Akankah Malaysia Bertindak Keras Terhadap China ?

Miri – Diburu oleh kapal besar di lepas pantai negara bagian Sarawak, pada bulan Maret 2016, petugas kapal patroli Malaysia terkejut ketika kapal tersebut melaju ke arah mereka dengan kecepatan tinggi, sambil menggelegar klaksonnya sebelum berbelok mendadak, untuk menunjukkan Kapal “Chinese Coast Guard” telah terpampang di sisi kapal patroli Malaysia.

Menurut seorang petugas dari Badan Penegakan Hukum Maritim Malaysia (MMEA), kapal China Coast Guard, beberapa kali sebelumnya, telah terlihat di sekitar South Luconia Shoals, dari wilayah kota kaya minyak, Miri. Tapi sebuah perjumpaan yang agresif seperti ini, baru pertama kali terjadi.

“Bagi kami, itu tampak seperti suatu upaya untuk menyerang perahu kami, mungkin untuk mengintimidasi,” kata petugas yang tidak berwenang untuk berbicara secara terbuka tetapi menunjukkan kepada Reuters, video dari insiden yang tidak dilaporkan.

Didorong oleh insiden tersebut dan munculnya sekitar 100 kapal nelayan Cina di daerah tersebut, Malaysia mulai mengeraskan tanggapannya, yang sebelumnya diredam, terhadap tetangga mereka yang kuat, China.

Salah satu menteri senior mengatakan Malaysia sekarang harus berdiri melawan serangan maritim seperti kepakan otot Cina di sepanjang puluhan terumbu karang dan pulau-pulau yang disengketakan di Laut Cina Selatan.

Tindakan kasar China telah menumbuhkan kekhawatiran bagi Filipina, Vietnam dan negara pengklaim lainnya. Hal ini juga meningkatkan ketegangan antara AS-China, di jalur perairan penting Laut China Selatan, yang setiap tahunnya mengkut nilai perdagangan sebesar US $ 5 triliun (RM20.6 triliun).

Tetapi merujuk pada “hubungan khusus” dengan China, dan sangat bergantung pada perdagangan dan investasi dengan China, tanggapan Malaysia sebelumnya untuk aktivitas China di wilayah tersebut, dinilai para diplomat Barat sebagai sikap yang lunak “low key”.

Dua kali latihan angkatan laut yang dilakukan China pada tahun 2013 dan 2014 di James Shoal, kurang dari 50 mil laut, dari Sarawak, Malaysia. Dan pada tahun 2015, keprihatinan diajukan oleh nelayan Malaysia di wilayah Miri, mengenai intimidasi (bullying) oleh orang-orang bersenjata di atas kapal China Coast Guard, diabaikan kasusnya oleh Malaysia.

Sekitar 100 kapal nelayan China masuk perairan Malaysia

Memancing Pertengkaran

Tapi ketika puluhan kapal nelayan Cina yang terlihat pada bulan Maret kelewat batas dekat South Luconia Shoals, wilayah kaya ikan di selatan dari Kepulauan Spratly yang disengketakan, Malaysia mengirim angkatan laut dan seperti biasanya memanggil duta besar China untuk menjelaskan kejadian tersebut.

Kementerian luar negeri China meremehkan masalah ini, dan mengatakan kapal pukat mereka sedang melakukan kegiatan penangkapan ikan normal “di perairan yang relevan”.

Beberapa minggu kemudian, Malaysia mengumumkan rencana untuk mendirikan basis operasi depan, untuk angkatan laut di dekat Bintulu, selatan wilayah Miri.

Menteri Pertahanan menegaskan, basis tersebut akan dilengkapi pangkalan helikopter, drone dan satuan tugas khusus, yang tujuannya untuk melindungi aset minyak dan gas yang kaya milik negara dari serangan potensial simpatisan ISIS yang berbasis di Filipina selatan, ratusan kilometer ke timur laut.

Beberapa pejabat dan ahli mengatakan kegiatan China di lepas pantai adalah faktor yang lebih penting, yang menyebabkan pembangunan basis tersebut oleh Malaysia.

“Jika Anda meningkatkan keamanan untuk aset minyak dan gas, Anda melindungi diri dari aktor non-negara dan negara sehingga masuk akal untuk apa yang dia katakan,” kata Ian Storey, seorang ahli Laut Cina Selatan di ISEAS Yusof Ishak Institute Singapura.

“Tapi apakah itu benar-benar didorong oleh ISIS ? Saya tidak berpikir begitu, “Storey menambahkan.

Menggarisbawahi sikap lebih keras yang akan diambil Malaysia, salah satu menteri senior mengatakan kepada Reuters bahwa Malaysia harus mengambil tindakan yang lebih tegas pada serangan maritim dan risikonha diambil sebagai suatu keniscayaan.

Menteri itu meminta untuk tidak disebutkan namanya, karena sensitivitas masalah ini, dan menyoroti sikap kontras dari respon Malaysia pada bulan Maret lalu, dibandingkan kejadian serupa yang sebelumnya terjadi di negara tetangga Indonesia.

“Ketika Cina memasuki perairan Indonesia, mereka segera diusir. Ketika kapal China memasuki perairan kita, tidak ada yang dilakukan, “kata menteri.

Bulan lalu di parlemen, wakil menteri luar negeri Malaysia juga menegaskan bahwa seperti negara ASEAN lainnya, Malaysia tidak mengakui Nine Dash Line China, yang kontroversial, yang digunakan untuk mengklaim lebih dari 90 persen Laut Cina Selatan.

Pilihan Terbatas

Ditanya tentang kejadian yang dijelaskan oleh petugas MMEA Malaysia, Kementerian luar negeri China mengatakan kedua negara memiliki “konsensus tingkat tinggi” pada urusan yang terkait dengan sengketa maritim, melalui dialog dan konsultasi.

“Kami bersedia untuk tetap berhubungan erat dengan Malaysia tentang hal ini,” kata juru bicara Hua Chunying.

Ketergantungan Malaysia pada Cina, memetakan beberapa cara untuk menjelaskan keengganan Kuala Lumpur untuk bereaksi lebih keras terhadap China.

China adalah tujuan ekspor utama Malaysia dan Malaysia merupakan importir terbesar barang dan jasa Cina di kelompok 10 anggota Asean.

Perusahaan milik pemerintah China juga membayar miliaran dolar pada tahun lalu untuk membeli aset dari perusahaan investasi negara yang berutamg 1MDB, yang telah membuat malu besar bagi Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak.

Pengaruh China dalam urusan dalam negeri Malaysia, selalu menjadi perhatian bagi bangsa Melayu yang merupakan mayoritas. Etnis Cina di Malaysia mencapai sekitar seperempat dari populasi.

Hubungan diplomatik antara kedua negara diuji pada bulan September ketika duta besar China mengunjungi wilayah China Town di ibukota Kuala Lumpur menjelang rapat umum gerakan pro-Melayu, dan memperingatkan bahwa Beijing tidak takut untuk bersuara terhadap tindakan yang akan mempengaruhi hak-hak rakyatnya.

Duta besar China dipanggil untuk menjelaskan komentarnya tapi kementerian luar negeri China bertahan dengan mengirimkan setingkat utusan.

Berusaha menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi dan keamanan nasional, Malaysia sedang mengejar berbagai strategi termasuk memperkuat kemampuan pengawasan dan pertahanan sekaligus mempromosikan kode etik antara Cina dan negara-negara Asean yang ditandatangani pada tahun 2002.

Sebuah pilihan yang lebih sensitif adalah, mencari hubungan militer yang lebih dekat dengan Amerika Serikat.

Salah satu pejabat senior mengatakan kepada Reuters bahwa Malaysia telah mengulurkan tangan ke Amerika Serikat untuk bantuan pada pengumpulan intelijen dan untuk mengembangkan kemampuan penjaga pantainya, meskipun dilakukan diam-diam untuk menghindari kemarahan Beijing.

Pengamat Storey mengatakan, langkah untuk mengamankan hubungan militer lebih dekat dengan AS bisa sejalan dengan soft diplomacy untuk mencoba meyakinkan China, untuk tidak arogan atas klaimnya, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu, akan sulit dilakukan.

“Tak satu pun dari strategi ini bekerja sangat baik, tapi apa yang dapat Anda lakukan ?,” kata Storey. “Sengketa ini akan berlangsung untuk waktu yang sangat lama.”

Sumber : Reuters – Malaysia-chronicle.com