Ahli Militer: Perselisihan di LCS Berakhir Jika Kapal Induk AS Tenggelam

Grup tempur kapal induk USS Abraham Lincoln © U.S. Navy via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Ketegangan antara Washington dan Beijing makin meningkat dalam beberapa bulan terakhir, ini di tengah meningkatnya jumlah misi “kebebasan navigasi” oleh Angkatan Laut AS (US Navy) di Laut China Selatan (LCS) dan adanya upaya China untuk meningkatkan kehadiran militernya pada wilayah-wilayah dimana beberapa kekuatan Asia memiliki klaim yang tumpang tindih disana, seperti dilansir dari laman media Australia, News Corp.

Wakil Direktur Akademi Ilmu Militer PLA, Laksamana Muda Luo Yuan telah menyarankan bahwa menenggelamkan 2 kapal induk “super” Amerika, akan menyelesaikan perselisihan seputar Laut China Timur (LCT) dan Laut China Selatan (LCS), tulis News Corp, mengutip media Taiwan.

Berbicara dalam KTT industri militer China pada 20 Desember, Luo membidik militer AS, yang ia gambarkan sebagai salah satu dari “lima landasan” yang merupakan kelemahan AS dimana menurutnya bahwa apa yang paling ditakuti oleh AS adalah banyaknya korban yang jatuh dipihak mereka.

Sistem rudal balistik anti-kapal supersonik CM-401 buatan China © Bharat-Rakshak

Menunjuk pada peningkatan kemampuan rudal anti-kapal dan rudal jelajah China, katanya sekarang mampu menembus pertahanan para pengawal dari kapal induk, Luo mengatakan bahwa hancurnya satu kapal induk akan membunuh 5.000 prajurit AS, sementara bila ada dua kapal induk yang hancur maka akan menggandakan kerugian.

“Kita akan melihat betapa menakutkannya kejadian itu bagi Amerika”, katanya.

Berbicara lebih luas, Luo mengatakan bahwa dalam berurusan dengan Washington, Beijing harus “menggunakan kekuatan untuk menyerang kelemahan musuh. Menyerang apa yang paling ditakuti oleh musuh bila itu hancur. Apa saja yang jadi kelemahan musuh, itu harus fokus dikembangkan”.

Dalam perdagangan, misalnya, laksamana menyarankan bahwa China memiliki 3 tawaran, termasuk ekspor kedelai dari Iowa, negara bagian yang harus dimenangkan Trump dalam pemilihan 2020, industri otomotif AS yang ia sebut “kelas dua”, dan juga pabrik pesawat terbang yang sangat bergantung pada pembelian China.

Pecahan 100 dollar, mata uang Amerika Serikat © MarketWatch.com

Luo menyarankan bahwa “lima landasan” yang dapat digunakan Tiongkok untuk menekan AS termasuk militer, dolar, talenta, sistem pemilihan umum dan ketakutan Amerika Serikat terhadap musuh.

Pada hari Senin, 31 Desember 2018, Presiden Trump menandatangani rancangan undang-undang (RUU) “Inisiatif Reasuransi Asia 2018” menjadi undang-undang. Menurut Gedung Putih, undang-undang tersebut memberikan otorisasi senilai $ 1,5 miliar untuk melawan pengaruh strategis Tiongkok di seluruh dunia, menetapkan strategi berlapisnya untuk bisa memajukan kepentingan keamanan dan ekonomi AS di kawasan Indo-Pasifik.

Bulan lalu, sebuah think-tank Center of Strategic and Budgetary Assessments (CSBA) yang berbasis di Washington memperingatkan bahwa US Navy berisiko kehilangan keunggulan, mengingat kesulitan dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh kekuatan besar seperti China dan Rusia. Ancaman-ancaman ini termasuk kemampuan rudal negara-negara tersebut beserta kapasitas AS yang tidak memadai untuk melawan mereka dengan sistem pertahanan rudal yang ada saat ini.

China dan enam negara lain termasuk Brunei, Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam dan Taiwan saling bersaing klaim atas Laut China Selatan, jalur air strategis dan penting secara ekonomi dimana sekitar ada $ 5 triliun perdagangan global per tahun melewatinya.

Sembilan garis putus-putus yang diklaim oleh China © UNCLOS, CIA via BBC News

China mengendalikan sebagian besar kepulauan serta terumbu karang di wilayah tersebut, dan telah membangun sejumlah pulau buatan dalam upaya untuk lebih memperkuat klaim.

Beijing bersikeras untuk menegosiasikan masalah ini ditingkat regional, dengan AS beralih pada misi kebebasan navigasi untuk menentang klaim China. Dalam perselisihan terpisah, China, Jepang dan Korea Selatan memiliki interpretasi yang saling bersaing mengenai luas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) mereka masing-masing diwilayah Laut China Timur, jalur air penting lainnya yang juga strategis.

Tinggalkan komentar