Sep 062019
 

File:B-52 Stratofortress, From Wikimedia Commons, the free media repository.

Washington, Jakartagreater.com  – Sebuah bomber B-52 Stratofortress AS telah tiba di Inggris untuk latihan Cobra Warrior NATO dan latihan lainnya, ungkap Departemen Pertahanan AS dalam siaran pers, dirilis Sputniknews.com pada Kamis 5-9-2019.

“Pesawat B-52 Stratofortress, kru penerbang dan peralatan pendukung yang ditugaskan untuk Bomb Wing ke-307 dari Pangkalan Angkatan Udara Barksdale, Louisiana, tiba di RAF Fairford, Inggris, untuk berpartisipasi dalam latihan Ample Strike 19, Cobra Warrior dan NATO Days “, kata rilis itu.

Pengerahan pesawat ini juga “mencakup pelatihan bersama sekutu di Teater Komando AS Eropa, untuk meningkatkan interoperabilitas bomber”, tambah rilis itu.

Kedatangan bomber ini menyusul, setelah satu pesawat tanker KC-135 stratotanker dari Nebraska National Guard tiba di Pardubice Air Base di Czech Republic untuk latihan Ample Strike, 4/09/2019.

Latihan Ample Strike adalah latihan tahunan yang dirancang untuk meningkatkan kemahiran untuk semua pengontrol udara dan pengontrol udara terminal bersama, serta untuk meningkatkan standardisasi dan interoperabilitas di antara sekutu dan mitra NATO.

Sementara itu, pembom B-52 yang dikirim ke Inggris juga dijadwalkan untuk berpartisipasi dalam Cobra Warrior, latihan yang mencakup jet dari Angkatan Udara Jerman, Italia, dan Israel.

  33 Responses to “Amerika Serikat Kirim Bomber B-52 ke Eropa”

  1.  

    Hampir Seluruh Dunia Berlomba lomba meningkatkan Anggaran Militer Se Besar besarnya …..Indonesia malah Mengeluarkan Stetment , Bahwa ” INDONESIA TIDAK PUNYA MUSUH “…20 TAHUN KEDEPAN TIDAK ADA PERANG ….SEKARANG BAGAIMANA ???…SAYA SEBAGAI RAKYAT BIASA SAJA ” KETAR KETIR “….DIDUNIA INI BANYAK NEGARA YG SUKA MEMPITNAH…MEMPROPOKASI NEGARA LAIN…MENGADU DOMBA ..CONTOHNYA…SURIYAH …SEKARAN INDONESIA..ANTARA RAKYAT PAPUA DENGAN PEMERINTAHAN YG SYAH….Seandainya tak ada masalah pembayaran uang muka kepada Airbus Defence and Space (ADS), sejatinya pada tahun ini (2019-red) satelit komunikasi militer pertama milik Indonesia telah mengorbit, dalam paketnya Indonesia akan mengorbitkan satu satelit geostationer (GSO) dan dua satelit non geostationer (NGSO). Tapi sayang, lantaran sengkarut masalah pembayaran, termasuk pada kasus antara Kementerian Pertahanan dengan Avanti Communication, sang operator satelit Artemis, menjadikan impian Indonesia memiliki satelit pertahanan harus tertunda lagi.

  2.  

    jangan lupa kalau mau berburu opm pakai helicopter mi 35 jangan pakai apqche.dah pasti di embargo sama HAM buerger.

    apache cuma buat pajangan doank.

    •  

      Kemahalan kalo pake Mi-35.

      •  

        Cina, India Dan Korea Selatan Pacu Kapasitas Dan Kemampuan Satelit Militer, Bagaimana Dengan Indonesia?
        indomiliter | 06/09/2019 | Berita Matra Udara, Berita Update Alutsista, Satelit | 6 Comments

        FacebookTwitterWhatsAppLineCopy LinkEmail

        Seandainya tak ada masalah pembayaran uang muka kepada Airbus Defence and Space (ADS), sejatinya pada tahun ini (2019-red) satelit komunikasi militer pertama milik Indonesia telah mengorbit, dalam paketnya Indonesia akan mengorbitkan satu satelit geostationer (GSO) dan dua satelit non geostationer (NGSO). Tapi sayang, lantaran sengkarut masalah pembayaran, termasuk pada kasus antara Kementerian Pertahanan dengan Avanti Communication, sang operator satelit Artemis, menjadikan impian Indonesia memiliki satelit pertahanan harus tertunda lagi.

        Baca juga: 2019! Satelit Militer Indonesia Resmi Mengorbit di Luar Angkasa

        Dikutip dari IndoTelko.com (1//3/2019), Melihat sangkarut tersebut akhirnya Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan pemerintah harus mengambil kebijakan baru untuk menyerahkan operator pengadaan Satelit L-Band dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan) ke badan usaha lain yang bukan pemerintah. Dan informasi terakhir PT. Dini Nusa Kusama (DNK) telah ditunjuk Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk mengelola slot orbit 123 derajat Bujur Timur (BT).

        Lepas dari kasus di atas, keberadaan satelit bergenre kebutuhan militer, entah untuk misi backbone komunikasi dan surveillance sudah jamak dilakoni beberapa negara besar di Asia. Bagi negara sekelas Cina, India dan Korea Selatan, kebutuhan mereka bukan lagi menempatkan orbit satelit militer, melainkan lebih untuk menambah kapasitas dan kemampuan pada varian satelit terbaru.

        Satelit Yaogan 30
        Seperti Cina yang getol melakukan eksplorasi dan riset bawah laut lintas samudera, dukungan satelit dengan kemampuan plus+ mutlak diperkukan untuk menjamin konektivitas data pada puluhan kapal risetnya yang bertebaran di lautan luas. Dan Cina belum lama berselang telah meluncurkan tiga satelit Yaogan-30 TacticalIimaging/ELINT yang diluncurkan dari roket Long March-2C pada 26 Juli 2019 dari Xichang Satellite Launch Centre, Sichuan, Cina.

        Sebanyak empat satelit yang sudah berada di angkasa ini, menurut Otoritas Pertahanan Cina kelak akan digunakan untuk mendeteksi gelombang elektromagnetik dan tes teknologi terkait.

        Peluncuran Yaogan-30 Group 4 merupakan misi ke-308 untuk seri roket Long March yang ditujukan untuk menempatkan satelit di orbit, 600 km di atas permukaan bumi. Dengan beroperasi di ketinggian orbit rendah 650 Km, fungsi satelit ini sebagai remote sensing dan pengintaian. Waktu layanan satelit NGSO tak sepanjang satelit GSO, yakni pada rentang tiga sampai lima tahun. Satelit pengintai (spy) ini berjalan di spektrum frekuensi UHF, SHF, L-band, X-band, dan S-band.

        Baca juga: Pentingnya Satelit Militer di Slot Orbit 123BT, “Karena Ruang Angkasa Adalah Zona Tanpa Kedaulatan”

        Satelit Yaogan-30 dirakit oleh Chinese Academy of Science dan satelit ‘kembar tiga’ ini beroperasi dalam jarak yang relatif dekat sehingga dapat dengan akurat memendarkan sinyal. Dipercaya bahwa satelit penginderaan jauh dalam orbit 35 derajat dapat menemukan platform militer seperti kapal induk melalui transmisi elektromagnetiknya.

        Triplet Yaogan 30.
        Sebelumnya, Triplet Yaogan 30 pertama diluncurkan pada 29 September 2017, dengan peluncuran berturut-turut pada 24 November dan 25 Desember di tahun yang sama. Memang, ketiga satelit Yaogan-30 ini berjarak sekira 120 derajat untuk menghasilkan cakupan Signals Intelligence (SIGINT) yang cukup efektif.

        Tatanan ini memungkinkan People’s Liberation Army (PLA) untuk melintasi suatu area 19 kali per hari di bumi dalam mode pencitraan vertikal, atau 54 kali sehari dalam mode off-vertical SIGINT.

        Penambahan triplet keempat ke orbit yang sama dengan Group 3 mengacu ke jarak genap 60 derajat antar masing-masing satelit, dimana ini akan meningkatkan tingkat revisit. Diharapkan, peluncuran dua Yaogan-30 di masa mendatang akan menciptakan konstelasi yang terdiri dari 18 satelit.

        Lintasan satelit Triplet Yaogan 30.
        Sewa Bandwidth dari Amerika Serikat

        Menurut Wall Street Journal, Cina justru menyewa bandwidth pada sembilan satelit AS dan mendapat manfaat militer dari kegiatan tersebut. Meskipun undang-undang AS melarang setiap perusahaannya untuk menjual satelit ke Cina, namun tidak ada peraturan yang mengatur tentang penyewaan bandwidth.

        Seperti disebutkan di paragraf sebelumnya, Cina tak sendiri di Asia. Pada 22 Mei 2019, Indian Space Research Organisation (ISRO) juga telah sukses meluncurkan satelit pengamatan Bumi citra radar yang mampu menangkap gambar resolusi tinggi di tingkat militer dalam semua kondisi cuaca – baik siang atau malam hari.

        RISAT-2B yang digadang-gadang memiliki bobot seberat 615 kg ini diluncurkan dari Satish Dhawan Space Center di India selatan ke sun-synchronous polar orbit, 556 km di atas Bumi. Satelit ini memiliki X-band Synthetic Aperture Radar (SAR), dan pencitraannya akan melengkapi gambar yang ditangkap oleh satelit Cartosat dari ISRO.

        Peluncuran satelit RISAT-B2 di Satish Dhawan Space Center di India.

        RISAT-B2.
        RISAT-2B sendiri memiliki lifespan lima tahun, dan kehadirannya ditujukan untuk menggantikan peran dari RISAT-2 buatan Israel dan RISAT-1 buatan India yang masing-masing diluncurkan pada tahun 2009 dan 2012.

        Sementara itu, konsorsium asal Korea Selatan, Korea Aerospace Industries (KAI) dan Hanwha Systems bersinergi dengan Thales Alenia Space akan menyediakan SAR payload dan elemen platform yang berasal dari produk HE-R1000 – bagian dari Thales Alenia Space Observation yang juga mencakup optik radar dan satelit. Diharapkan, satelit-satelit ini akan diluncurkan pada tahun 2025 mendatang.

        Baca juga: Duh! Setelah KFX/IFX, Kini Giliran Pengadaan Satelit Militer Indonesia Dinilai ‘Bermasalah’

        Empat satelit yang tergabung di dalam Project 425 akan dilengkapi dengan SAR dan salah satu dari satelit tersebut akan dilengkapi dengan kemampuan pengambilan gambar electro optic infrared dengan resousi tinggi.

        Dengan kata lain, konsorsium baru ini telah sukses menyingkirkan LIG Nex1, Satrec Initiative hingga Airbus Defence and Space. Korea Selatan sendiri saat ini mengandalkan tiga satelit pengintai Arirang-Series (KOMPSAT-3, -3A dan -5) untuk mengumpulkan data intelijen.

        Saat ini, LIG Nex1 dan Airbus tengah mengembangkan satelit KOMPSAT-6 SAR, akan tetapi peluncurannya terpaksa ditunda hingga 2020. Sementara untuk KOMPSAT-7 dan satelit EO / IR, dijadwalkan akan diluncurkan pada tahun 2021 mendatang. Ya, Seoul memang masih sangat mengandalkan intelijen Amerika Serikat untuk memantau Korea Utara, sehingga sangat ingin meningkatkan kapasitas pengumpulan intelijen independennya. (Nurhalim)

        •  

          Ente mau bahas OPM atau mau bahas satelit???

          •  

            xicixicixicixi….yg ini ane gak ikutan mbah. Cuma saran ane. Tanya ke dia, satelite militer Indonesia nantinya mengelilingi bumi atau bergerak sesuai pergerakan bumi pd porosnya. Jng lupa ya mbah…..xicixicixicixicixi

            Kalo sdh dpt pencerahannya, ane dibagi dikit aja mbah, jng banyak2. Yg banyak buat si mbah biar paham dan gak jd mbambaaannnkkkkkk lg mbah……xicixicixicixicixi

  3.  

    Pesawat tua jadul, bakalan jd santapan empuk rudal R-37M. Bakal jd kembang api angkasa nantinya….xicixicixicixi

  4.  

    Pesawat pembom B52 memang Sdh pernah jd kembang api pd perang vietnam :O

  5.  

    Baik pesawat pembom as B52 dan pesawat pembom rusia TU95 masih aktif utk misi latihan / misi tempur diwilayah konflik spt misi pemboman diwilayah suriah.