JakartaGreater.com - Forum Militer
Aug 262013
 
Helikopter Serang AH-64E Apache (photo: boeing)

Helikopter Serang AH-64E Apache (photo: boeing)

Pemerintah Amerika Serikat menyetujui penjualan armada helikopter serang baru, AH-64 E Apache kepada TNI AD dengan nilai 500 juta USD atau sekitar Rp 4,7 triliun. Transaksi tersebut juga mencakup penjualan radar berteknologi tinggi Longbow, pelatihan dan perawatan.

“Salah satu kerjasama yang berkembang pesat antara Amerika Serikat dan Indonesia adalah perdagangan pertahanan. Saya sangat senang, untuk pertama kalinya AS setuju menjual Helikopter Serang Baru AH-64E Apache untuk Indonesia”, ujar Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel, usai melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro di Jakart, 26/08/2013.

“Menyediakan helikopter kelas dunia merupakan salah satu bentuk kepercayaan kami untuk membangun kemampuan militer Indonesia, tambah Chuck Hagel.

Helikopter Serang AH-64E Apache (photo: boeing)

Helikopter Serang AH-64E Apache (photo: boeing)

Kini jadwal pengiriman 8 AH-64E Apache dan pelatihan kru sedang disusun pejabat kedua negara. Hagel berada di Jakarta menemui para pejabat teras pemerintah  Indonesia, sebelum menghadiri pertemuan menteri  pertahanan Asia di Brunei.  Sebelumnya  Sabtu lalu,  ia berkunjung ke Malaysia.(JKGR).

Berbagi

  53 Responses to “Amerika Serikat Setujui Penjualan AH-64E Apache”

  1.  

    Kedatangannya pas ya dengan akuisisi C-130H Hercules ex RAAF dll, yg akan mampu mengangkut Apache ini, utk mengantarkan ke seluruh penjuru tanah air dengan cepat. Mimpi bururk bagi segala jenis kekuatan darat jiran: MBT Pendekar, FNSS 4×4, dst..

  2.  

    wah2.. kok drastis skali alias cepat sekali kesepakaatannya, trus klo ga salah itu kan tipe terbaru ya 64E pakai radar longbow lagi, nah ini datangnya kapan, bagus sih buat payung udara leopard kita punya, ini kira2 ada imbal baliknya ga ya kok kita dikasih yg baru.. trus kabar SAM jarak menengah kita jadi made china pa rusky ya.

    •  

      Yup… tipe terbaru…. tapi kata wartawan boderx di “berita” sebelah katanya masih kalah canggih dibandingin sama punya Singapur…… ga tau sembarang nge”quote” sendiri apa karena terlalu pesimis sama perkembangan alutsista yg ada… hiks

  3.  

    Siap2 jadi besi tua jika melanggar Ham, kalau lawan sekutu seperti singapura pura,malay layang layang,australia liar liar dimatikan dari pentagon.gak bisa terbang deh. Ujung2 nya besi terbang mahal dilumat karat.bukan gugur dalam bertempur.

  4.  

    AH-64E Longbow tidak lain adalah AH- 64D Longbow Block III. http://www.flightglobal.com/news/articles/ausa-us-army-to-re-designate-block-iii-apache-as-ah-64e-378043/. Punya Singapore versi sebelumnya, kecuali kalau sekarang sudah di upgrade ke Block III. Singapore terakhir kali menerima Apache 2006. Sementara AH-64D Block III barus mulai dikembangkan 2006 dan mulai diproduksi 2010.

    Pembelian Block III dalam kunjungan Menhan AS ke SBY menjadi sangat menarik. Dalam kunjungan ini dibahas pembelian alutsista Indonesia ke AS. Sementara Block III sendiri tidak sekedar block terakhir. Block ini memuat teknologi paling canggih yang bisa interkoneksi bertukar data dengan platform NATO lain semacam MLRS HIMARS, F-16 dsb bahkan F-22 Raptor, kapal induk, dst. Dalam titik ini, akankah TNI membeli lagi alutsista2 canggih lain dari AS agar teknologi Block III termanfaatkan sepenuhnya? Dan list ini dibahas dalam pertemuan Menhan AS dengan SBY dan Purnomo barusan?

  5.  

    Katanya ditukar sama kemudahan bagi AS untuk cari jenazah tentaranya di PD 2 yang kemungkinan bisa dimanfaatkan jadi cara untuk tahu detail kondisi daratan indonesia dan mungkin juga agar indonesia tidak menerima tawaran 10 kapal selam dari rusia, semua kemungkinan bisa terjadi, semoga pemimpin kita ga pada bodoh, pinter keblinger dan selalu dibodohi…ampun deh..

    •  

      Masih praduga kan gan? Lagian US dari dulu semua negara juga dimata-matai. Klo lagi latihan bareng TNI ane yakin mereka juga “nyambi” jadi mata2. Lalu mereka juga punya satelit mata2, punya pesawat mata2, lalu intelejen mereka juga ada disemua negara termasuk di kita baik yg bule maupun yg orang kita sendiri. Nggak ada istimewanya klo pura2 nyari jenazah sambil mata-matai kita..

      Klo masih nggak percaya ya monggo pas mereka nyari mayat di kasih pendamping dari TNI biar klo usil bisa dilaporkan..

  6.  

    Jangan terlalu bangga dulu dg pak che nih. gak mungkin US ngasih gak ada maksud2 tertentu

    dan bila tidak sesui arah politik mereka langsung di remote switch off dari jauh dan embargo pasti.. mau apa Indo ?

    Gak mungkin boleh beli kemudian Indo akan nembakin sekutunya.. ya kan.?? hrs bersikap hati2 jangan masuk jebakan.( maksud jangan membahayakan kedaulatan NKRI) ingat kasus Aceh emang boleh pake Scorpion ??? padahal sudah di beli dan punya sendiri ?

    Lebih enak klo murni bisnis..

    •  

      Dari dulu ane jadi sales Havoc juga nggak laku2 gan.. Soalnya pan usernya sendiri (TNI AD) udah ngebet ama ni barang, ditawarin yg lain juga emoh. Tapi ya sudahlah klo milih ni barang, paling canggih inih. Dari dulu juga ane ketar-ketir klo kasus ov-bronco ama hawk terulang lagi kedepan. Gila aja mbayangin pas lagi butuh eh diembargo sama nggak boleh digunakan..

      •  

        Om wie, mau tanya, apa produk rusia itu sulit dlm hal perawatan dan suku cadang contoh heli mi35p tni ad, akhirnya diservice di ukrania 2bj th kmrn. Dan rusia akhirnya jg menawarkan perawatan skala sedang kerjasama dgn pt di untuk heli mi-17 tni ad biar indonesia beli lg produk mereka.
        Satu lg, kmrn pintu darurat heli mi-17 jatuh menimpa mobil waktu latihan terbang, itu salah satu contoh produk rusia kualitasnya msh dibawah amrik kecuali pesawat su 27/30 memang kualitasnya ok

      •  

        Jangan panggil om lah gan, masih unyu2 ini..

        Masalahnya mereka (Ruskie) klo jualan paketnya pisah2 gan tergantung keinginan konsumen. Kita dulu mungkin paketnya nggak komplit, jadi klo har berat ya barangnya dikirim kesono bukan mereka dateng kesini. Klo ma paket lengkap termasuk maintenis, tools ama bengkel plus pelatihan pemeliharaan berat ya nggak mungkin kaya kasus kemarin. Cuma ya itu klo beli jangan ngeteng, mana mau mereka TOT bengkel kumplit klo kita beli cuman 4 biji. Lagian barang Ruskie itu modelnya klo jam terbang abis ya ganti sepaket nggak per komponen lagi, contoh mesin langsung gelondongan. Emang agak ribet sih klo barang Ruskie, klo patokan kita biasa ngerawat barang Nato. Tapi untungnya ya itu, harga murah dan mereka nggak suka main intervensi kaya anggota Nato yg klo jualan ke non ally biasa pake embel2. Jadi emang dua2nya ada untung ruginya, terserah pengambil kebijakan memikirkan untung rugi tersebut.

        Masalah pintu heli yg jatuh kemarin tu belum jelas sih gan, dari berbagai sumber ada yg bilang mi-17 ada yg bilang jenis puma, jadi ane nggak bisa ambil kesimpulan. Hasil penyelidikan juga belum keluar, jadi yg salah siapa juga belum tau, jadi menurut ane terlalu dini men-judge barang ruskie low quality.
        Cmiiw…

      •  

        katanya sih emnag Mi – 17 cuman yang salah manusianya pake narik tuas pintu darurat segala, kalo helinya sendiri sih ok sangat stabil gak gampang oleng, orang sipil biasa dengan sedikit briefing bisa kok ngendaliin(yang bilang temenku dia anggota komunitas pecinta militer yang dapat kesempatan menerbangkan Mi 17 di Semarang)

  7.  

    Klo disebut kalah sama Singapore berarti punya kita di-downgrade. Tapi emang begitu apa wartawannya yg salah kutip? Soalnya sering kejadian sih, makanya ane belum percaya klo pake satu sumber doang gan..

    Seperti kata bang WH, Apache yg kita beli klo full spec ya lebih canggih dari singapore.

    •  

      Betul tuh Gan… kayaknya emang wartawannya yang bodrex… alias sok tau…

    •  

      Kayaknya sih gitu gan.. Dia (si wartawan)mbandingin seri punya Singapore ada embel2 “Longbow” dibelakang, sedang yg mo diambil kita embel2nya “Guardian” bukan Longbow. Padahal punya kita klo full spec juga pake konde (radar) longbow sama kayak punya Singapore..

      •  

        Begitullah, kalau wartawan umum kan generalis, bukan spesialis. Tahu banyak tapi sedikit sedikit, yg penting jualannya laku. Karena nggak mengikuti perkembangan teknologi Apache, maka yg dibandingkan adalah negaranya. Karena Singapore lebih maju, maka bisa ditebak Apache nya juga akan lebih maju. Kecuali wartawannya dari Angkasa, ARC, dan sebangsanya, bolehlah dipercaya.

        Btw AH-64D (Digital) sejak Block I juga sudah punya jambul. Block III penambahannya sudah sangat significant dibanding Block I dan II (spt yg dimiliki Singapore), shg lebih tepat kalau menyandang seri baru dan nama baru menjadi AH-64E Guardian.

        b

  8.  

    liat saja……baru terbang diatas papua tuh apache…langsung protes….kongres sam…………katanya sih biar seimbang antara sam sam rusky…..biar sam gak meraung2 kalap….kaya koboi mabuk..tembak sana sini…..lady…………tuh liat rupiah baru di sentil turun ………………gara2….freeport papua katanya mau di nasionalisasikan………………….ambil freeport..untuk nkri

  9.  

    Saya heran dgn para pejabat militer kita,apakah ini krna lobi2 gedung putih dan cikeas yg menginginkan heli serbu ini dibeli.padahal Rusia memiliki heli serbu yg canggih dan kompeten. Atw para Jend kita terjerembab dlm film2 koboi amrik yg memamerkan peralatan militer2 mereka dgn gagah menghabisi musuh. Sya rasa pngadaan Heli Serbu ini bukan 1 skuadron lagi,tapi 15 skuadron,disebar ke semua perbatasan dgn negara tetangga pro amrik. Dana yg besar hnya dpt 1 skuadron,apakah lebih baik dana besar dgn banyak barang yg didpt lebih baik. Saya sgt2 ragu dgn brg2 amrik,jika terjadi pertempuran antara RI dgn negara yg msih pro amerika peralatan tmpur kita tdk bisa diaktifkan. Seharusnya ini jdi pertimbangan yg baik bagi para jenderal kita. Amerika ga selamanya baik,justru sebaliknya Rusia lah yg rela jual peralatan ke kita dgn berbagai bonus demi keutuhan bgsa kita.Cth kasus papua yg hrus direbut dgn semua armada dri Rusia. Jgn pro barat saja, tpi liat Timur Rusia yg sgt2 tdk pernah ingin intervensi negara lain scra lgsg. Berbeda taktik paman sam

  10.  

    menyedihkan, spek apache dan persenjataannya pasti dibawah australia dan singapura, gmana bisa melawan pasukan yang ada di pulau cocos

  11.  

    nilai positifnya, apache sangat baik untuk pengalaman tempur pilot kita dengan teknologi tinggi tidak cuma menembak dengan roket FFAR, tapi bs mendeteksi sparatis didalam lebatnya hutan penggunaan meriam pada helikopter,rudal anti tank.

    Pengalaman pilot ini bisa dipakai untuk membagi ilmu pd junior dan bs untuk menguji helikopter yg akan dibuat oleh PT.DI

  12.  

    praktisnya, ane setuju 8 apache diambil. Soal beli dari paman sam beresiko embargo dg alasan ham, saya kira selama kita membeli dari luar terus, resiko itu selalu ada, tergantung angin politiknya. Klo mau bener2 bebas embargo, yha bikin sendiri, mulai dari struktur rangka, bodi, mesin hingga avionik dan persenjataan. Dg rusia kita jg pernah mengalami embargo senjata, pasca peristiwa 1965. Jadi, saya kira dlm konteks kekinian, strategi berdiri di banyak kai dlm hal akuisisi senjata adalah pilihan logis dan rasional. Dari barat kita beli alutsista, dari timur-pun kita masih tetap belanja senjata. Tinggal pintar2 nya pemeirntah kita aja memainkan peran dan posisi geopolitik Indonesia yg “konon” mulai diperhitungkan di kawasan regional (dan mungkin internasional ?). Soal kompensasi berupa konsesi ekonomi/penempatan aset militer,….justru itu tantangannya, Ingat….there is no free lunch.

    •  

      Setuju.

      AS dan Inggris mau embargo kita lagi? Dan Australia mau petentang petenteng lagi di Papua kayak di Timtim? Ngigau kali ye … .

      Kita semua perlu menyadari dan meyakini, bahwa Indonesia sekarang dan nanti tidak sama dengan Indonesia di awal tahun 2000an saat di embargo gara-gara kasus Timor Timur dan Aceh. Apalagi sebagai negara pengutang akibat krismon 1997, saat itu Indonesia memang butuh Barat, sementara Barat tidak butuh Indonesia — sebagai negara yang perlu diperhitungkan. Tapi kini, secara geopolitik dan ekonomi, Indonesia yang sangat condong ke China dan Russia betul-betul akan menyulitkan kepentingan AS di Asia Pasifik, yang pada akhirnya mempengaruhi ekonomi AS sendiri. Australia sendiri juga lebih-lebih merasakan demikian. Sama halnya dengan Turki yang seenaknya membom suku Kurdi, toh AS dan Eropa cuek saja. Tentu saja GAM dan OPM tidak perlu di-Kurdi-kan, pentolannya di uber sama Densus 88 saja sudah cukup. TNI tinggal menyekat saja agar jangan lari kemana-mana.

    •  

      @bang DDR3

      Koreksi bang, Rusia tidak pernah meng-embargo Indonesia, melainkan kita yg beralih kiblat ke barat juga dikarenakan rendahnya budget militer kita waktu itu buat merawat barang2 ruskie, makanya banyak yg terbengkalai.

      Sekali lagi masalah potensi resiko terhadap embargo militer konteksnya. Sekarang itungannya lebih besar mana sih potensi diembargo sama US dibanding Ruskie.. Pertama masalah HAM, pan kita tau betapa ketatnya mereka masalah HAM (mau kita bener/salah, klo mereka bilang salah ya jalan itu intervesi termasuk embargo). Kedua masalah jika terjadi konflik kita dengan tetangga, mesti diingat US tuh klo sama Ally-nya mereka ngelindungi banget, bisa ditebak mereka mihak kemana (Australia US/british ally, singapore us ally, malaysia british ally dan anggota FPDA bersama ostrali, s’pore plus opsi bantuan dari NATO jika terjadi serangan ke anggota FPDA, tuh complicated banget kan). Bukannya ilfil sama US, selama kita bukan Ally mereka nothing impossible gan. US itu angin-anginan tergantung siapa yang berkuasa ntar, sejarah intervensi-nya yg ngeri2 sedap. Sekarang kedelai besok tempe udah biasa banget klo US mah klo sama non ally. Bukan menafikan ruskie nggak bakalan ngembargo kita lo, bisa tapi kecil kemungkinan dibanding sama US and the gang klo melihat reputasinya. Meskipun ane melihat perkembangan positif hubungn kita sama mereka, berdasarkan asumsi bahwa kita negara terpenting dikawasan yg harus dirangkul US and the gang, tapi tetep aja rekam jejaknya sulit untuk tidak diperhitungkan. Kudu siap plan-B gan klo kejadian. Ato apa perlu kita masuk US ally aja sekalian? Sekali lagi ane menekankan masalah potensi embargo militer bukan masalah lain.

      Pun ane nggak menolak klo ambil mainan dari mereka, selain high quality juga layanan penjualannya bagus (klo lancar nggak kena masalah). Jas Merah (jangan sekali2 melupakan sejarah) dan tetaplah bermain cantik. Sekedar share pemikiran, bisa salah bisa bener…

      •  

        Yup….intinya, kita jangan tergantung total dengan hanya satu blok saja. Pun tidak ada jaminan pasti apakah suatu saat nanti rusia tidak akan mengembargo kita. Toh selain potensi embargo, tentu ada hal lain yang sifatnya lebih teknis yg jadi bahan pertimbangan, kenapa heli serbu kita ambil dari USA dan knapa tdk ambil si Havoc (misalnya) atau sekalian banyakin MI-35 sampe 4 skuadron. (maaf, klo hal ini, saya kira TNI-AD yg lebih tahu detailnya, krn mereka adalah user). Btw, just my 5 cents

      •  

        Ane juga melihat itu.. Pengambil keputusan di kita mencoba memainkan peran “colek kiri kanan”, karena masih lemah dan belum merasa mampu berdikari. Apakah efektif? Hanya waktu yg akan menjawabnya..

        Penumpukan US mariners di Darwin dan Cocos menurut ane bukan sekedar antisipasi terhadap agresivitas China, tujuan keduanya tentu saja memberi tekanan ke Jakarta pentingnya berbaik-baik ke uwak sam sambil mengantisipasi kita menjadi sangat dekat ke blok lain. There is no choice but to follow their interest, gampangnya pilih ikut digampar apa ngikut kepentingan si uwak. Rupanya pilihan A thousand friends and zero enemy nggak seindah kenyataan ya. Apakah Apache ada hubungnnya dengan ini? Mungkin iya mungkin juga tidak klo ternyata pengambil keputusan milih nih barang murni berdasarkan kualitas produk.

        Ndak masalah sih ane klo kita beli Apache, barang nomer wahid dikelasnya meskipun rawan embargo. Lagipula nilai strategisnya kurang dibanding Flankers ama lontong kita, klo diembargopun nggak terlalu pusing mikirnya, masih ada mi-35 ama fennec meskipun secara kualitas jauh dibawahnya. Sekedar teori konstipasi ala kadarnya dari ane..

  13.  

    Namanya juga buatan manusia bos, dimana-mana juga tidak ada yang kekal. Nggak masalah dengan uneg-unegnya, mudah2an yang berikut ini sedikit obat puyeng ..hehe

    Good news nya baling2 Apache tidak serapuh heli lain. Kena peluru kaliber kecil (bukan meriam) tidak hancur, cuman bolong, pelurunya nembus bablas saja, dan heli tetap terbang normal. Yang perlu dipahami, Apache Longbow / Guardian punya daya tahan yang sangat tinggi dibanding heli lain jenis apapun bukan berarti heli ini tidak bisa dihancurkan sama sekali. Apache Longbow / Guardian memang diciptakan untuk menuju konsentrasi musuh yang tentu saja sarat dengan hujan peluru senapan mesin.

    Definisi daya tahan tinggi AH-64 Apache Longbow / Guardian adalah sbb:
    1- Kemampuan menghindari deteksi lawan
    1.1 Pengurangan akustik
    1.2 Pengurangan panas gas buang
    1.3 Spesialis terbang siang, malam, dan segala cuaca …

    2- Jika terdeteksi, bisa melakukan jamming untuk pengecohan.

    3- Jika kemudian tertembak dan rusak, sebisa mungkin masih tetap terbang
    3.1 Gearbox baling2, yg berisi pelumas, tahan tembakan 23mm. Kalaupun sampai bocor kena tembakan, Apache masih bisa terbang 30 menit lebih untuk pulang dengan TANPA grease pelumas dalam gearbox (alias terbang dengan dry gearbox).
    3.2 Power kedua engine sangat besar shg kalau satu engine mati masih bisa pulang, krn tenaga dari satu engine sisanya masih cukup
    3.3 Shaft ekor didesain menyerap hantaman, dan jika putus karena tembakan, tidak akan sampai membelah ekor.
    3.4 Penggunaan bahan komposit yang sangat luas untuk menyerap tembakan kaliber kecil dan pecahan peluru meriam.
    3.5 Sistem hidraulik redundant rangkap dua bertekanan tinggi 3,000 psi
    3.6 Baling-baling yg cukup ampuh spt uraian di atas
    3.7 Tangki bahan bakar jika tertembak tidak bocor, bisa rapat kembali (self sealing).
    …dll
    4- Jikalau pada akhirnya tertembak jatuh juga, kedua kru (pilot dan gunner) diupayakan masih bisa selamat dan menjauh dari rongsokan.
    4.1 Kursi mempunyai struktur penyerap hentakan yang sangat besar
    4.2 Frame struktur cockpit sangat kuat. Apache jatuh terbalik di tanahpun ruang cockpit tidak akan gepeng yg bisa menggencet kru nya.

    •  

      Yup, bener bget.
      Di salah 1 acara stasiun tv luar,big factory.pembuatan apache itu sgt detail bget.semuanya udh diperhitungkan dgn matang oleh para ahli.mampu terbang dgn 1 mesin jika mesin mati.tangki minyak jika tertembak tdk akn terbakar krn ada lapisan pelindung mencegah kebakaran. Memang apache heli kelas serbu yg perhitungan nya sgt tinggi.Tidak heran harga nya selangit.krn pngerjaan nya juga bnyk dgn tenaga manusia,tdk 100prsen handalkan mesin2 robot.

    •  

      mantep penjelasannya bung WH, baru tau saya..Nah kalau apache kena rudal manpads gimana? masih bisa bertahan? Kemarin sempet nonton di youtube, Mi-24 nya ruski banyak juga yang ancur kena stinger pejuang afganishtan waktu pendudukan rusia. Selincah-lincahnya heli, manuvernya tetap lamban & mudah diikuti operator rudal manpads kan? Sayang banget kalau apache yang begitu mahal, mudah hancur sama rudal ‘murah meriah’ gini…

      •  

        Lompat saja bro pilot dan gunnernya keluar pakai parasut hehe …

        Itulah perang, dimana-mana akan selalu ada potensi perang asimetri. Bedil lawan bambu runcing. Tank lawan bom bensin molotov, ranjau. Sebuah kapal induk nuklir AS yg dibangun 8 tahun seharga 15 miliar US$ + 10 milar US$ aset pesawat n heli yang diangkut, bisa juga tengelam kalau kena beberapa butir torpedo seharga 1-2 juta US$ pas di bagian tertentu.

        Manpads meskipun cuma dipanggul memang cukup berbahaya. Gabungan ledakan dari hulu ledak+sisa bahan bakar+pecahannya bisa merusak Apache. Untuk menghadapi serangan roket termasuk Manpads, Apache diantaranya dilengkapi perangkat ini untuk kemudian menghindar, bersembunyi, dll:
        – deteksi tembakan roket (sejak diluncurkan) yang menuju ke posisinya
        – sistem penanggulangan elektronik tertentu (electronic countermeasure) untuk membingungkan.
        Armor memang tidak bisa terlalu diandalkan karena berat.

  14.  

    Ada lagi, jambul di atas juga bagian dari upaya menghindari deteksi lawan (point 1). Sambil ngumpet di suatu gundukan, bangunan, rimbunan pohon, dll, si jambul nyembul di atas untuk mendeteksi 128 posisi lawan dan membuat daftar 16 target top priority (sarang radar, tank, SAM, dll). Begitu komplet, Apache naik sedikit dan memuntahkan ke-16 rudal Hellfire ke posisi2 top priority kemudian segera pergi. First-look first-kill. Ke-112 target sisanya bisa diselesaikan oleh Apache lain, F-16, MLRS HIMARS (mudah2an kelak kita beli juga, jangan cuma beli MLRS ASTROS II), dll.

    •  

      Thanks bang.. Dah kumplit banget dibahasnya..

      Nah itu dia masalahnya, dengan keunggulan seabreg diatas sangat amat disayangkan tidak semua fitur canggih bisa dimanfaatkan ama kita. Fitur canggih tukar data link aka interkoneksi yg ane bingung, dengan alutsista matra darat/laut/udara kita yg campur aduk, sayang banget nih fitur jadi nggak optimal. Trus bisa apa klo alutsista yg non US diganti sistem interkoneksinya biar seragam gitu? Apa ya trus harus beli mainan mereka lagi, sedangkan perencanaan kita kan memang gado2 baik yg udah datang dan yang mau datang? Apa kita perlu bikin sistem komunikasi integral sendiri biar semua alutsista kita bisa nyambung satu sama lain?
      Mohon penjelasannya…

  15.  

    (Moga aja berita ini tidak benar)

    Ada udang dibalik Apache

    Seperti sudah bisa ditebak, kedatangan Menteri Pertahanan Amerika Serikat ke Indonesia membawa kabar baik. Seusai pertemuannya dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, diumumkan pula kesepakatan penjualan helikopter AH-64E Apache Guardian kepada Indonesia. Nilai penjualan pun melorot drastis menjadi 500 juta dollar, dari sebelumnnya 1,4 Milyar dollar sesuai pengumuman DSCA. Bahkan disebutkan pula, harga tersebut mencakup radar Longbow serta pelatihan.

    Kehadiran Apache seri paling mutakhir ini tak pelak akan menambah kemampuan TNI-AD, khususnya Penerbangan TNI-AD. Sebelumnya, untuk tugas serang TNI-AD mengandalkan heli Mi-35P serta NBO-105. Kita patut berbangga hati dalam hal ini tentunya.

    Namun demikian, ada sedikit hal yang agak janggal. Seperti dalam laporan Startribune, Indonesia disebutkan telah setuju berdiskusi untuk memperbolehkan Amerika Serikat mencari jenazah prajurit AS yang gugur semasa Perang Dunia ke-2, di perairan serta daratan Indonesia. Menurut penilaian ARC, hal ini agak janggal. Pasalnya AS belum pernah secara aktif mencari jasad prajuritnya yang gugur di perang Korea atau Vietnam. Jika pun mencari, itu atas desakan komunitas tentara AS.

    Bukan tidak mungkin, ‘pencarian’ yang dilakukan di perairan dan daratan Indonesia justru digunakan untuk hal lain. Memetakan perairan Indonesia untuk operasi kapal selam atau mendata pantai mana saja yang cocok untuk pendaratan amfibi misalnya. Lagi pula, kebanyakan prajurit AS bertempur di kawasan timur Indonesia. Tak perlu lah kami sebutkan ada apa di Timur Indonesia. Para pembaca yang budiman tentu sudah bisa menebaknya.

    Akan tetapi, semoga saja itu semua tidak benar, dan Amerika memang jujur ingin mencari jasad prajuritnya. Seandainya pun disepakati, semoga saja perwira penghubung dari TNI bisa sigap dan mawas.

    Di sisi lain, dalam pertemuan tadi juga disepakati, Indonesia dan Amerika akan menjadi tuan rumah bersama untuk ADMM Plus, dalam kegiatan Counter Terrorism Exercise (CTX), yang akan berlangsung pada tanggal 9-13 September 2013 mendatang di Kawasan IPSC Sentul, Bogor. Latihan bersama yang melibatkan 18 negara ini adalah pertama yang pernah dilaksanakan di Kawasan Asia Pasifik. Menhan Purnomo Yusgiantoro berharap Menhan Chuck Hagel dapat hadir untuk menyaksikan latihan bersama ini.

    •  

      Udh lah jgn terlalu paranoid gitu, coba di pikir alasan kenapa Indonesia sekarang jadi dibaek2in ama negara2 raksasa.. menurut pendapat gw itu karena

      1. kita negara yg bukan temen2 siapa2 penduduk banyak, pend perkapita naik n ditambah belanja alutsista juga naik maka sangat potensial buat masarin produk apa aja.

      2. ASEAN bisa kita “akalin” sampe nurut ama kita biar kita bukan ledar ASEAN lagi.

      3. Laut/selat Indonesia mrp jalur utama perdagangan dunia, bisa nggga lewat kita cm kejauhan muternya n bbm bisa habis banyak.

      mungkin masi ada yg lain, tapi pertanyaan gw dengan kelebihan tersebut truss armada ke-7 US iseng2 krn bosen coba serang Indonesia apa negara Raksasa yg bukan temen US rela kl jalan tolnya diembat US? lagian ngga ush begitu juga US paling udh main2 di laut kita n kita ngga tau jg, wong KS cm 2 buat jaga laut segede gaban. (please, jgn ribut lagi masalah jml KS kita, gw nurut pemerintah aja dibilang 2 ya ngikut)

      Maki2 US n paranoid ke US juga ngga berguna, dijamin bakalan ngga didenger n dipeduliin wong temen sendiri aja di intip kok. mending kita diem2 cari kesempatan buat memanfaatkan US jg, ntah itu alutsista/teknologi krn harus diakui US memang jago disitu, n seriusin juga genjot pertahanan kita, terutama masalah deteksi (udara, permukaaan n bawah laut) n komunikasi jalur komando biar ada dasar n bukti kl mo protes/maki2 US, ngga lagi peke model asumsi kaya sekarang. sekilas info aja, Japan Scrambel pespur buat intersep pesawat Russia cm beberapa menit udh terbang tu pesawat, kita pas Hornet US di bawean 5 jam kl ngga salah.. kl kondisi war tu pilot hornet udh ngebom, pulang, mandi n beol, pespur kita baru nyampe.

    •  

      Waktu muncul pemberitaan 1.4 milyar US$ dalam pembelian 8 Apache kan bunyi kalimatnya “includes” yang bermakna “termasuk”. Artinya 1.4milyar US$ meliputi Apache dll, yang belakangan analisisnya berkembang disamping 8 Apache meliputi juga 20 heli Blackhawk, 11 heli Anti Kapal Selam Super Seasprite, dll.

    •  

      Saya bisa memahami keinginan pemerintah AS mencari jenazah prajurit-prajurit mereka. Kabarnya masih ada 1,800 yang masih hilang di wilayah Indonesia sejak Perang Dunia II. Pemerintah AS tetap terus berupaya mencari keberadaan mereka, karena sangat penting bagi moril personel AS saat ini, dimana pemerintah AS berjanji tidak akan meninggalkan mereka di belakang. Tugas ini nanti akan dilakukan oleh Komando Akunting POW/MIA Gabungan di bawah Departemen Pertahanan AS. Dari Indonesia pengawasannya dilakukan oleh Kementerian Pertahanan, Pendidikan & Kebudayaan, Riset & Teknologi, dll.

      Bagaimanapun skenario udang di balik batu memang harus diwaspadai, meskipun saya sendiri kurang memahami udang jenis apakah ini. Marinir AS mau melancarkan operasi amfibi di Papua? Itu Venezuela yang bandel dan kaya minyak tidak juga diinvasi AS. Masak sih AS baru sekarang butuh data perairan Indonesia? Lah dari dulu KS nya seliweran di perairan kita ngapain saja? Barat juga sudah punya gambaran geologi Papua. Kalau AS tidak lagi kebagian emas di Papua paling juga minta PBB agar diadakan referendum lagi di Papua.

      Namun saya juga nggak mengerti kenapa baru sekarang dilakukan pencarian POW/MIA Perang Dunia II? Apakah Obama Hagel pernah kampanye untuk lebih memperhatikan keberadaan POW/MIA nya? Betul bisa jadi ada desakan dari kominitas di AS. Namun, ucapan AS dan Australia bahwa “Indonesia yang kuat akan bagus buat wilayah sekitar” memang harus dipegang terus pemerintah RI. Kalau perlu ditagih kalau AS dan AUssie tidak komit dgn statement mereka ini.

  16.  

    Saya setuju apapun yang di beli TNI, soalnya saya percaya TNI tidak akan membeli alutsista asal-asalan. Apapun yang dibeli akan menambah inventory alutsista, mau beli apache, nambah stok Mi 35 ataupun beli Havoc saya setuju-setuju saja.

    Lebih setuju lagi kalau anggaran pertahanan tembus 2% GDP, Anggaran Non Infrastruktur, Non Pendidikan, Non Kesehatan, Non Riset dan Teknologi, Non Anti Korupsi dan anggaran lain-lain yang tidak urgen yang ada di kementerian-kementerian seperti Kementerian Agama, Kementerian Olahraga, Komnas HAM dll diefesienkan, hasilnya disalurkan untuk anggaran pertahanan.

  17.  

    Kampanye dini :

    Siapapun Presidennya, wakilnya Mbah Poer..

    •  

      kalo saya sih mending beliau nya jgn jd Vice..takut ntar tugasnya jd gak maksimal ( pengalaman Vice yg udah2 ). lebih baik seperti Tugas Beliau yang sekarang aja, bukti kinerjanya sudah sama2 kita lihatkan.

      setuju dengan Saudara2 yang diatas. Apapun yg dibeli untuk keperluan TNI pasti sudah dipikirkan masak-masak, untung ruginya, & baik buruknya. TNI sebagai User pasti sudah melakukan kajian

      jika pun terjadi Embargo seperti yang kita kuatirkan, saya yakin, pemerintah & TNI sudah punya skenario untuk itu.

  18.  

    persolan setuju atau tidak setuju menurut saya adalah reaktif..pesimisme yg muncul juga tidak berlebihan bila menilik sejarah..namun optimisme juga tidak mengada-ada bila melihat posisi geo politik dan geo strategis indonesia saat ini..perbedaan ini bukan lah sebuah hal yg kontraproduktif..justru sebagai masukan produktif untuk mewarnai aura strategi pertahanan indonesia..media elektronik seperti blog jkgr ini juga juga merupakan referensi bagi pengamat dan pengambil keputusan dalam menyaring informasi atau sedikit tidak nya dijadikan sebagai sebuah perspektif…secara pribadi menurut saya bahwa pembelian heli apache ini merupakan gerak maju baik dalam tataran alutsista pertahanan maupun dalam kerangka hubungan luar negri yang sehat..kita harus mengakui bahwa politik luar negri bagi negara manapun dalam berhubungan, berdagang, berdiplomasi dll selalu di ikuti oleh kepentingan..US punya kepentingan dan kita juga punya kepentingan..kita sepakat bahwa kepentingan Indonesia tidak boleh berada di bawah kepentingan US apalagi kalau harus menjadi korban…bila melihat dari karakter hubungan luar negeri US semua juga tahu bahwa paman yg satu ini selalu memiliki kebijakan yg tidak konsisten, paranoid, dan mendikte..bila dibandingkan dengan paman ruski memang secara logis harus di akui negara ini lebih konsisten dalam berhubungan, tidak suka mencampuri urusan dalam negri negara lain, dan anti dengan hegemoni barat yang sewenang-wenang…tinggal kita sebagai negara yg non blok dan bebas aktif seharusnya bisa sangat fleksibel memainkan kartu2 cantik dan strategi2 brilian dalam berhubungan dengan mereka termasuk mengakuisisi persenjataan strategis mereka sekaligus memanfaatkan peluang transfer teknologi hulu pendukung alustista berttenologi tinggi..karna hanya dengan itulah kita bisa mandiri kelak..kita seharusnya bisa lebih hebat dari india yg bermain cantik mengawinkan teknologi timur-barat..dan harus lebih baik dari cina yg mengandalkan inteligen-nya “mencuri” teknologi..sudah seharusnya dan sewajibnya kemhan beserta TNI memasukkan unsur2 politis (baca : politik luar negri) dalam membangun blueprint pertahanan, strategi dan ancaman…dan menempatkan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan lainnya…semogaaa….

  19.  

    Pemikiran sederhana: alutsista kita meniru konsep gado-gado timur-barat dgn mutu nomer 1 dengan budget tidak terlalu besar untuk ukuran negara besar
    Helikopter : antara lain
    TNI AD : AH- 64D Longbow Block II, MI-35 hind E, MI-17, AS 550 Fennec, NBO -105, NBELL l 421 EP dll
    TNI AU AL : AS 565 Panther (aks), NBELL l 421 EP dll
    TNI AU : Super Puma NAS 332, EC725 Cougar (cenderung ke eurocopter) dll
    Khusus TNI AD mulai jenderal pramono edhi w sampe jenderal moeldoko mempunyai konsep dgn budget tidak terlalu besar tapi urusan alutsista harus kelas 1 seperti tank mbt leopard, mlrs atross II, meriam caesar, apache, fennec, mistral, startreak, NLAW, rencana javelin dll
    Dgn Konsep pandangan politik bebas dan aktif serta non-blok, jelas bagus meminimalkan klo ada embargo salah satu alutsista, tidak melumpuhkan secara keseluruhan kekuatan TNI, malah indonesia dgn wilayah yg sangat strategis byk pihak yg ingin meminang untuk menjadi kawannya bukan musuhnya.
    Pertanyaannya:
    1. Cuma gimana ya dgn interkoneksi data link antar alutsista tersebut, umpama antara mi-35 dgn apache misalnya. Apakah PT DI, BPPT, LEN, inti dll bisa membuat hardware dan software untuk koneksi data link antar alutsista tsb? Mohon pencerahan
    2. Banyaknya jenis heli, juga menambah biaya perawatan dan pemeliharaannya, sedangkan biaya anggaran kemhan dan tni khususnya perawatan, pemeliharaan dan suku cadang kenaikannya tdk terlalu besar. Gmn solusinya selain anggaran harus diperbesar?
    3. TNI sendiri sampai sekarang dgn kedatangan bermacam2 alutsista khususnya helikopter dan pesawat terbang, kekurangan pilot, itu diakui oleh penerbad, penerbal dan tni au. Sedangkan pendidikan pilot dgn crash program (untuk TNI sendiri) tetap memakan waktu dan jumlah pesawat latih pemula, latih dasar, latih lanjut dst masih kurang. Gimana solusinya? Apakah TNI mengambil calon penerbang di sekolah penerbangan swasta, kemudian dilanjut pendidikan khusus di TNI?
    Maaf panjang, alhamdullillah klo ada sharing dari teman2, terima kasih.

    •  

      Ane setuju klo geopolitik udah bergeser. Dan ane juga setuju klo Indonesia adalah magnet yg strategis bagi negara2 yg sudah mapan untuk brebut pengaruh. Dari dasar perubahan geopolitik itulah kita makin nggak tau kedepan suasana kawasan akan gimana. Dasar pemikiran tentang nilai strategis Indonesia belum menjamin kita terbebas dari kemungkinan terseret konflik jika terjadi chaos di kawasan. Dengan masih adanya konflik perbatasan dengan tetangga semakin menguatkan potensi clash di masa depan. Si Vis Pacem Para Bellum, dengan keterbatasan anggaran ane tetap respek keseriusan pemerintah mempersiapkan keadaan di masa depan meskipun ada sedikit perbedaan pendapat.

      Untuk pertanyaannya:
      1. Lha ane lagi tanya ama bang WH belum dijawab diatas. Summon untuk bang WH dan sesepuh yg ada di mari.
      2. Nggak ada solusi lain bro selain anggaran harus ditambah.
      3. Dengan susahnya merekrut penerbang baru, kemungkinan TNI bisa bekerjasama dengan swasta untuk efisiensi waktu mengingat banyak pesawat baru yg akan datang. Sebenarnya bukan di pilot doang masalahnya gan, man power buat teknisi pesawat juga butuh banyak dan butuh dilatih secara khusus juga, mengingat banyak model baru yg akan datang. Dengan kedatangan yg masih 2tahunan lagi sebenarnya cukup waktu untuk mempersiapkan klo dimulai dari sekarang.

      Ayo yang lain urun rembug juga..

  20.  

    Yg jelas, heli atau pesawat buatan amrik jelas masih dibawah punya amrik yg terbaru, tp blm tentu dgn punya singapura, punya indo keluaran th 2012 terbaru.
    Amrik jelas menjual versi ekspor pasti wl dgn sekutunya pasti masih dibawah spek punya ab amrik sendiri.
    Jd jgn bayangin apache tni digunakan melawan pasukan amrik kecuali klo terpaksa dan eralatan elektronika udah dioprek sama sekolah SMK he he he he jd anti jamming
    Versi ekspor alutsista rusia juga speknya pastinya msh dibawah spek punya ab rusia

  21.  

    Kalo saya sih, sebenarnya lebih tertarik mendiskusikan integrasi sistem yang ada di antara alutsista rusia dan USA, ketimbang membahas isu “kenapa kita tidak membeli dari timur saja, ? atau dari barat saja..? TNI pun kelihatannya sudah memikirkan hal ini. Ambil contoh TNI-AL, melalui project integrasi Yakhont missile system pada platform VS frigat class. Meski banyak pengamat yang menilai masih ada hal-hal yang belum dikuasai (kelemahan), setidaknya TNI sudah menempatkan integrasi sistem utamanya combat management pada alutsistanya. Dan hal itupun patut dimaklumi karena integrasi semacam itu tidak mudah. INILAH TANTANGAN TNI & KEMENHAN SEBENARNYA. Sangat mungkin ke depan untuk memandu rudal OTHT macam Yakhont, kelak menggunakan heli Panther dari Eropa.

  22.  

    AH-64E APACHE INDONESIA tidak akan lebih bagus dari milik singapura / australia karena mereka sekutu usa

  23.  

    Sepertinya urusan data link peralatan timur-barat memang bukan perkara mudah namun itu lah tantangannya..kita perlu belajar dari turki dan india..teknisnya mungkin dari suhu2 lebih tahu..tp selain PT.DI, LEN, BPPT perlu juga menggandeng perusahaan swasta seperti PT.Infoglobal surabaya yg berhasil membangun avionik pesawat tempur barat..
    Anggaran perawatan memang menjadi persoalan tersendiri kedepannya namun tentunya sudah ada perhitungan dan ancang2nya mungkin diantara opsinya menaikkan angka anggarannya, mengurangi jumlah prajurit secara bertahap dimana indonesia memagang doktrin baru yaitu jumlah pasukan yg efisien dan efektif namun di dukung peralatan canggih dan komponen cadangan..opsi lainnya sangat mungkin PT.DI memainkan perannya untuk mendapatkan lisensi perawatan pada skala tertentu..
    Pilot tempur memang jadi pekerjaan rumah TNI tapi mudah2an ada solusinya baik jangka pendek maupun panjang..domainnya ada di tangan perencana militer..tp sepertinya untuk jangka panjang perlu program2 seperti program “pilot go to school” untuk seminar2..supaya kehidupan pilot lebih rasional di mata generasi bangsa..hehehe..just saran CMIWW…

  24.  

    Menurut gw, cukup kita beli apache karena bisa neningkatkan kapasitas kenanpuan tni dengan helly canggih, karena keedepan pt.di dan euro akan buat helly serb. Kemudian pt.di dpt mwngetahui apasih peralatan yg musti terpasang. Ane jg sk produk rusia cm sayanhnya tu produk mahal perawatan dan agak pelit dalam TOt.. cd smoga tni cepat nwnguasai kenampuan perangnya dan pt.di cepat mwnyerap teknologinya..

  25.  

    sebaiknya itukan sekedar pelengkap[ saja namun yang terbaik adalah bisakah kita alih teknologi, kalau tidak diperbanyak kearah rusia karena kalau dengan rusia alih teknologinya seratus persen tidak ada embel embel. lalu kita mandiri. yakan sekali lagi hanya pelengkap saja untuk menambah pengetahuan dari blok sekutu saja. bukankh kita bebas dan aktip kalu sudah bisa buat sendiri, rusia pasti akan membantu kerna rusia adalah saudara tua kita. sudah terbukti ngusir sekutu dari lautan papu dahulu.

 Leave a Reply