Des 112016
 

ilustrasi : Destroyer KDX Korea Selatan

Berbicara tentang kapal perang permukaan, maka tidak akan terlepas dari konsumsi bahan bakar yang harus disediakan. Kapal perang tidak didisain untuk hemat, tapi lebih ke persoalan performa. KRI Todak yang berukuran 57 meter memiliki tangki BBM 150 ton. Jika berlayar sehari dengan kecepatan ekonomis 15-18 knot, kapal ini menghabiskan BBM 18 Ton. BBM itu akan habis saat kapal berlayar selama 8 hari. Kalau kecepatannya ditingkatkan, konsumsi BBMnya melonjak dan bisa membuat cenat cenut kepala sang Komandan.

Bagaimana jika korvet atau frigate yang dikerahkan untuk patroli di perairan Indonesia yang luas, BBM yang dibutuhkan berlipat-lipat. Sementara Indonesia yang merupakan negara kepulauan merupakan sebuah keniscayaan, yang kini diwujudkan untuk mendapatkan keuntungan darinya, lewat visi poros maritim.

Selain itu, dunia kemaritiman Indonesia menghadapi dilema yang cukup serius dalam menangani praktik penangkapan ikan secara ilegal atau illegal fishing yang terjadi di perairan Indonesia. Tugas TNI Angkatan Laut dalam mengamankan teritori di Indonesia nyatanya tidak bisa berfungsi maksimal. Sebab, dana anggaran bahan bakar minyak untuk kapal-kapal patroli laut sangat minim. TNI bahkan sampai harus berutang Rp 6 triliun untuk mengoperasikan kapal patroli.

“Selama ini, kami utang ke Pertamina, utang jadi makin banyak. Utang terakhir TNI itu sekitar Rp 6 triliun, nggak tahu tuh mau diputihkan atau bagaimana,” kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko saat itu, seperti yang dikutip Kompas.com (17/11/2014).

Negara seperti Rusia pun tampaknya menyadari bahwa opoerasional kapal perang identik dengan kebutuhan konsumsi bahan bakar yang besar. Sementara tantangan geopolitik Rusia semakin besar. Untuk mulai tahun 2016, Rusia mulai membangun delapan kapal penghancur bertenaga nuklir terbaru. Bobot kapal penghancur baru ini akan mencapai 17.500 ton, dengan panjang 200 meter dan lebar 20 meter. Kapal mampu bergerak dengan kecepatan hingga 30 knot (sekitar 55 km/jam) dan melakukan misi selama 90 hari tanpa memasuki pelabuhan.

Pembuatan kapal penghancur nuklir Leader telah dimulai. Ada delapan kapal yang hendak dibangun, dan kapal utama akan dibangun dalam periode militer 2020 – 2025. “Kepentingan geopolitik baru muncul dan kini kita perlu hadir di bagian-bagian terpencil planet Bumi. Kapal Leader akan membantu AL Rusia menghadapi tantangan di semua samudra dunia,” ujar Mantan Deputi Komando Angkatan Laut Rusia Laksamana Igor Kasatonov seperti yang dikutip Indonesia.rbth.com.

Reaktor Nuklir BATAN di Serpong, Tangerang, Banten

Mampukah Indonesia membangun kapal perang/kapal patroli yang digerakkan dengan tenaga nuklir ?.

Pada bulan April 2015, Badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN) mengumumkan, konsorsium Rusia-Indonesia menjadi pemenang lelang untuk tahap pre-desain dalam proyek pembangunan reaktor daya nuklir multifungsi di kawasan Serpong, Banten.

Konsorsium tersebut terdiri dari beberapa perusahaan Indonesia, yaitu PT Rekayasa Engineering dan PT Kogas Driyap Konsultan, serta perusahaan Rusia, NUKEM Technologies GmbH, yang merupakan anak perusahaan Rosatom, BUMN nuklir Rusia.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto menyebut reaktor nuklir mini atau Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di Serpong, Tangerang Selatan, untuk keperluan penelitian dengan berkapasitas 10 Mega Watt (MW).

“Kita kembangkan reaktor mini atau PLTN mini dengan kapasitas 10 MW. Roadmap sedang disusun,” kata Djarot saat diskusi PLTN di Mampang Prapatan, Jakarta, (16/6/2015).

Djarot mengatakan, untuk membangun RDE, BATAN memerlukan dana Rp 1,6 triliun. Dana diambil dari sumber Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Reaktor tersebut akan melengkapi reaktor riset yang telah ada sebelumnya. RDE varian terbaru tersebut kini memasuki fase pra project.

Reaktor nuklir mini yang akan dibangun di Serpong adalah Reaktor Daya Eksperimental. Mungkinkah dalam riset ini sekaligus dilakukan penelitian, bagaimana jika raktor itu nantinya bisa juga dipasang dikapal perang Indonesia, untuk kapal perang sekelas destroyer. Pembangunan badan kapal destroyer ini diserahkan kepada PT PAL. Sementara pembangkit tenaga nuklirnya dikerjakan oleh BATAN.

Jika proyek ini bisa berjalan, maka Indonesia akan benar benar mengokohkan dirinya sebagai negara poros maritim. Indonesia adalah negara kepulauan dan membutuhkan banyak kapal. Berbicara masa depan, maka kapal yang digerakkan oleh tenaga nuklir adalah kebutuhan. Dan kini, Indonesia sedang mengembangkan kedua teknologi tersebut. Teknologi membangun kapal besar dan teknologi reaktor nuklir mini.

jakartagreater.com

  130 Responses to “Akankah Indonesia Membangun Destroyer Bertenaga Nuklir ?”

  1.  

    Admin coba beri umpan bagi para pembaca lewat artikel ini. Saya coba respon. Kebutuhan bagi TNI AL itu dinamis. Sekarang ini TNI AL belum perlu destroyer dengan bobot mencapai 17.500 ton, dengan panjang 200 meter dan lebar 20 meter. Kapal mampu bergerak dengan kecepatan hingga 30 knot (sekitar 55 km/jam) dan melakukan misi selama 90 hari tanpa memasuki pelabuhan. Itu saya kutip dari tulisan di atas.
    Kapal destroyer sekarang ini layak di jadikan flagship oleh suatu negara karena dia mampu memberikan efek gentar.
    Kalo gitu jenis kapal perang apa yg boleh di jadikan flagship oleh TNI AL sekarang? Untuk tentukan Kebutuhan tersebut maka tinggal cermati aja uraian berikut :
    1. Kualitas flagship negara tetangga di ASEAN apakah ada yg punya kapal destroyer?, selanjutnya melebar lihat ke AL Cina dan AL Aussi.
    2. Geografis negara Indonesia yg kepulauan dan tentunya banyak selat yg dangkal, cuma Laut Banda yg dalam
    3. Apakah TNI AL (Indonesia) perlu rutin hadir atau punya kepentingan di wilayah yang jauh untuk Ocean Going (OG). Kalau cuma mensupport PBB diwilayah konflik atau menghadapi perompak laut seperti di perairan dekat Somalia apa perlu sampai kapal destroyer?
    4. Siapkah anggaran militer kita untuk menghidupi kapal destroyer?
    5. Kalaupun perlu kapal destroyer apakah harus berpenggerak tenaga nuklir (mini) dan dimensi yg disebut di atas?
    6. Apakah untuk dijadikan flagship cukup hanya dengan kapal jenis real fregat tapi dengan heavy weapon dan tentu saja mampu Ocean Going dengan mantap karena ukurannya yg cukup besar seperti panjang sekitar 140 meter dll.
    6. Dsb

    Sebelum ekonomi Cina jadi hebat seperti skr, apakah Cina punya kapal destroyer? Kalaupun jawabannya ya apakah kapal tersebut punya efek penggetar seperti kapal destroyer milik Cina sekarang?
    Kebutuhan akan kapal destroyer itu akan muncul seiring dengan kemajuan ekonomi.
    Indonesia pasti mengarah ke sana, suatu saat akan perlu kapal destroyer yg punya efek penggetar bagi lawan.
    Usul, mungkin akan lebih ramai dan kritis ditanggapi jika tema tulisan dibuat yang menantang, misal : jenis kapal perang apa yg dibutuhkan TNI AL untuk dijadikan flagship supaya tetap eksis di kawasan? Mungkin saja nanti dari diskusi – kita akan ketemu juga bahwa Indonesia ternyata darurat destroyer, kenapa nggak? Tapi untuk lima tahun ke depan misalnya belum tentu harus yg berpenggerak nuklir dan dimensi yang sangat besar.

    Terimakasih.

  2.  

    Malon menyamar . gowind tidak punya CIWS Untuk menghadang rudal jika lolos dari rudal anti udara sementara PKR punya .Artinya tdak ada blidspot yang tidak bisa di jaga sementara GOWIND hanya menggunakan meriam utama saja . Jelas PKR lebih unggul dari gowind malay.

  3.  

    sigma dulu dioptimalkan..

  4.  

    Yang paling keras menentang kalo RI pengen punya destro bertenaga nuklir adalah para istri pelaut….soale bakalan susah ketemune, xixixixi

  5.  

    Bung Admin tolong bikin Voters lagi buat Theme *DARURAT Destroyer & pilihan Destroyer* + discussion !!! ?

  6.  

    Paling murah untuk patroli..kapal markas sekelas LPD yg standby dilautan(dititik2 tertentu)..berisi radar yg kuat..drone…kapal pengejar+KCR..satu lagi Citra satelit..yg tersistem dan terpusat..kalo kapal markasnya pengen kuat cukup beli rudal kontainer..dia bisa beroperasi secara mandiri atau dihubungkan dengan radar yg dibawa kapal markas..dilihat masa sekarang..yg akan beroperasi secara maximal..baru Citra satelit(proyek ASTINA..baca berita yg dulu ada)..nah kalo sudah jalan tinggal kita menggerakkan kaki2 ke garis depan dengan alat kapal markas(sebenarnya pos dilautan besok fungsinya)..menurut saya ini baru efisien…sebagai patroli wilayah cukup dengan drone..dari titik ke titik..kalo pengen mantap diiringi kapal2 sekelas FPB..KCR fungsinya hanya back up..utk yg lebih keras..ini juga sebagai peringatan dini jika diserang dari lautan..dan lapis terluar untuk pertahanan..kalo kapal Destro dengan tenaga nuklir..mungkin kedepannya pasti bisa soalnya teknologi pasti berkembang…

  7.  

    Judulnya salah.

    Harusnya akankah pemerintah membeli destroyer bertenaga nuklir jika diproduksi.
    Karena perusahaan dalam negri kita bukannya ga bisa bangun destroyer yg begituan, tapi yang ditakutkan itu kalo sampe ga dibeli oleh pemerintahnya.
    Dana research dan pembangunan dibidang militer itu sangat mahal. Dan perusahaan ga akan berani bertaruh dalam hal yg begituan.
    Faktor lainnya yaitu negara kita bukan negara yg mau untuk mengedepankan pembelian sesuatu yg prestisious.
    BAnyak contohnya.

    1. Mulai dari kapal induk spanyol ga jadi dibeli oleh indonesia.
    2. Pesawat su 35 koar2 tp hasilnya ga jelas.
    3. Apache juga
    4. Helicopter angkut. Yg made in indonesia ada tp malah beli produk luar

    Beda sama negara amerika yg mana pmerintahnya yg menuntut segalanya harus modern dan mematikan.

  8.  

    kebiasaan orang Indonesia klo ngeliat yg hemat and berteknologi tinggi jawabnya baru mau, akan, negosiasi, kelak, esok, mudah2an….terusin Ampe kiamat….

  9.  

    @bung DIEGO bukankah anak negeri sudah menemukan teknologi PLTM aji saka greener dari kediri kenapa itu gak diangkat oleh pemerintah. Asli karya anak bangsa Indonesia

  10.  

    Udah pake pembangkit listrik tenaga air kencing aja. Bebas polusi bebas emisi dan stoknya gak abis2 gan…….

  11.  

    Jgn ditanya lagi, sudah sewajarnya negera sebesar ini harus memiliki kekuatan maritim yg dimerindingin semua negara..

  12.  

    spertinya indo masih blom mampu untuk mengolah nuklir untuk ditempatkan di kapal perang.. dari pada seperti itu mending untuk keperluan listrik yg selama ini masih dianggap kurang & untuk ilmu kedokteran saja.. apalg bung kasamago bilang perlu AL yg buat merinding dunia..? sya rasa indo terlalu mimpi kalo mau buat AL yg buat merinding dunia.. maaf bukannya pesimis tp orang2 indo yg pintar2 & jenius2 sudah pd kabur alias pindah kewarganegaraan akibat tdak di perhatikan oleh pemerintah indo… maka dari itu indo agak susah untuk maju krena sedikitnya SDM yg qualefied…

  13.  

    y….betol.cakap ente.gowind malon terjaguh sedunia.bahkan mungkin lebih canggih dari zummwalt DDG 1000.

  14.  

    Indonesia wetdream
    Like always do.
    Mengharap hati nak peluk gunung apa daya tangan pun buntung.
    Mothership
    ICMB
    KFX
    Submarine
    Nuclear power plant
    Now what….nuke Destroyer?!
    .
    .
    Lu bikin odong-odong sane yee……
    Ngutang aja lu gedein.