May 242012
 

Meriam 155mm Caesar Indonesia

Kepala Staf TNI AD Jenderal Pramono Edhie Wibowo sedang mendatangkan meriam 155mm Caesar buatan Prancis, serta laras panjang lainnya, untuk pasukan Kodam XII/Tanjungpura, dalam menjaga perbatasan dengan Malaysia di Kalimantan Barat.

Untuk tahap awal, Kodam XII/Tanjungpura akan dilengkapi satu Batalyon Altileri Medan dengan mengusung sekitar 30 meriam 155mm Caesar. Hal ini disampaikan KASAD saat mengunjungi Makodam XII/Tanjungpura, Pontianak.

Meriam 155mm Caesar adalah self-propelled howitzer bergerak, yang dipasang di atas truk Unimog 6×6. Dengan pengisian proyektil otomatis, meriam 155mm ini siap menembakkan 18 munisi dalam hitungan menit.

Howitzer 155mm Caesar


Howitzer Caesar dioperasikan oleh 3 hingga 5 kru dan bisa diangkut pesawat C130 Hercules untuk digerakkan dengan cepat. Di jalan beraspal, howitzer ini melaju hingga kecepatan 100 km/ jam. Sementara di medan off-road 50km/jam. Meriam otomatis ini memiliki jarak tembak 42 km (munisi ERFB) atau 50 km untuk munisi roket

Batalyon Armed Caesar 155mm, bertugas sebagai supporting Batalyon Kavaleri yang membawa MBT Leopard 2A6. Pada tahap awal Kavaleri ini akan diperkuat 40 MBT Leopard 2, dipadukan dengan puluhan light tank lainnya. Batalyon kavaleri ini akan ditempatkan di kabupaten Bengkayang.

Kodam XII/Tanjungpura bertugas mengamankan wilayah Kalimantan Barat dan Tengah. Sementara Kodam VI/Mulawarman menjaga wilayah Kalimantan Timur dan Selatan.

Untuk mengamankan perbatasan Kalimantan Timur, Kodam VI Mulawarman akan dilengkapi peluncur roket multi laras MLRS. Kini Kodam Mulawarman sedang membangun pangkalan MLRS di wilayah Berau Kalimantan Timur. MLRS yang akan mereka gunakan kemungkinan HIMARS dan Roket Pindad.

Kodam Mulawarman juga akan disuport satuan Skuadron Helikopter Serbu. Informasi terakhir, Skuadron ini akan diisi Helikopter AH 64 Apache.

AH 64 Apache


Boeing AH-64 Apache merupakan helikopter serbu bermesin ganda dengan tandem cockpit untuk dua kru. Helikopter ini memiliki nose yang dilengkapi piranti sensor untuk mengakusisi posisi target, serta kemampuan perang malam (night vision).

AH-64 Apache dipersenjatai M230 Chain Gun 30mm, misil AGM-114 Hellfire serta Hydra 70 rocket pods yang diinstal di 4 sayapnya. Apache dilengkapi berbagai peralatan perang canggih, untuk menjaga kehandalannya dalam bertempur.

“Pengadaan delapan unit helikopter tempur jenis Apache bukan karena ditawarkan begitu saja oleh pihak Amerika kepada pemerintah Indonesia. Rencana pembelian itu dilakukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia”, ujar Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.

Kodam VI Mulawarman akan menggelar latihan pertempuran besar-besaran di Samboja, Semoi dan Sepaku Penajam pada awal bulan September 2012. Latihan ini untuk melihat kemampuan prajurit menggunakan peralatan tempur baru, sistem integrasi antar pasukan, serta menyusun berbagai strategi tempur.(Jkgr).

Bagikan :

  12 Responses to “AH 64 Apache & Meriam 155 Caesar Kalimantan”

  1.  

    bukanya yang nanti dibeli Indonesia helikopter AH-1W Super cobra atau Agusta Westland AW 109LUH

  2.  

    harusnya yang di perbanyak misil air to air sama air to ground…

  3.  

    DiKalimantan harus ada 5 skuadrron!

  4.  

    bukan ide yg baik utk beli senjata dari USA….khususnya helicopter…..baik apache..seasprite..atau chinook…..mending cari produsen heli yg lain saja…terutama dari rusia…..lebih handal dan risiko embargo lebih rendah…..
    krn dikuatirkan USA ini mau jual krn pabriknya mau tutup, bekas…atau sdg ada maksud…..kalau keinginan sudah terpenuhi…bisa2 kita segera di embargo sepihak….kayak jaman clinton dan bush…gawat….

  5.  

    ngak banget deh kalo harus beli produk USA, kayak gak inget ajah 20 tahunan alutsista TNI mati kutu gara2 di embargo uncle Sam!…mending bikin proyek heli serbu nasional ato beli produk Rusia/Prancis deh!..

    •  

      Setuju bro…kayakx kita paling gampang melupakan peristiwa2 penting dlm sejarah perkembangan TNI. Kita udh lupa saat2 F-16, F-5 kita susah terbang karena terbatasnya spare yg di embargo oleh US & lagian apakah US mau berbagi ilmu ttg AH 64 ini, bukankah UU kita mempersyaratkan setiap pembelian alutsista hrs diikuti ToT, Gimana dg AH 64 Apache?. Apa ga mending kembangin PT DI kita utk urusan helly dan Pindad utk armamentx?…bukankah PT DI dah lumayan teruji dlm “membangun” helikopter?…mmg butuh waktu, tp sdh saatx kita tdk lg menggantungkan diri ke negara lain dlm memperkuat TNI.

  6.  

    apakah ini ada hubungannya dengan transaksi lion air yang membeli 201 unit B-737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900 ERS

  7.  

    Saya kira smua masyarakat indonesia sepakat utk tdk membli produk amrik .pengalaman aja sih..masa kita harus jatuh d lobang yg sama..?

  8.  

    bener juga tuch…..ada ToT nya apa kagak…..jangan smpe nanti klo jd perang sama si maling……eh kita kagak boleh pake ato kgk boleh beli peluru bisa runyam dech……punya bedil tapi kagak bisa di tembakan………

  9.  

    Saya rasa para petinggi TNI ada taktik terselubung dlm hal ini,colek para sesepuh.

  10.  

    ko di em lagi mamarika….

 Leave a Reply