Apr 172018
 

Kapal penjelajah rudal USS Monterey menembakkan rudal Tomahawk di wilayah operasi Armada ke-5 AS, 14 April 2018. Foto angkatan laut oleh Letnan j.g Matthew Daniels. (U.S. Navy photo by Lt. j.g Matthew Daniels)

JakartaGreater.com – Para menteri luar negeri dari negara-negara Eropa dan parlemen Prancis pada hari Senin mengadakan pertemuan untuk membahas tanggapan mereka terhadap serangan terkoordinasi oleh AS, Prancis dan Inggris di Suriah. Aksi militer itu memicu perpecahan, meskipun Presiden Prancis Emmanuel Macron bersikeras Minggu malam bahwa mereka memiliki legitimasi internasional.

Para menteri luar negeri Uni Eropa di Luxembourg dan juga parlemen Prancis di Paris diperkirakan akan mempertanyakan, namun tidak menguji secara serius, keputusan pemimpin Prancis dan Inggris untuk bergabung dengan Amerika Serikat melaksanakan serangan terhadap fasilitas senjata kimia yang dicurigai di Suriah.

Beberapa pemimpin Uni Eropa, seperti Angela Merkel dari Jerman, telah mengatakan tindakan militer diperlukan dan perdebatan yang mungkin lebih besar terjadi adalah bagaimana tanggapan Eropa terhadap sekutu Suriah, yaitu Rusia.

Di Prancis, beberapa politisi oposisi terkemuka dengan keras mengkritik keterlibatan Prancis dalam serangan tersebut. Tetapi sidang parlemen hari Senin mengenai Suriah akan dibatasi hanya untuk debat dan partai La Republique En Marche yang dipimpin Presiden Emmanuel Macron mendominasi Majelis Nasional.

Dalam wawancara televisi pada Minggu malam, Macron mengatakan koalisi memiliki “legitimasi internasional penuh untuk campur tangan” dalam menyerang Suriah oleh alasan kemanusiaan.

Dia menyebut tindakan tersebut sebagai balasan, bukan tindakan perang, mengatakan bahwa Prancis memiliki bukti bahwa senjata kimia telah digunakan oleh pemerintah Suriah dalam serangan baru-baru ini di kota Douma yang dikuasai pemberontak. Dia juga mengatakan Perancis “tidak menyatakan perang terhadap rezim Bashar Al-Assad.”

Macron mengatakan bahwa dia juga telah meyakinkan Presiden Donald Trump untuk mempertahankan pasukan AS di Suriah versi yang kemudian disanggah oleh Gedung Putih dan hanya melakukan serangan terbatas.

Walaupun Washington dan sekutu Eropanya bersatu dalam hal serangan itu, mereka mungkin berbeda pendapat mengenai bagaimana langkah selanjutnya.

Macron menyebut Rusia “terlibat” dalam serangan kimia Suraih, dengan menggunakan cara-cara diplomatik yang membuat komunitas internasional tidak berkutik. Namun ia juga mengemukakan pentingnya bekerjasama dengan Rusia, Turki dan juga Iran dalam mencari solusi untuk mengatasi krisis Suriah. Macron dan Presiden Trump dijadwalkan akan mengadakan pembicaraan di Washington minggu depan.

Artikel ini pertama kali di terbitkan oleh VOA Indonesia.

Bagikan:

  16 Responses to “Aksi Militer Koalisi Picu Perpecahan Uni Eropa”

  1.  

    Luar biasa dengan mengatakan
    “Koalisi memiliki legitimasi internasional penuh untuk campur tangan”dalam menyerang Suriah dengan alasan kemanusiaan.
    Tuh liat tuh di Palestina!!!!
    Apa pernah kalian gerombolan nato marah sama ISROHELL.
    Apa pernah kalian berpikir untuk menghukum ISROHELL dengan alasan KEMANUSIAAN?

  2.  

    As dan nato sdg cuci gudang obral tmh lama sambil disisipi stock baru untuk bahan uji sekaligus predikat botol pulpen. Namun sayang hasilnya mengecewakan.
    Tp stlh ini mereka gencar rnd hanya sayang as sekarang tdk spt dulu uang mrk sdh cekak.

  3.  

    mata mereka telah berganti menjadi necker dan berguna hanya sebagai hiasan rupa saja
    supaya tidak disebut berkategori buta tanpa mata
    siapa saja mereka
    au ah

  4.  

    Senjata kimia yg kayak propaganda white helmet ini kah??

    https://youtu.be/b8bIupYSZeU

    😎

    •  

      Hahaha gak ngerti om bahasanya om. Cuma yg menarik ada adegan take sinetron yg gak beratus ratus episode. Xixixi

    •  

      Kenapa white helmet semenjak ISIS eksis dan FSA ada, tidak pernah tersentuh oleh mereka? karena white helmet adalah bagian kelompok mereka….membunuh anak2 Suriah dengan cara yg halus….mereka seolah2 membantu korban perang, tetapi sebenarnya juga menggambar dan menghabisi anak2 dan korban

  5.  

    Pemerintahan Macron tidak disukai kaum pekerja dan mahasiswa Perancis, ini membuat dia merasa terintimidasi saat muncul di depan publik. Seberapa kuat intimidasi yang dia terima bisa dilihat dari keputusannya untuk membentuk kelompok-kelompok “pengawal” atau “penjaga keamanan” yang tidak diangkat dari kalangan militer atau polisi Perancis, melainkan dari kalangan tentara bayaran. Tindakannya ini membuat militer dan polisi Perancis menjaga jarak dengannya karena hal ini dianggap sikap menghina/merendahkan kualitas pengamanan korps-korps resmi dalam negeri.
    Kita akan lihat seberapa lama Macron akan bertahan.

  6.  

    AScs paling merasa berhak mengatur dunia dgn menu utama HAMburger ala Democrazy, klu tdk sesuai lgsg hajar dgn alasan melanggar kemanusiaan versi mereka!he3.dunia oh dunia!

  7.  

    PARIS – Gempuran trio Amerika Serikat (AS), Perancis, serta Inggris ke Suriah pekan lalu ternyata tak semulus klaim Presiden AS Donal Trump. Sebab terkuak fakta bahwa sejumlah serangan ngadat bahkan gagal.

    Seperti yang diakui juru bicara Kepala Staf Gabungan Prancis, Kolonel Angkatan Darat Patrick Steiger, kepada Defense News pada 18 April 2018 lalu. Patrick mengatakan Kapal frigate multimisi Prancis gagal menembakkan tiga rudal jelajah angkatan lautnya terhadap situs-situs di Suriah.

    Kegagalan itu lantaran senjata di kapal perangnya ngadat atau macet sehingga menjalankan rencana kedua.

  8.  

    AS ingin menjadi “polisi dunia” pasca perang dingin mungkin boleh2 saja, asalkan membuktikan diri menjalankan fungsi “polisi” menegakkan hukum (internasional), benar2 kampium demokrasi dan HAM. Namun kenyataan tindak tanduk AS dan sekutu2 baratnya (yg utama Inggris, belakangan Perancis, Australia) plus NATO, menunjukkan AS tidak pantas. Namun tindak tanduknya selama ini menunjukkan AS memaksakan diri. Celakanya negara2 yg tidak setuju dengan tindak tanduk AS bisa berbuat apa? Parahnya negara2 demokrasi tua ikut2an membackingi AS. Tidak ada yg berarti sama sekali yg bisa dilakukan. Bahkan lembaga PBB mandul.

    Pada saat inilah, setidaknya ada Rusia, walaupun negara ini dilabelin segala macam pada masa perang dingin, terlepas kesalahan/kebenaran yg dilakukan, Rusia merupakan kekuatan dunia yg masih ditakuti dan diperhitungkan AS dan NATO. Awalnya kelihatannya Rusia tidak peduli dengan tingkah AS dan sekutunya yg ingin memaksakan kekuasaan unipolarnya pasca runtuhnya USSR. Namun tindakan AS dan NATO yg “menerobos pagar belakang Rusia” membentuk perisai pertahanan di negara2 ex Pakta Warsawa dengan niat ingin “mengunci” Rusia, kemudian diikuti tindakan mengobok2 Suriah, satu2nya titik pertahanan Rusia di Timur Tengah, membuat Rusia dalam hal ini gerah dan marah, tapi tetap bijak dalam diplomasi, berbeda dengan “cowboy” AS.

    AS sudah menjatuhkan puluhan/mungkin ratusan sanksi terhadap Rusia, termasuk bersama dengan negara2 sekutunya mengusir ratusan diplomat Rusia terkait Crimea, Skripal, dan Suriah. Niat sanksi tersebut pasti ingin mengucilkan dan menjatuhkan kredibilitas Putin, termasuk dalam kasus serangan AS, Inggris dan Perancis ke Suriah ingin memancing emosi Rusia/Putin utk membalas, tapi hebatnya Putin ia tenang2 saja (kesabaran, kebijakan dan kepintaran seorang Putin dalam diplomatik dan politik dunia) untuk saat ini, ini membuat AS dan Inggris kebingungan, dan seperti kehabisan akal mau buat apa selanjutnya.

    Dan perlu diingat, karena kebijakan Putin inilah yang saat ini membuat Timur Tengah tidak bergolak dalam perang, mungkin perang dunia ketiga, karena berbeda dengan perang di Irak dan Libya, ini melibatkan langsung dua kekuatan dunia. Tapi tidak tau kalau AS dan sekutu2nya itu bertindak “ngaco” lagi. Tapi kalau terjadi, rasanya semua jari telunjuk bisa menunjuk ke hidung AS, Inggris dan Perancis sebagai biang kerok.

    Karena alasan AS, Inggris dan Perancis menyerang Suriah karena tuduhan Pemerintah Suriah (dan Rusia) menyerang Douma dengan bom chlorine , tanpa bukti mulai rontok. Kabarnya, berita tv media barat (propaganda) tentang serangan kimia di Douma dengan modus menampilkan korban anak2 (lagi, kalau pembaca mengikuti berita2 luar) merupakan “film” yg disutradarai NGO White Helm (lagi), dan Pemerintah Rusia telah menemukan salah seorang anak 11 tahun yg mukanya disorot di “film” yg menceritakan diberi cemilan setelah shooting dan disuruh pergi. Katanya Pemerintah Rusia masih berusaha menemukan “korban anak2 lain”. Pemetinyah Rusia melalui dubesnya di PBB katanya akan menghadirkan anak itu dan bapaknya dan memutarkan video (tidak jelas video bagaimana) di layar lebar dalam sidang DK PBB mendatang. Wah bisa kebayangkan tidak bagaimana wajah dubes AS, Inggris dan Perancis di sidang tsb nantinya, malunya, tapi aku yakin mereka masih bisa berkelit.

    Satu hal yg menonjol di sini adalah, AS Inggris dan Perancis, para kampium (or so they called) demokrasi dan ham, membabi buta tanpa bukti atau setidaknya memverifikasi kebenaran, menyerang negara lain, MELAWAN Rusia (negara yg so called sebaliknya tidak demokratis dan tidak menghargai ham) yg malah sabar, tetap bijak menggunakan diplomasi, berusaha menemukan bukti.

    Kalau pembaca masih ingat terkait serangan terhadap Suriah tanggal 14 April, AS dan sekutunya mengaku menembakkan 105 rudal, sebaliknya Pemerintah Rusia menyebutkan hanya 103 rudal, siapa yang benar? Lucunya, menurut kantor berita TASS, militer Suriah menemukan 2 rudal yg “gagal” meledak dan dalam kondisi lumayan baik kemudian menyerahkannya ke militet Rusia kemudian diterbangkan ke Rusia tgl 18 April. Jadi, kesimpulannya siapa yg benar? Jawabannya, 105-2=103, mungkin akurasi pantauan radar Rusia lebih akurat, daaan Rusia mendapat durian rontok, ga perlu susah perang spionase, mendapat rahasia rudal yg mungkin sedang dikembangkan Perancis atau AS, dan diuji cobakan di Suriah? Itu juga menjelaskan kemungkinan gagal meledaknya rudal .

 Leave a Reply