AFRL Perkenalkan Loyal Wingman Baru, Skyborg

Demonstrator Kratos XQ-58A terbang perdana © US Air Force

JakartaGreater.com – “Kamu bisa menjadi wingman saya kapan saja.” Pada masa depan, Iceman dari film Top Gun bisa saja mengatakan kata-kata itu ke versi kecerdasan buatan (AI) dari Maverick daripada penerbang sungguhan yang dimainkan oleh Tom Cruise, tulis C4ISRNET.com pada hari Jumat.

Setidaknya, itulah situasi yang mungkin akan dilakukan oleh Laboratorium Riset Angkatan Udara (AFRL) Amerika Serikat dengan program Skyborg-nya saat ini.

Will Roper, asisten sekretaris Angkatan Udara AS untuk akuisisi, teknologi dan logistik, membayangkan Skyborg sebagai wingman AI yang akan melatih dan belajar bersama para pilot yang nantinya menjadi semakin terampil, selaras dengan kebutuhan pilot, dan siap menghadapi gempuran ancaman yang manusia bisa sulit untuk memprosesnya.

Upaya ini masih dalam masa pertumbuhan, sementara AFRL saat ini masih dalam proses membangun entitas AI dengan para akademisi. Namun, Roper mengatakan ada dana yang melekat dalam upaya ini, dan layanan ini mempertimbangkan mengintegrasikan Skyborg dengan pesawat tak berawak (mungkin Boeing QF-16, Kratos siluman XQ-58 Valkyrie atau drone target BQM) di masa depan.

Target udara (drone) BQM-74E Angkatan Laut AS © US Navy via Wikimedia Commons

“Saya tidak ingin ini hanya menjadi sebuah proyek laboratorium yang hidup dan mati di sana dalam cawan petri. Saya ingin ini menjadi program”, katanya kepada wartawan di sebuah konferensi, pada hari Rabu. “Saya ingin melihat demonstrasi operasional yang nyata dalam beberapa tahun. Dan saya akan dorong mereka untuk lebih cepat dari itu”.

Roper membandingkan Skyborg dengan R2-D2, droid dalam film Star Wars yang berfungsi sebagai asistennya Luke Skywalker ketika ia mengemudikan X-Wing dan Watson, AI yang dikembangkan oleh IBM untuk menjawab pertanyaan dengan lebih baik daripada juara Jeopardy.

Jika Skyborg terintegrasi dengan pesawat murah dan dapat dihabiskan seperti Valkyrie, seorang pilot dapat mengirimkannya ke wilayah udara yang padat serta penuh dengan musuh dan menghindari bahaya. AI bahkan mungkin dapat merespons ancaman lebih cepat daripada pilot manusia.

Atau, itu bisa berfungsi seperti Siri Apple, kehadiran yang diaktifkan suara di kokpit yang merespons – atau bahkan mengantisipasi – perintah pilot, kata Roper.

The QF-16 Full Scale Aerial Target will provide the next generation of combat training and testing for U.S. warfighters. © Boeing

“Saya berharap hal pertama yang akan kita lakukan tidak akan terlihat se-seksi apa yang mungkin Anda bayangkan dalam sebuah film, akan tetapi semua benar-benar mengubah permainan”, katanya.

Apa tepatnya demonstrasi pertama itu masih belum diputuskan. Pada titik tertentu, Roper mengatakan dia ingin melihat Skyborg dimasukkan ke dalam simulator untuk berlatih bersama dan melawan pilot manusia. Dia juga ingin memasukkan AI ke dalam pesawat nirawak untuk menguji seberapa baik ia dapat mengidentifikasi objek yang berbeda dan apakah itu mengirimkan data yang baik ke pilot.

Tetapi Roper menjelaskan bahwa pilot manusia tidak akan menghilang dalam waktu dekat, atau mungkin selamanya.

“Itu akan membuat mereka lebih penting. Kita akan meminta mereka untuk melakukan lebih banyak lagi, yang bukan hanya untuk menerbangkan pesawat lawat yang cepat dan mematikan. Kita akan meminta mereka untuk menerbangkan pesawat itu dan kemudian quarterback tim pesawat dengan mereka. Saya pikir ini akan membuat pilot menjadi lebih menarik”, katanya.

Ketika Skyborg berevolusi, Angkatan Udara harus bergulat dengan sejumlah pertanyaan, kata Roper. Contohnya:

  • Berapa banyak tanggung jawab yang harus dimiliki seorang wingman AI?
  • Misi apa yang bisa diterbangkannya?
  • Bisakah itu secara otonom membuat keputusan untuk menembakkan senjata?
  • Apakah itu berubah berdasarkan seberapa banyak yang telah dipelajari sistem selama masa pakainya?

“Saya ingin mencari jalan untuk masalah seperti itu”, kata Roper, menambahkan bahwa pertanyaan-pertanyaan diatas tak dapat diatasi karena kinerja Skyborg dalam pengujian dapat membantu Pentagon mengetahui dengan tepat seberapa banyak otonomi yang seharusnya dimiliki.

Masalah lain adalah entitas apa di Angkatan Udara AS yang akan bertanggung jawab untuk mengelola Skyborg setelah menjadi program yang lengkap. Perangkat lunak untuk pesawat terbang biasanya dikelola oleh kantor program platform itu. Tetapi, jika Skyborg memakai QF-16 mungkin tidak masuk akal jika kantor QF-16 memiliki perangkat lunak tersebut jika Angkatan Udara AS ingin menggunakan data itu dengan cara lain, kata Roper.

Itu semua adalah tantangan yang harus dihadapi Angkatan Udara, atau risiko tertinggal dari pesaing seperti China, yang saat ini juga memprioritaskan investasinya dalam bidang kecerdasan buatan (AI).

Tinggalkan komentar