Feb 122019
 

JakartaGreater.com – Militer AS dijadwalkan akan memberikan pada pemerintah Afghanistan sebanyak 159 unit helikopter Black Hawk UH-60 sebagai bahagian dari upaya memodernisasi Angkatan Udara Afghanistan (AAF) serta membuat Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan (ANSF) tak bergantung lagi kepada pesawat koalisi untuk operasi mereka, seperti dilansir dari laman News REP pada hari Minggu.

Namun, laporan dari Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) telah mempertanyakan kemampuan dari militer Afghanistan untuk bisa mengoperasikan Black Hawk karena kurangnya pilot yang terlatih dan personel pemeliharaan darat disana.

Selain dari AAF, beberapa helikopter ini ditakdirkan untuk Special Mission Wing (SMW) elit. Didirikan pada tahun 2005, SMW elit adalah krim hasil panen AAF. Dengan sekitar 800 orang personel, unit elit tersebut awalnya dirancang untuk mendukung operasi kontra-narkotik di Afghanistan.

Catatannya yang luar biasa dan meningkatnya intensitas pemberontakan oleh Taliban, menyebabkan SMW memperluas misinya dengan memasukkan operasi kontra-terorisme, termasuk untuk mengangkut Pasukan Khusus dan Pasukan Komando Afghanistan.

Helikopter Sikorsky UH-60A+ Angkatan Udara Afghanistan. © US Air Force

Program tersebut menetapkan bagi kontraktornya untuk memberikan pelatihan kepada pilot dan insinyur. Hingga kini sebanyak 16 unit Black Hawk pun telah dikirimkan. Sisanya dijadwalkan tiba di Afghanistan dalam batch, dengan yang terakhir direncanakan tiba pada tahun 2023 mendatang.

“Mengingat ada kekhawatiran bahwa Angkatan Udara Afghanistan dan Special Mission Wing mungkin tidak dapat sepenuhnya menggunakan seluruh 159 unit helikopter saat dikirim”, kata laporan SIGAR, “Departemen Pertahanan Amerika Serikat menjalankan risiko membuang dolar pembayar pajak AS untuk membeli helikopter bagi AAF dan SMW tapi tak bisa menerbangkan atau merawatnya”.

Proyek tersebut telah dimulai pada 2017 dengan pelatihan kelompok awal pilot Afghanistan. Pada bulan Mei 2018, batas waktu yang ditentukan untuk pilot berkualifikasi pertama, 15 tentara Afghanistan telah “berhasil” lulus pelatihan dan dianggap memenuhi syarat untuk menerbangkan helikopter UH-60 dalam operasi tempur. AAF menerbangkan misi operasional UH-60 pertamanya pada bulan Mei 2018 silam.

Helikopter Mi-17 Angkatan Udara Afghanistan © Sgt Deanne Hurla via Wikimedia Commons

Sejauh ini, AAF dan SMW telah menggunakan MI-17 buatan Rusia, yang dapat terbang lebih tinggi dan memiliki kapasitas mengangkut beban penumpang jauh lebih besar daipada UH-60 butan Amerika Serikat. Namun, UH-60 diklaim lebih bermanuver dan lebih kecil dari MI-17 buatan Rusia, membuatnya menjadi lebih kecil kemungkinannya untuk ditembak jatuh. Armada AAF memiliki sekitar 50 unit helikopter MI-17 dan sedang berjuang memenuhi persyaratan operasional.

Menurut laporan SIGAR, salah satu permasalahan utama yang dihadapi proyek adalah ketidakmampuan pilot dan insinyur Afghanistan yang sebelumnya dipilih untuk mencapai kecakapan yang cukup dalam bahasa Inggris, dan khususnya dalam bahasa teknis yang diperlukan ketika mengoperasikan dan memelihara airframe yang sangat kompleks.