Jun 262018
 

JakartaGreater.com – Korea Selatan pada hari Senin, 25 Juni memutuskan untuk membeli pesawat patroli maritim Boeing P-8A Poseidon buatan perusahaan pertahanan AS, dalam proyek senilai $ 1,7 miliar, seperti dilansir dari laman Yonhap News.

Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) berkata bahwa komite promosi proyek pertahanan Korea Selatan telah bersidang di Seoul untuk membuat keputusan membeli pesawat tersebut melalui program penjualan militer asing (FMS) antar pemerintah.

“Kami telah memutuskan untuk membeli pesawat patroli maritim terbaru guna melakukan operasi patroli, pencarian dan penyelamatan melalui program FMS dari pemerintah AS, ini dengan mempertimbangkan biaya, jadwal waktu, kemampuan serta aspek hukum”, sebut DAPA dalam siaran pers.

Sebelum keputusan tersebut diambil, muncul kompetisi tiga-arah dengan Airbus Defense & Space dari Eropa dan juga Saab dari Swedia yang mengekspresikan niat mereka untuk memenangkan proyek akuisisi pertahanan besar pertama sejak pemerintahan Moon Jae-in mengambil alih pada bulan Mei tahun lalu.

Di tengah prospek kontes multi-pihak itu, beberapa pengamat mengatakan bahwa proyek Angkatan Laut Korea Selatan harus diserahkan kepada penawaran terbuka, yang dapat membantu menurunkan harga.

Namun menurut seorang pejabat DAPA yang mengatakan bahwa pemerintah AS bahkan telah mengusulkan harga yang masuk akal untuk pesawat Boeing P-8A yang mirip dengan Swordfish buatan Saab.

“Jika kami memilih untuk melaksanakan kontes terbuka, maka harga Poseidon akan naik 10 hingga 28 persen per unitnya, yang tentu akan melampaui total anggaran yang ada”, kata pejabat itu tanpa menyebut nama.

Angkatan Bersenjata Korea Selatan mendorong untuk memperkenalkan sejumlah pesawat maritim yang masih belum ditentukan antara tahun 2022 dan 2023.

DAPA berencana untuk mengirimkan surat permintaan (LOR) untuk proyek pengadaan ke Washington dalam bulan ini. Tetapi sumber mengatakan bahwa proyek itu dapat ditunda apabila pemerintah AS gagal menawarkan surat penawaran dan penerimaan (LOA) melalui proses persetujuan kongres pada bulan November mendatang.

Boeing P-8 Poseidon didasarkan pada pesawat Boeing 737-800ERX. Ia mampu melakukan berbagai misi, termasuk operasi anti-permukaan, anti-kapal selam, intelijen, pengawasan dan pengintaian.

  15 Responses to “Akhirnya Korea Selatan Memilih Boeing P-8A Poseidon”

  1.  

    Lagi-lagi Saab kalah dalam persaingan 😀 hehehe

  2.  

    Boeing P-8A Poseidon

    https://youtu.be/rpZZ7NkuVUc

  3.  

    baiknya aming lee, mnjlskan mengapa pria trsebut msh dirahasiakannya, bukan siprianya karna tdk perlu

    hahhaahaaaa

  4.  

    baiknya loe jlskan saja aming lee, dgn rambut pendekmu itu mengapa pria trsebut masih loe rahasiakan.tapi bukan sipria, karna yg lainnya sudah jls tanda

    hahhaahaaaa

  5.  

    baiknya loe jlskan saja aming, supaya semuanya beres

    hahaahaaaa

  6.  

    @halata huha..berisik.. nyampah melulu komentarnya engga nyambung sama pembahasan. pacarnya aminglee

  7.  

    @tandem
    iya marahin aja tuh si huha huha… Hahu hahu

  8.  

    Lagian yg dibahas cmn pria rahasia aming lee, udah gitu diulang2 lagi.

    Lagian yg dibahas cmn pria rahasia aming lee, udah gitu diulang2 lagi.

    Lagian yg dibahas cmn pria rahasia aming lee, udah gitu diulang2 lagi.

  9.  

    Poseidon pesawat bagus.

    Korsel beli senilai USD 1,7 milyar, belum jelas dapat berapa unit.

    New Zealand beli senilai USD 1,4 milyar untuk 4 unit.

    1,4 milyar = 1400 juta

    1400 / 4 = 350

    Jadi per unit kira2 harganya USD 350 juta.

    Melihat jarak jelajahnya yang jauh dan karena menggunakan mesin jet maka bisa lebih cepat menjangkau trouble spot dibandingkan pesawat propeler seperti CN235 MPA, RI setidaknya butuh 3 atau 4 unit juga.

    1 ke kiri dan 1 ke kanan, 1 cadangan dan 1 maintenance.

    Kalau RI duitnya kurang bisa beli 2 unit dulu…biar dikit tapi yang penting punya.

    1 terbang, 1 yang lain cadangan.

    Lumayan bisa angkut sonobuoy dalam jumlah banyak dan torpedo dan juga rudal anti kapal permukaan juga bisa diangkut, sehingga Poseidon bisa bertindak sebagai ASW dan pesawat serang maritim.

    Poseidon adalah jenis alutsista integratif (bisa dipakai gabungan oleh lebih dari 1 matra), bisa dikemudikan oleh AU, sedangkan ahli sonar bisa ambil dari AL.

    Untuk alasan ini, target jumlah minimum kapal selam dikurangi dari 12 unit jadi 8 unit, sebab fungsi perburuan kapal selam sudah akan bisa dihandle Poseidon lebih cepat.

    Sementara untuk pengurangan 4 kapal selam senilai USD 400 juta per unit menghasilkan penghematan USD 1600 juta.

    Dana USD 1600 juta tersebut bisa dialihkan untuk membuat 16 unit korvet nasional sepanjang 90 meter sebagai pengganti 16 Parchim.

    Sebagai pembanding, pembuatan KCR 60 lengkap senjata dan sensor menghabiskan biaya USD 50 juta per unit.

    1600 juta / 16 unit = 1600 / 16 = 100

    Maka perkiraan biaya korvet nasional 90 meter pengganti Parchim adalah USD 100 juta per unit, kemungkinan dengan senjata mirip KCR 60 (meriam 57 mm di depan, rudal dari China, dan meriam 6 barel 30 mm di belakang), hanya ditambah torpedo, sonar, dan radar yang lebih baik dari KCR 60 meter dan tentu saja lebih baik dari Parchim.

    Penggantian Parchim adalah hal yang mendesak, sebelum 2024 sudah harus jadi agar semua Parchim bisa dipensiunkan.

  10.  

    mbah ntung tahu saja gosip yg beredar, bahwa indonesia sedang mengincar ilmu utk menempatkan meriam didepan & dibelakang…..