Jun 062017
 

“Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka ‘malapetaka’; oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner”

Begitulah kata Soekarno menyikapi keadaan pangan Indonesia setelah 1952. Pada saat itu, Indonesia Serikat telah menyatu menjadi NKRI dan kedaulatan bangsa ini sudah tidak dipengaruhi Belanda. Koran-koran ramai memberitakan harga beras naik berkali-kali lipat. Bahaya kelaparan mengintai, bahkan ada rakyat di desa yang sampai memakan bonggol pisang. Tak sedikit orang yang bunuh diri karena tak kuasa memberi makan keluarganya.

Bung Karno sadar hal itu menyangkut hidup matinya suatu bangsa. Oleh karena itu, ia mengambil langkah drastis. Tetapi ia tak mau menggantung perut rakyat dengan beras impor. Ia sadar, kebijakan itu akan membuat devisa negara tergerus. Hal ini juga dilanjutkan oleh presiden kedua Soeharto, sampai-sampai Indonesia waktu itu menjadi pengekspor padi di ASEAN.

Pasca reformasi, keadaan berubah. Krismon menyebabkan harga melambung tinggi, dan cara menstabilkan harga salah satunya dengan memperbanyak stok barang. Oleh karena itu, banyak barang jadi diimpor. Dulu pengekspor padi, sekarang Indonesia malah menjadi pengimpor padi.

Cara agar Indonesia bisa mandiri pangan adalah dengan cara meningkatkan hasil produksi petani di Indonesia. Oleh karena itu, perlu adanya modernisasi pertanian. Di Indonesia, sebagian besar kegiatan pertanian masih menggunakan cara tradisional dan manual, berbeda dengan negara maju yang sudah menggunakan mesin berteknologi canggih.

Oleh karena itu, PT Pindad, Balitbangtan dan PT Bhirawa Megah Wiratama membuat Alsintan (alat dan mesin pertanian) untuk memajukan pertanian negara ini. Pindad disini berperan sebagai sole manufacturer, balitbangtan sebagai periset, dan PT BMW sebagai sole distributor. Apa saja Alsintan tersebut?

1. PTM-90 (Pindad Traktor Multiguna – berkekuatan 90 HP)

Sesuai namanya, traktor ini memiliki banyak fungsi. Traktor 4 roda ini dapat dikonfigurasi sebagai Wheel Loader (atau bulldozer berpenggerak ban), dengan Loader dibagian depan untuk mengangkut material seperti tanah, batu, pasir, atau puing bangunan, dan Excavator kecil dibagian belakang yang bisa juga diubah fungsi sebagai driller (bor) dengan jack hammer untuk keperluan konstruksi, pertanian, serta pemeliharaan fasilitas pedesaan. Peralatan pertanian yang bisa dipasang pada bagian depan dan belakangnya adalah :

Disc plough (pembajak)
Rotary tiller (pengolah tanah)
Grain seeder (penanam bibit)
Three-point hitch (sambungan untuk alat-alat di atas)

2. PA-1800 (Pengolah tanah Amfibi – lebar 1800 mm)

Memiliki fungsi mengolah tanah sekaligus mencacah sisa jerami padi, jagung, dan gulma serta mencampurnya dengan tanah, sehingga akan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan menyuburkan tanah. PA-1800 juga dilengkapi penyemprot decomposer untuk mempermudah proses dekomposisi biomassa. Menggunakan rantai crawler yang terbuat dari karet sehingga dapat digunakan di lahan agak basa maupun kering, menambah kestabilan dan kenyamanan dibandingkan menggunakan rantai besi.

Lebar : 1,8 meter
Kecepatan olah tanah : 3-4 jam per hektar
Kapasitas tangki dekomposer : 1000 liter
Berat : 1,9 ton

PA-1800 ini juga memiliki konfigurasi lain, yaitu sebagai mesin pengolahan rota tanam, berfungsi sebagai pengolah tanah, penanaman biji-bijian, dan aplikasi pupuk cair. Kelebihannya, ketiga fungsi dapat dilakukan bersamaan.

3. PP-160 (Pindad Pemanen – lebar 160 cm)

Mesin ini memiliki fungsi memanen jagung dan padi sekaligus memasukkan hasil panen ke dalam karung. Menggunakan rantai crawler yang terbuat dari karet sehingga dapat digunakan di lahan agak basah maupun kering, menambah kestabilan dan kenyamanan dibandingkan menggunakan rantai besi.
Lebar : 1,6 meter
Kecepatan kerja : 6-7 jam per hektar
Berat : 2,15 ton

Selain alsintan buatan Pindad tadi, sebenarnya Indonesia juga sudah mempunyai perusahaan pembuat alsintan, yaitu CV Karya Hidup Sentosa, atau yang lebih dikenal dengan mereknya yaitu QUICK. Didirikan sejak 1953, perusahaan ini sudah malang melintang bergerak di bidang alsintan.

CV KHS ini juga mendirikan joint venture dengan Kubota Corp Jepang, untuk mendirikan pabrik mesin PT Kubota Indonesia. CV KHS juga mengembangkan produk lain, seperti genset, exhaust manifold, spare parts otomotif, dan spare parts mesin tekstil. Hebatnya, produknya juga sudah diekspor ke negara lain.

Produk CV KHS yang serupa produk Pindad di atas antara lain :

1. Traktor A 360 (berkekuatan 36 HP)

Traktor ini lebih ringan, kecil, dan lebih murah dari traktor Pindad PTM-90. Bisa dipasangkan disc plough (bajak), rotavator (pengolah tanah), dan grass cutter (pemotong rumput). Berikut spesifikasinya :
Mesin : Mitsubishi S3L3L 3 silinder 1.6 L
Tangki bahan bakar : 30 Liter
P x L x T : 3,235 x 1,41 x 2,158 meter
Berat : 1,15 ton
Radius putar : 2,5 meter

2. QH-11 (Quick Harvester – berkekuatan 11 HP)

Berjenis pemanen (Combine Harvester), lebih ringan, kecil, dan murah dibanding dengan Pindad PP-160. Dilengkapi rantai crawler karet, hasil panen juga langsung dimasukkan ke dalam karung.

Spesifikasi :
Mesin : Kubota diesel RD-110 DI
Tangki bahan bakar : 11 Liter
Lebar harvester : 1,23 meter
P x L x T : 3,43 x 1,56 x 1,495 meter
Kecepatan kerja : 5,57-5,93 jam per hektar
Berat : 877-900 kg

Ditulis oleh : AutoVeron

  15 Responses to “Alat dan Mesin Pertanian Buatan Indonesia”

  1.  

    Hayooo siapa yg mau bilang pertamax ??

    :ngakak

    •  

      Maju terus PINDAD,..

      Dulu sepanjang pinggir tol jakarta-merak hamparan sawah begitu luas,….
      kini Hamparan hijau nya sawah mulai tergantikan dengan bangunan rumah maupun gedung bertingkat,dan pabrik2
      Begitu pula bekasi,sawah pun sudah beralih fungsi

  2.  

    Kalau generator atau genset buatan RI? Dulu saya pernah beli genset dgn merek F*rman, apa itu buatan RI? Atau masih pake komponen luar? :bingung:

  3.  

    Seharusnya RI membuat BUMN yg khusus membuat mesin berbagai jenis untuk alat perang seperti kaprang,pespur dan alat2 berat jg untuk Sipil agar tidak ketergantungan akan mesin Import!ngayal bolehkan?he3 :2thumbup

  4.  

    ya lumayan lah produk dalam negeri ..tp ke alat pertahanan fokus juga yaa

  5.  

    :kiss

  6.  

    Leh agrindo kok kagak disebut. Besar lho agrindo

  7.  

    :iloveindonesia …. ayo borong semua ..wajib untuk di borong..kembali macull

  8.  

    quick itu ternyata merknya pindad toh. harusnya produk produk diatas didistribusikan kepada petani dalam bentuk penjualan subsidi juga bisa melalui koperasi. hatapan saya.

  9.  

    Seharusnya mobil nasional bisa diawali dgn pindad.. Arahnya memang harus ke komersil, biar pindad ga ketergantungan dari subsidi pemerintah..

  10.  

    ada lagi produk indnesia
    AC merek McQuay , kata tukang ac itu produk indonesia. Tapi sayang produk kita isianya semua impor. Usul buatlah gerobak motor roda 3 , tapi mesinya jgn dr cina ntar dikibulin lagi kualitasnya kaya rudal c705 kaya kmarin, soalnya semua gerobak disini semua produk cina.

  11.  

    Yang jadi pertanyaan adalah kenapa “bawang putih” yang sama-sama di impor dari China lebih mahal di Indonesia (Rp.60rb) daripada di Malaysia (Rp.30rb) ya?

    Logika Aja nih, semakin banyak kita beli mestinya harganya semakin murah…

 Leave a Reply