Jul 302017
 

Bogor – Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB) Prof Indrajaya merekomendasikan agar pemerintah membentuk satuan tugas dan menamainya Satgas 007 Garam sehingga bisa mentuntaskan untuk mengatasi persoalan kelangkaan garam nasional.

“Saran saya, pakai gaya Pemerintah Jokowi-JK sekarang ini, bentuk Satgas 007 Garam,” ujar Prof Indrajaya kepada Antara pada Sabtu 29 Juli 2017 di Kota Bogor, Jawa Barat.

Guru Besar Tetap FPIK-IPB itu  menjelaskan, pembentukan Satuan Tugas 007 diperlukan sebab melalui Satgas ada usaha yang total untuk mentuntaskan persoalan garam dan personel Satgas melibatkan lintas sektor.

Keberadaan Satgas 007 Garam juga tidak boleh dibatasi pada persoalan penindakan saja, tetapi juga pada persoalan bagaimana menggiring setiap pihak untuk patuh pada aturan atau sistem yang dianut.

“Jadi, kalau memberangus pencurin ikan yang banyak mafianya itu sukses dengan Satgas 115-nya. Nah, untuk garam bentuk saja Satgas 007 Garam. Insya Allah dalam waktu singkat persoalan garam akan beres,” ungkap Prof Indrajaya.

Menurutnya, untuk mengatasi persoalan garam yang terjadi sekarang ini, dibutuhkan kemauan serius pemerintah dalam mengembangkan industri garam, sebab persoalan teknis relatif mudah untuk diselesaikan.

Prof Indrajaya mengatakan, negara sekelas India mampu memproduksi garam lebih baik dan ekonomis dari pada Indonesia. Sementara dalam penerapan teknologi produksi garam sama dengan yang dilaksanakan yakni teknik alami Evaporasi (penguapan).

Menurut Guru Besar Tetap FPIK-IPB, kesuksesan India memproduksi garam berkelanjutan dapat diadopsi oleh Indonesia, dengan memetakan secara keseluruhan dari hulu-hilir dan dimulai dari sistem produksi.

“Atau dapat juga mulai dari hilir dan tarik ke belakang ke arah hulu. Yang penting kita harus serius dan sungguh-sungguh, berkomitmen penuh dan menyadari bahwa garam ini sudah menjadi harga diri bangsa. Masa bangsa yang berangan-angan menjadi Poros Martim dunia tidak bisa menyelesaikan masalah garam ini,” ungkap Prof Indrajaya.

Guru Besar Tetap FPIK-IPB itu mengatakan, dirinya bersama mahasiswa pernah melakukan riset tentang bagaimana mendapatkan garam yang berkualitas dengan sistem Evaporasi seefisien mungkin. Riset tersebut berskala kecil (laboratorium) bukan lapangan. Mencoba sistem Evaporasi 2 tahap.

Menurutnya, untuk menghasilkan garam berkualitas perlu kebersihan air laut yang masuk dan dasar tambak diberi alas atau terpal yang bisa disebut dengan geomembrane.

“Jadi ini bukan teknologi tingkat tinggi,” ujar Prof Indrajaya .

Lebih lanjut ia menjelaskan, teknik Evaporasi dengan cara senderhana, air laut yang ada dalam wadah diuapkan dalam sistem semacam rumah kaca. Air laut akan lebih cepat menguap dan tinggal air laut yang berkonsentrasi garam yang pekat atau tinggal dipisahkan atau dialihkan ke wadah lain dan kemudian diuapkan lagi hingga dapat endapan garam.

“Tentu dalam risetnya kami ukur suhu di luar dan di dalam rumah kaca, serta kelembabannya,” uacp Prof Indrajaya.

Selain membentuk Satgas 007 Garam, Prof Indrajaya juga merekomendasikan agar pemerintah melanjutkannya dan membenahi program yang sudah dikembangkan dulu sejak 2011 yakni pemberdayana usaha garam rakyat (PUGAR) dan Non PUGAR (swadaya masyarakat).

“Yang penting dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan,” ujar Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor  Prof Indrajaya. Dirilis Antara 29 Juli 2017.

Bagikan:

  10 Responses to “Akademisi: Bentuk Satgas 007 Garam”

  1.  

    13 Petak Garam Maduranet…

    •  

      Jangan buru-buru nurunin harga, biarlah sekali-kali petani garam dapet rejeki nomplok setelah lama garam mereka harganya segitu-gitu aja…

      •  

        Kalo yg menikmati petani garam sih OK banget. Lha ini yg nikmatin konco2 ente para mafia itu lho yg meresahkan. Kemaren ada mafia cabe, sebelumnya mafia daging, sebelumnya lg mafia kedele. Sekarang kok garam yg diobok2 konco2 ente. Pake alasan curah hujan tinggi jd gak bisa menghasilkan garam dng teori dan dalil ilmu antah berantah yg dibawa. Dulu thn 2005 yg saat perubahan iklim dan badai elnino jg melanda sehingga banjir hampir disebagian besar kawasan Indonesia, toh harga garam nornal saja harga cabe juga tdk menyaingi harga emas. Berulang lg di 2010 tp tetap jg harga normal dlm arti kata kenaikan wajar yg tidak sampe melambungkan harganya.
        Paling enak memang menyalahkan cuaca. Nanti begitu musim kemarau datang alasannya lahan pertanian kering karena waduknya kering akibat banyak hutan yg digunduli. Garam tdk bisa diproduksi krn petani garam menunggu harga garam bagus dipasaran. Muter2 disitu aja alasannya demi membuka kran impor.
        Wessss….dagelanne lucu banget sak lucu lucune mas broo….xixixi

  2.  

    lagian masak jangan terlalu asin nanti disangka pengen kawin :v

  3.  

    dr dulu saya punya uneg2 kalau bikin industrialisasi garam dgn teknik evaporasi, dan baru kali ini saya dengar (baca) dr kalangan akademisi.
    dgn teknik penyulingan tsb bisa menghasilkan 2 produk sekaligus, air bersih dan garam.

    gara2 garam banyak terjadi KDRT

  4.  

    Gara2 garam mahal di madura MBAH BOWO pergi jadi TKI…xixixi

  5.  

    Biasa, produksi dalam negeri dikondisikan mahal supaya bisa impor. Sudah banyak terbukti pada komoditi lainnya.

  6.  

    Wah ada positifnya juga kalau garam mahal.

    Berarti ngirit penggunaan garam.

    Artinya mereka yg punya hipertensi jadi mudah menghindari yang asin-asin.

 Leave a Reply