Jul 162013
 

F-16C block 25 serial number 84-1281 yang akan dihibahkan ke Indonesia. Photo diambil 9 April 2008 di Eielson AFB, saat misi Red Flag-Alaska  [Photo by Karl Drage]

F-16C block 25 serial number 84-1281 yang akan dihibahkan ke Indonesia. Photo diambil 9 April 2008 di Eielson AFB, saat misi Red Flag-Alaska [Photo by Karl Drage]

Disadur dari wawancara wartawan BBC Indonesia Dewi Safitri dari artikel terbitan 16 Juli 2013 dan 15 Juli 2013:

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono:

Fighter F-16 Block 25/32 eks AS
Alutsista yang  hendak dibeli sekarang banyak berstatus bekas pakai dan rekondisi, ada keluhan soal ini? :
Asal ditingkatkan daya tempurnya, itu cukup memadai. Misalnya begini beli baru (F16) Blok32 seharusnya dapat enam dengan usia pakai sekian tahun. (dibandingkan) Dengan hibah, air frame-nya bagus, peralatannya kita samakan dengan kecanggihan 32, (menjadi) sama. 10 tahun ke depan Blok32 itu juga sudah akan ketinggalan, artinya sama-sama ketinggalan (dengan yang bekas pakai). Karena itu pilihan mengambil retrofit, dengan tingkat kecanggihan yang memadai menjadi tawaran yang menarik, kita pilih itu. Untuk 10 tahun ke depan ini masih sangat memadai dalam konteks kawasan ASEAN. Toh 10 tahun ke depan harus diretrofit lagi, beli baru juga harus diretrofit.

Kasum TNI Marsekal Madya TNI Daryatmo memeriksa jajaran pasukan TNI saat upacara pembukaan latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Markas Komando Divisi Infanteri-1/Kostrad Cilodong,  Jabar, dalam misi  Latihan PPRC di Natuna (Edwin Dwi Putranto/Republika)

Kasum TNI Marsekal Madya TNI Daryatmo memeriksa jajaran pasukan TNI saat upacara pembukaan latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Markas Komando Divisi Infanteri-1/Kostrad Cilodong, Jabar, dalam misi Latihan PPRC di Natuna (Edwin Dwi Putranto/Republika)

Penjagaan Kepulauan Natuna
Tetangga di ASEAN juga giat membangun arsenal, dikaitkan dengan konflik Laut Cina, bagaimana posisi TNI ?:
Kita mendukung code of conduct penyelesaian konflik dengan damai, negosiasi bilateral. Kepentingan kita menjaga kalau memang ada konflik, imbas tidak sampai ke wilayah kita. Maka kita perkuat sistem (pertahanan) di utara, menjaga jangan sampai konfliknya nanti berpengaruh ke sini. Karena di Laut Natuna ada banyak eksplorasi minyak, kita harus lindungi. Secara rutin sepanjang tahun kita tugaskan patroli rutin di sana, dari sistem patroli udara kita pastikan mampu meng-cover wilayah Laut Cina Selatan khususnya Laut Natuna. Pangkalan kita di Pontianak juga mulai kita arahkan untuk mampu cover Laut Natuna. Kita juga kerjasama dengan negara tetangga untuk latihan bersama, jadi kalau ada situasi kita butuh aksi bersama, kita sudah siap.

Salah satu hibah Hercules C-130 dari Australia (Photo Dispenau)

Salah satu hibah Hercules C-130 dari Australia (Photo Dispenau)

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro:

Pengadaan Hercules C-130
Pemerintah telah menerima tawaran Australia untuk empat pesawat Hercules dengan skema hibah ditambah enam lagi dengan tawaran harga murah. “Tadinya kita cukup punya CN295, yang bekerjasama dengan Airbus Military Industry (dan PTDI). Kita mau beli 9-10 (pesawat). Tadinya,” kata Menhan Purnomo Yusgiantoro. Tawaran alternatif dari Australia segera disambar Kemhan karena kekuatan Hercules TNI AU yang sudah sangat memprihatinkan saat ini.

“Tadinya kita cukup punya CN295, yang kita kerjasama dengan Airbus Military Industry (dan PTDI). Kita mau beli 9-10 (pesawat). Tadinya,” kata Menhan Purnomo Yusgiantoro. Tawaran alternatif dari Australia segera disambar Kemhan karena kekuatan Hercules TNI AU yang sangat memprihatinkan saat ini karena minim dan uzur.

Mantan  KASAU Marsekal Purn Imam Syufaat:

Jumlah Hercules dari Australia
Dengan anggaran hanya Rp8 triliun untuk TNI AU tahun ini, pilihan pesawat bekas pakai nampaknya dianggap cukup masuk akal. “Seperti hercules kita hanya punya 13 pesawat. Kalau kita ada uang jadi ada tambahan 10 Hercules nanti dari Australia,” kata Imam kepada media, sesaat setelah TNI merayakan hari jadi Oktober lalu.

Disain Jet Tempur KFX / IFX, Korea Selatan - Indonesia

Disain Jet Tempur KFX / IFX, Korea Selatan – Indonesia

Pengamat Milite Andi Widjajanto:

Proyek fighter KFX Indonesia- Korea Selatan
Pemerintah Indonesia secara resmi mengatakan proyek hanya ditunda namun menurut pengamat militer Andi Widjajanto yang terjadi sesungguhnya lebih serius karena menyangkut kontrak alih teknologi.”Kita sebagai negara bebas-aktif tidak menganut blok pertahanan, karena itu upaya alih transfer teknologi menjadi lebih sulit,” kata pengajar di Jurusan Hubungan Internasional UI ini.

Dalam kasus KFX menurut Andi, Indonesia berharap belajar teknologi jet F16 yang lisensinya sudah dilimpahkan AS kepada Korsel, yang merupakan sekutu dekatnya di Pasifik. Belakangan ternyata Korea Selatan lebih tergiur mengembangkan KFX dengan teknologi pesawat F35, yang lisensinya belum tentu boleh dibagi dengan Indonesia.”Karena tidak ada pelibatan (Indonesia) sama sekali dalam konsorsium (persenjataan) global dengan Amerika.” (bbc.co.uk/indonesia – Dewi Safitri).

  10 Responses to “Alutsista dan Pertahanan Indonesia 2013”

  1. duh indonesia jadi bahan mainan mulu. bangsa ini ga sadar2 kali ya? ya tuhan sadarkanlah para petinggi bangsa ini.
    kami tahu bahwa menguasai teknologi apapun sulit, tapi apakah mau dikacangin mulu oleh bangsa lain.
    cobalah berfikir cerdas, jauh kedepan dan penuh realita, ajaklah negara lain yang betul2 mau diajak kerja sama, yiaitu yang punya kepentingan yang sama dengan bangsa ini.
    kenapa ga milih rusia, turki, pakistan?
    padahal mereka mereka pernah mau ngajak bekerja sama tuh, oke lah rusia agak sulit, tapi masih ada negara lain kok yang mau dengan win win solution_nya mereka.
    cobalah lirik dikit aja jangan dicuekin mulu, agar daya tawar kita naiklah minimal.

  2. Sekedar selingan ngabuburit:

    Untuk mengetahui radius ledakan rudal nuklir Dong Feng di kota anda:

    http://nuclearsecrecy.com/nukemap/

    (isi nama kota, pilih jenis rudal dan press Detonate)

  3. Jadi kaya dagang HP…calonya lebih untung gede jual bekas daripada beli baru..

  4. F16blok25-diretropit jadi blok52-itu kan jadi setarap dg F16 AU chili-singapore dll-secara kwality meski frame lbih tua ‘tetap tidak ada prbedaan zignifikan yg artinya semua tipeF16 retropit miliki manuverbility plus-diluar urusan politik-hibah 24F16 bisa disebut rzki nomplok-ekonomis- kalikan sja jikabeli F16 baru /cost 24-30 hibah F16 yg notebene scara kwality sama:F16baru paling dpet 6-busyet apa angker klo punya6-he

  5. Dlm pergaulan internasional memang ada plus minusnya utk pesawat yg kita beli dr AS, krn AS ingin ke asia pasifik utk penempatan pasukan guna menghadapai pengaruh perluasan wilayah laut dr fihak cina apa salahnya kalau kita ikut nimbrung dg pembelian pesawat harga murah pesawat banyak utk mengkafer luas wilayah yg cukup besar spt luas AS dan disisi laian kita juga hrs punya pesawat yg lain dr para penggemar AS yaitu berupa sukhoi utk penggemar rusia shg kita dlm pergaulan internasional tdk ada blok yg ada kita baik semua hanya saja resiko korban uang utk beli pesawat F-16 aja. Ttp kelihatannya Malaysia juga ikut2 kita berbaik dg rusia dg kerjasama dlm pembuatan alutsista, mungkin dia berpikir akan terjadi perang fisik di asia pasifik dan seperti ini dlm posisi kita di asia pasifik dlm kepemimpinan SBY nah stl kepemimpinan beliau selesai baru presiden baru apa yg mau diperbuat. Disisi lain alutsista NKRI perlu mendapat sentuhan dg berkaitan kita pengalaman yg terdahulu dg embargo AS, kita berusaha membuat trobosan dg mengembangkan alautsista kita dg ditimbulkanya uu alautsista agar semua fihak mau kedepan juga mengembangkannya alutsista kita utk lebih maju lagi. Dan asia pasifik terus berkembang apakah cina berani berhadapan dg AS dan Fan kita melihat/ikut membantu yg berkonflik dg serta merta Rusia juga tahu akan permintaan alutsista miliknya yg menggiurkan dr negara2 asia pasifik juga berkeinginan membesarkan armadanya di asia pasifik. Selanjutnya tergantung pres pengganti SBY, nimbrung kemana ke AS monggo ke Rusia monggo dan resiko dlm pertemanan sdh ada. Salam NKRI………………………………………

 Leave a Reply