Jul 232017
 

ALTI Transition adalah drone dengan kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL). © altiuas.com

Tujuan utama pengembangan ALTI Transition adalah untuk menawarkan kendaraan udara nirawak (drone) yang memiliki kemampuan VTOL (terbang dan mendarat secara vertikal) yang sangat mumpuni dan dapat diandalkan dengan harga terjangkau, seperti dilansir dari laman ALTI UAS.

Drone yang disebut “Transition” atau “Transisi” ini terbuat dari bahan bermutu tinggi, dengan standar tertinggi, menggunakan teknik propisiatori yang unik. Dengan desain aerodinamis yang sangat canggih memungkinkan kecepatan stall rendah, dan efisiensi jelajah dengan daya pergerakan kecil, stabilitas yang sangat baik dan beratnya cuma 5,6 kg.

Airframe drone tersebut benar-benar modular dan bisa dengan cepat dikerahkan dari dalam koper hingga mengudara dalam waktu kurang dari 10 menit, dan cuma butuh 2 operator saja.

Drone ini juga tidak membutuhkan landasan landasan pacu atau sistem pelontar yang berat dan mahal, sehingga dapat beroperasi lebih cepat serta lebih aman, dimana saja, kapan saja.

Drone Transisi dirancang sebagai sistem hibrida yang memungkinkan penerbangan sayap tetap tradisional dan kombinasi penerbangan multirotor, memberikan yang terbaik dari dua jenis pesawat terbang.

Penerbangan multirotor yang praktis digunakan untuk lepas landas dan mendarat dengan efisiensi, jangkauan dan ketahanan yang lebih baik dari sebuah pesawat bersayap tetap.

Penggabungan teknologi VTOL pada sistem bersayap tetap memungkinkan “Transisi” untuk lepas landas dan mendarat diruang tertutup dalam waktu yang sangat singkat, yang menawarkan keuntungan besar di atas sistem tradisional serta dampak dan tekanan yang lebih rendah pada pesawat terbang dalam penggunaan jangka panjang, yang mana biasanya  diluncurkan dengan pelontar dan pendaratan memakai parasut yang sulit dan tidak dapat diprediksi.

Badan/bodi drone Transisi dirancang oleh Otoritas Penerbangan Sipil Afrika Selatan yang telah disetujui oleh Organisasi Desain Aeronautika, yang menampilkan sayap dihedral 3 m, winglet aerodinamis dan berbentuk U, dirancang secara cermat untuk penerbangan jangka panjang yang efisien serta menawarkan kemudahan penggunaan yang lengkap.




ALTI telah mengembangkan berbagai fitur unik dan eksklusif untuk Transisi, termasuk pengait sayap yang mudah dilepas, tangki bahan bakar internal, roda pendaratan aero-foil, antena didalam sayap dan dilengkapi GPS internal, berarti sistem ini tanpa drag, bodi pesawat yang bisa dikerahkan secara cepat untuk perakitan dan pengangkutan, teknik pembuatan komposit yang dioptimal dan fitur ALTI  lainnya.

Fitur dan desainnya, mampu menghasilkan sistem dengan berat sangat rendah dengan berat lepas landas maksimum sekitara 16 kg. Daya angkut drone dapat disesuaikan, untuk memasang kamera, sensor dan peralatan lainnya, sistem ini menawarkan fleksibilitas yang besar tanpa membatasi ruang lingkup operasi ataupun misi.

Dirancang agar stabil secara aerodinamis dan mantap dalam aplikasi penerbangan dengan kecepatan rendah, ALTI Transition dirancang untuk terbang dengan kecepatan jelajah 72 km/jam. Airframe drone dirancang untuk kecepatan maks. 108 km/jam dan min 46 km/ jam. Drone ini memiliki daya tahan hingga 7 jam menggunakan bahan bakar dalam mode Sayap Tetap dan hingga 2 jam menggunakan baterai cadangan.

ALTI Transition merupakan pilihan hemat biaya yang sangat baik untuk digunakan dalam pengendalian zona ekonomi eksklusif (ZEE), pencarian dan penyelamatan (SAR), bisa juga untuk pengawasan perbatasan, pengawasan daerah aliran sungai (DAS) dan beberapa misi dukungan.

Ini adalah pilihan ideal yang ditujukan bagi angkatan bersenjata negara-negara yang tidak memiliki sumber daya dan infrastruktur yang diperlukan untuk mengoperasikan unit-unit pengintai berkapasitas tinggi. Drone ini juga sangat ideal untuk digunakan Penjaga Pantai, Bea Cukai, Layanan Meterologi, Kepolisian, Riset Ilmiah, Infrastruktur, Dinas Pemadam Kebakaran.

Bagikan:

  11 Responses to “ALTI Transition, Drone “Hibrida” Untuk Negara-Negara Berkantong Tipis”

  1.  

    Wah mungkin bisa jadi inspirasi utk Indonesia…. Desainnya bagus, selain itu endurancenya sampai 7 jam

  2.  

    punya drone emang mutlak jmn skrng selaen lantaran biaya operasionalnya lbh murah dan efektip jg lbh bergaya citra moderen. Apalg klu bs bikin sendiri ntu akn ngemat duit dolar keluar negeri, dan bs nambahin lapangan pekerjaan di dlm negeri.

  3.  

    mantap” cocok buat mendukung pertempuran kota bisa di pasang kamera pengintai juga granat yg ringan untuk di jatuhkan di area musuh.

  4.  

    kaya quad copter aja nih

 Leave a Reply