Jolandea yg diberikan pada spesies ini sebagai bentuk penghormatan kepada Dr Jolanda Luksenburg, seorang ahli biologi yg menemukan spesies ini pada tahun 2003.

Burung ini dikenal secara lokal sebagai burung Pok, mengacu pada onomatope untuk tiruan bunyi burung ini. Seperti kebanyakan celepuk/burung hantu bergenus Otus lainnya, Celepuk Rinjani berwarna cokelat dan berbintik-bintik putih. Burung ini sangat mirip penampilannya dengan Celepuk Maluku ( Otus Magicus ) perbedaannya pada siulan dimana Celepuk Rinjani memiliki suara siulan lebih bersih dibanding Celepuk Maluku.

  1. Burung Gosong Kaki Merah  (Megapodius Reinwardt)
Megapodius Reinwardt

Megapodius Reinwardt

Deskripsi :
Berukuran sedang (35 cm), berwarna coklat keabu-abuan dengan muka kemerahan dan jambul pendek. Tubuh bagian atas coklat berangan, tubuh bagian bawah keabu-abuan dengan leher dan dada berwarna gelap. Remaja: belang-belang, bergaris coklat gelap. Burung Gosong terdiri atas 8 sub-spesies dan salah satunya adalah sub-spesies Reinwardt Dumont, 1823 yg penyebarannya meliputi wilayah Pulau Kangean (Jawa Timur), Sunda Kecil, Pulau Lombok, ujung tenggara Maluku, Kep. Aru dan Papua; mungkin juga dapat ditemui di kepulauan di Selat Torres.

Suara :
Ratapan aneh pada malam hari dan kadang-kadang cegukan rendah.

Tempat hidup dan Kebiasaan :
Hidup sendirian atau berpasangan, berjalan cepat di lantai hutan, semak, dan hutan mangrove. Mengai permukaan tanah untuk mendapatkan serangga. Bila terganggu akan lari atau terbang rendah di atas tanah. Bertengger di pohon-pohon rendah pada malam hari. Telur dierami pada tanggul-tanggul kokoh yang terbuat dari seresah kering yang membusuk. Sarang digunakan selama bertahun-tahun. Kadang beberapa pasang menggunakan tanggul yang sama, saling membantu untuk mengais dan mengumpulkan seresah materi sarang. Betina membuat terowongan menuju puncak tanggul dan meletakkan telurnya yang besar dan berwarna agak kemerah-jambuan (berubah menjadi kemerah-jambuan pucat sejalan umurnya). Sesudah 70 hari, burung muda yang lengkap bulunya akan keluar sarang dan belajar terbang. Predator sarang antara lain babi, biawak dan manusia.

  1. Walik Kembang (Ptilinopus Melanauchen)
Ptilinopus Melanauchen

Ptilinopus Melanauchen

Deskripsi :
Berukuran sedang (27 cm) dan berwarna hijau. Jantan: kepala putih, tengkuk hitam, sedikit bercak kuning di kerongkongan, bawah dada dan tubuh bagian atas hijau, bulu penutup ekor kuning-merah. Betina: seluruh tubuh hijau, kecuali bulu penutup ekor merah dan sisi-sisi bulu sayap dan perut bawah kuning. Iris kuning, paruh kuning kehijauan, kaki merah. Sub-spesies Melanauchen (Salvadori, 1875) tersebar di wilayah Matasiri (Kalimantan bagian selatan) dan Kep. Kangean, Jawa, Pulau Lombok, Bali ke timur sampai pulau-pulau di sunda kecil dan Alor, serta pulau-pulau di sebelah selatan Sulawesi (Salayar, Muna, Butung, Tukangbesi, Tanahjampea, Kalao, Kalaotoa, Madu).

Suara :
Berdentang keras monoton “uwuk-wuk …. uwuk-wuk”.

Tempat hidup dan kebiasaan :
Pemalu, hidup berpansangan, lebih sering terdengar daripada terlihat. Kadang-kadang kelompok yang cukup besar berkumpul pada pohon buah-buahan dan tempat bertengger. Tercatat sekali di Sumatera (P. Tegal di Teluk Lampung, mungkin tersesat dari Jawa). Menghuni pulau-pulau kecil di lepas pantai Kalimantan (P. Burung, Balambang, Banggi, dan Maratua). Di Jawa (termasuk Matasiri dan Kangean), Pulau Lombok dan Bali, umum ditemukan sampai dataran rendah dan hutan-hutan bukit, sampai ketinggian 800 m.

  1. Srigunting/Wallacean Drongo (Dicrurus Vicinus)
Dicrurus Vicinus

Dicrurus Vicinus

Deskripsi :
Berukuran besar (28 – 38 cm), berbulu hitam mengkilap kehijauan; ekor bercabang; iris merah atau kemerahan. Iris burung muda berwarna coklat-tua. Hanya diketahui hidup di Maluku tenggara dan Nusa Tenggara dan terdiri atas 6 sub-spesies, dengan daerah persebaran ras jenis Vicinus (Rensch, 1928) yaitu Pulau Lombok dan Sunda kecil bagian barat.

Tempat Hidup dan Kebiasaan :
Burung penetap yang mudah dijumpai; menghuni hutan primer dan sekunder, hutan terbuka, lahan budidaya dengan sedikit pohon, dan hutan mangrove sampai ketinggian 1650m di Flores. Di Sumba, sering ditemukan berada di sekitar kawanan monyet pemakan-kepiting. Hanya tersedia sedikit informasi terkait perbiakan: satu sarang ditemukan di pohon dengan ketinggian 10m dari permukaan tanah, teramati sedang mengerami telur pada bulan Oktober sampai Desember.

  1. Paok Laus (Pitta Elegans Concinna)
Pitta Elegans Concinna

Pitta Elegans Concinna

Deskripsi :
Berukuran sedang (20cm). Kepala bagian atas dan sisinya hitam, coretan seperti membentuk alis yang memanjang dari paruh sampai tengkuk membentuk gradasi warna dari kuning tua ke biru pada ujung di tengkuk. Tubuh bagian atas hijau, tungging dan penutup sayap biru terang metalik, bulu primer hitam dengan garis putih. Tubuh bagian bawah umumnya kuning tua, dengan bercak hitam di perut dan bercak merah padam tunggir. Iris dan kaki coklat, paruh kehitaman. Sub-spesies Concinna Gould, 1857 tersebar diwilayah Pulau Lombok, Sumbawa, Flores, Adonara, Lomblen, dan Alor. Tenggorokan hitam

Suara:
Dua ata tiga nada “ kwuwik-kwk “

Tempat Hidup dan Kebiasaan :
Menghuni hutan primer, hutan sekunder yang tinggi dan hutan pamah yang ditebang pilih, juga hutan perbukitan monsun, hutan yang rusak berat, perdu dan pulau-pulau kecil lepas pantai dari permukaan laut sampai ketinggian 1500 mdpl.

  1. Cikukua Tanduk ( Philemon Buceroides Neglectus )

 

Philemon Buceroides Neglectus

Philemon Buceroides Neglectus

Deskripsi :
Berukuran besar (33 cm), leher ramping berwarna kusam, kulit muka gundul hitam, dengan atau tanpa kenop di pangkal paruh (ras di selatan berkenop), paruh melengkung ke bawah, mahkota dan tengguk berbulu. Jenis yang mirip: dua namdur Chlamydera lehernya lebih pendek, kepala keras dan paruh tumpul. Kepudang coklat lebih kecil (dewasa berparuh merah) tanpa kulit gundul di sekitar mata. Kepudan dan burung-ara betina tubuh bagian bawahnya bercoret gelap. Terdiri dari 10 sub-spesies untuk ras jenis Neglectus (Büttikofer, 1891) penyebarannya diwilayah Pulau Lombok, Sumbawa, Moyo, Sangeang, Komodo, Rinca, Flores, Besar, Adonara, Lomblen, Pantar, Alor dan Sumba, di Sunda Kecil.

Suara :
Bagian mencolok dari kicauan senja hari dengan rangkaian variasi nada yang berulang-ulang, keras, parau, mengalir berirama, antara lain:”keeyo keeyoway…” atau “kowee ko keeyo…” diulang terus menerus. Umum dijumpai sedang bernyanyi duet atau berkelompok.

Tempat Hidup dan Kebiasaan :
Umum dijumpai di kebun, kota kecil, tepi hutan dan aliran sungai melalui hutan, dari ketinggian permukaan laut sampai 1000 m (jarang sampai 1500 m). Pada ketinggian yang lebih tinggi terbatas di habitat yang terganggu. Hidup di kanopi, paling umum di habitat yang terganggu. Mencolok dan bergerombol. Sering bertengger di puncak cabang pohon mati, bersuara keras dan terus menerus. Sering agresif berkejaran diantara sesama jenis dan juga burung lainnya. Memakan buah, serangga, nektar.

Sebagai penutup dari artikel ini kami berkesimpulan bahwa BKSDA Kerandangan memiliki peranan yg begitu penting bagi kawasan disekitarnya terutama sebagai suksesi dari konsep pengembangan industri pariwisata berkelanjutan di Pulau Lombok khususnya di wilayah Senggigi. Selain berperan sebagai Zona Inti (Zona Konservasi Alam) dan Zona Buffer (Zona Penerimaan), BKSDA Kerandangan juga bisa diberdayakan sebagai Zona Pengembangan (Zona Aktivitas Wisata) tapi sifatnya harus terbatas agar eksistensi dan kelestarian kawasan konservasi ini tetap terjaga.

Harapan kami eksistensi dan kelestarian kawasan konservasi ini akan terus dipertahankan jangan sampai terjadi eksploitasi berlebihan karena adanya desakan dari pemilik modal. Kami menilai tata kelola BKSDA Kerandangan sangatlah baik dengan luas area hanya 396,10Ha dan berlokasi di tengah-tengah pusat pengembangan industri pariwisata tetapi dikawasan konservasi ini fauna berbagai jenis bisa hidup dengan nyaman karena hutannya yg masih sangat terjaga.

Tata kelola BKSDA Kerandangan bisa dijadikan contoh bagi BKSDA lain di Indonesia dan harapan terbesar kami kepada Ibu Siti Nurbaya Bakar selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk bisa mempertimbangkan perluasan kawasan BKSDA Kerandangan. Semoga harapan kami bisa menjadi kenyataan. Amiin.

Created By Jap, Firman, Sinjai Saif & Ura

(JakartaGreater Biro Lombok mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan BKSDA Kerandangan)

Bagikan :

  37 Responses to “Adventure Journey JakartaGreater Biro Lombok di BKSDA Kerandangan”

  1.  

    panjang banget

  2.  

    keren

  3.  

    Jos gandos panjangnya bung….

  4.  

    Kekayaan flora & fauna bangsa ini memang sangat menakjubkan, orang tua-tua dulu tidak salah pernah mengatakan bahwa Allah telah meletakan surganye ke dunia, dimana..?? Ya ini disini.!!! ” INDONESIA “….semuanye ada disini, negara laen blm tentu punya / ada..

    …NKRI HARGA MATI…

  5.  

    INDAHNYA NEGERI SETENGAH MERDEKA

  6.  

    Mantaf , bravo biro lombok

  7.  

    Bung Diego & Gue…. Makasi banyak karena artikel rekan2 Biro Lombok bs ditampilkan & Salam hangat dari kami.

  8.  

    artikel yang berbeda dan menyejukkan setelah hingar bingar politik dan simpang siurnya rencana pengadaan alutsista dinegeri tercintaku ini.

  9.  

    Hebat bung, bravo biro Lombok

  10.  

    Keren..kyk discovery channel..

  11.  

    jadi pungin liburan nih

  12.  

    Inilah kekayaan kita.. sangat menyenangkan rasanya bila berkesempatan keluar dari hiruk pikuk lalu menikmati “surga” alam Indonesia bertemu burung2, kera dan jika beruntung macan kecil. Benar sekali bung, pariwisata di negeri ini (sebagian) masih menyedihkan dan bersifat merusak. Padahal banyak hal yg unik di negeri ini spt komodo, pantai pink (pasirnya berwarna merah muda), kawah api biru, candi2, salju tropis dll.

  13.  

    Sayang sda masih banyak dikuasai asing,kapan merdekanya yaaa,

  14.  

    Itu siapa yang pakai kaos hitam BIGREDS Lombok? Salam YNWA. There is only one UEFA Badge of Honour in England.

    •  

      Bung Elside A…. Salah satu sahabat saya Bung. Saya jg suka LiverpoolFC, ada banyak nilai-nilai hidup yg kita bs jadikan pembelajaran. Loyalitas, sportivitas, makna dibalik kata ” You’ll Never Walk Alone” dlm kali, termasuk kata2 ini ” No matter what your colour is, No matter what your religion is, No matter what your nation is, we all brothers & sister. We are Liverpool. Tujuan Nilai2 yg coba dibangun dlm kalimat tu sama dgn yg negara kita coba terus bangun dan jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa dlm ke Bhineka an.

      •  

        Hi bung Jap. Senang sekali ketemu sesama penggemar The Reds di sini. (Maaf ya min, sedikit OOT). Bung Jap, apakah Anda sudah bergabung di group Liverpool Indonesia Fans Club di facebook? 🙂

  15.  

    Mohon jangan di gadaikan negri indah ini, apa lagi ke ASu pembawa bencana !!!

  16.  

    Parawisata selalu akan membawa dampak…dampak baik ataupun buruk…..untuk mengeliminir dampak buruk dlm parawisata hanya dengan kearifan lokal yg kuat,hukum yg jelas dan tegas…pemerintah daerah yg kompeten….tidak asal duit masuk,dengarkan masukan masyarakat yg bersinggungan langsung dengan tempat2 parawisata…barulah parawisata akan bermanfaat besar,…contoh depan mata adalah BALI, kurang bagimana bali dengan parawisatanya,tetapi bali sekarang sungguh jauh dari yg namanya tempat parawisata yg ideal,kenapa? lihat tingkat kejahatan yg naik terus,lihat mental warga lokal yg menurut saya sperti kurang perhatian,lihat prilaku masyarakat yg lebih komsumtif dan kebanyakan hanya menjadi penonton dan hamba yg hanya melayani paraturis…..lihat anak-anak remaja lokal yg lebih melihat ke atas,dan tidak membumi,ini yg sebenarnya yg harus di Revolusi Mental….

  17.  

    Makasih selingan artikelnya Bung……., teringat perjalanan jalur selatan KA, negeri ini kaya, ijo royo2, semua bisa tumbuh, dengan sabit dan cangkulpun bisa hidup dan bahkan menghidupi yg lain tanpa bantuan negara lain……….moga kekayaan negeri ini digunakan unt kemakmuran rakyatnya. Amin

  18.  

    indahnya negeriku…

  19.  

    Foto2nya (hewannya) bagus, trims

  20.  

    Artikel yang mantap, bagus banget lagi …
    Saya mau sedikit curhat aja neh :
    ‘Warjag yang saya kenal sedikit demi sedikit telah berubah’ …
    Setiap manusia memang mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi sebuah persoalan.
    Tetapi ‘etika’ berkomunikasi seakan hilang entah kemana ?
    Perbedaan demi perbedaan disampaikan hendaklah disampaikan dengan santun.
    Sesuatu yang ‘benar’ bila disampaikan dengan cara yang tidak ‘pas’ maka hasilnya pun tidak maksimal.
    Come on ‘warjagers’ mana rasa kekeluargaan yang dulu begitu kental? Hilang kah sudah demi sebuah golongan ?
    Saya sebutkan contoh terkait perdebatan Tank Leopard sesungguhnya saya mengagumi tiap argumentasi yang dikeluarkan termasuk bung melektech, walaupun dari segi bahasa komunikasi menurut saya tidak ‘pas’ …
    Saya hanya rindu suasana diskusi yang dulu, berbobot namun santun serta mengayomi bagi yang awam tentang dunia militer termasuk saya.
    Salam tabik …

  21.  

    Terima kasih sudah berbagi bung JAP, kereeenn apalagi foto2 hewannya, bagus2… 😀

  22.  

    Terimakasih, liputannya keren banget bung. menambah wawasan kita-kita yang jarang bepergian keluar kota atau keluar pulau.

  23.  

    Mantap masbro, baca artikel ini jadi inget waktu masih tugas petualangan keliling plosok daerah. (yah skrng udah kekunci di wilayah timur RI,) apa boleh baut, emang udah begitoh (syukuri aja di mana tempat ane hidup) mengisi jaring nasional yg harus di jaga. eh ya BUNG JAP,ngomong2 gimana tuh oleh2 dari lombok,he.he.he..ma’af ane kan perokok nih (kebiasaan jelek)
    mau nanya dikit, mangsih adakah? (produksi) tembako senang, (tembako top lombok) yg jumlah sangat sedikit tuh. maaf cuma nanya
    salam bung

  24.  

    keren bung jap…
    lanjutkan ..

  25.  

    terima kasih bung artikel mantab..foto2 juga bagus. memang harus seperti ini kita sebagai bangsa indonesia kekayaan alam kita melimpah jgn sampai keturunan kita nanti hanya mendengar cerita saja. banyak sekali wilayah kita yang nyaris “hilang”..salut bung. perbanyak artikel seperti ini bung diego/gue

  26.  

    mantap…!!!!

  27.  

    Salut bang,
    Dengan Melestarikan Setidaknya Masih ada Yang Tersisa
    Untk Anak & Cucu kita Kelak,..

  28.  

    ke jaok laik de amaq

 Leave a Reply