Okt 142019
 

Pesawat tempur multirole Su-35

Aljazair dan Mesir dilaporkan telah memesan pesawat tempur multi-peran Sukhoi Su-35S (NATO memberi nama : Flanker-E), berisiko menimbulkan kemarahan AS, lapor Jon Lake.

Pada bulan September 2018, administrasi Trump memberlakukan sanksi terhadap China setelah pembelian Su-35SK berdasarkan ketentuan Undang-Undang Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA), lansir Arabian Aerospace.

Undang-undang ini dimaksudkan untuk melawan pengaruh Rusia di Eropa dan Eurasia, dan untuk menghukum Rusia karena keterlibatannya dalam perang di Ukraina dan Suriah dan atas dugaan campur tangannya dalam pemilu AS 2016, dengan membatasi kemampuannya untuk mengekspor senjata.

AS kemudian mengancam akan menerapkan sanksi serupa jika Indonesia melanjutkan pembelian Su-35-nya sendiri.

Aljazair pertama kali meminta evaluasi Sukhoi Su-35 pada Mei 2016, berharap memperoleh lebih dari 10 pesawat untuk menambah armada Su-30MKA. Pada Agustus 2018, media pemerintah Rusia melaporkan bahwa Angkatan Udara Aljazair telah memesan 18 pesawat tempur generasi keempat Su-35SK.

Mesir memesan untuk 20 Su-35SK senilai US$ 2 miliar (lebih dari dua lusin Su-35 tulis surat kabar Kommersant) juga diberlakukan pada akhir 2018, tetapi tidak secara resmi diumumkan hingga 18 Maret 2019. Pengiriman diharapkan akan dimulai pada 2020 -2021.

Mesir adalah pelanggan lama untuk pesawat tempur Rusia, meskipun juga membeli pesawat tempur dari AS dan Prancis, yang mendiversifikasi sumber pasokannya.

Menyusul kudeta militer 2013, yang menjadikan Abdel Fattah el-Sisi muncul sebagai pemimpin baru Mesir, negara itu mulai menempatkan kontrak besar dengan produsen senjata Rusia. Yang pertama mencakup pasokan rudal permukaan-ke-udara jarak jauh S-300VM4 ‘Antei 2500’ dan Buk-M2E, dikirim pada 2015-2017 dengan biaya yang dilaporkan US$ 3,5 miliar.

Mesir kemudian memesan 46 jet tempur MiG-29M / M2 seharga US$ 2 miliar dan 46 helikopte Kamov Ka-52 ‘Crocodile’ dengan harga lebih dari US$ 1 miliar.

Sejak itu, Mesir telah memesan 32 helikopter Ka-52K Katran varian kapal induk untuk angkatan lautnya. Beberapa peralatan ini mungkin didanai oleh Arab Saudi atau negara-negara GCC kaya lainnya.

Su-35S adalah turunan canggih dari Su-27 Flanker, pencegat berat, bermesin ganda dan pesawat superioritas udara yang setara dengan konsep F-15A-D Eagle milik Amerika Serikat.

Seperti F-15, Su-27 melahirkan varian pencegat multi-peran dua kursi (Su-30M) dan berbagai versi lainnya. Pesawat superioritas udara ‘Flanker’ yang ditingkatkan pertama kali dikembangkan pada akhir Perang Dingin. Sekitar 15 prototipe Su-27M dibangun, dan prototipe terbang pada tahun 1989.

Su-27M bersirip tinggi kemudian dirancang ulang sebagai Su-35, tetapi Su-35S hari ini (awalnya dikenal sebagai Su-27M2 atau Su-27BM) adalah pesawat yang sangat berbeda, lebih dekat secara aerodinamis dan secara struktural dengan asli Su-27, tetapi dengan kokpit glass modern dengan sensor dan sistem baru. Su-35 berkemampuan multi-peran yang tangguh.

Su-35S dilengkapi dengan radar N-035 Irbis-E passive electronically scanned array (PESA) dengan OLS-35 infrared search-and-track (IRST), sistem penargetan, dan sistem electronic countermeasures L175M Khibiny.

Su-35S ditenagai oleh mesin daya dorong vectoring dan memiliki 12 hingga 14 titik senjata, memungkinkannya untuk mengangkut hingga 17.000 pon amunisi udara-ke-darat atau sejumlah besar rudal udara-ke-udara Rusia terbaru.

China adalah pelanggan ekspor pertama, membeli 24 unit Su-35SK dengan biaya total US$ 2,5 miliar. Pada bulan Februari 2018, Rusia dan Indonesia menyetujui kesepakatan US$ 1,14 miliar untuk 11 pesawat Su-35 dengan pengiriman pertama yang jatuh tempo pada Oktober 2018.

Kesepakatan Aljazair dan Mesir akan memungkinkan output kapasitas penuh untuk perusahaan Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Organisation (KnAAPO), pabrik pembuatan pesawat terbesar di timur jauh Rusia untuk beberapa tahun mendatang.

Su-35 bisa dibilang akan menjadi pesawat tempur paling maju di benua Afrika, bersaing dengan Dassault Rafale Mesir atau mungkin Saab Gripens milik Afrika Selatan.

 Posted by on Oktober 14, 2019

  11 Responses to “Akankah Pembelian Su-35 Oleh Mesir dan Aljazair Membuat AS Marah?”

  1.  

    Lah indo kapan?

  2.  

    gimana kalau semua negara mengindahkan ancaman casta dari si amer ini.
    bisa jdi nanti si amer akan mnenjilat ludah sendiri .

  3.  

    IFX, ngimpi tapi jelas nyata buang2 duit anggaran negara….tapi kalau SU35, ngimpi tapi belum nyata ruginya….wkwkwkwkwkwk

  4.  

    Saya yakin pejabat Mesir dan Aljazair bukanlah pejabat pengecut yang takut jabatannya dicopot