Amerika Setujui Penjualan Torpedo Baru ke Taiwan Sebagai Pesan Untuk Beijing?

Bulan lalu Taiwan menyetujui perpanjangan layanan untuk dua kapal selam Dragon-Class. Peningkatan akan memungkinkan kapal selam yang diluncurkan pada akhir 1980-an, untuk beroperasi setidaknya selama 15 tahun kedepan. Selain itu, pemerintah berencana membangun 8 kapal selam baru.

Taiwan juga perlu menjaga persenjataan armada kapal selam. Setelah mengulur-ulur waktu selama bertahun-tahun, Amerika Serikat akhirnya sepakat untuk menyetujui penjualan torpedo kelas berat MK-48 untuk negara pulau tersebut.

Berita ini muncul dari seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya dalam Departemen Pertahanan Nasional Taiwan. Bahwa negara belum resmi mengkonfirmasi kesepakatan itu, dan masih belum diketahui berapa banyak torpedo akan dibeli. Proyektil dikembangkan oleh Raytheon, perusahaan pertahanan yang berbasis di AS , yang menggambarkan bahwa MK-48 “efektif” terhadap semua target, baik di lingkungan pesisir maupun laut dalam.

“Torpedo ini mampu beroperasi secara otonom ataupun kontrol melalui kawat penghubung”, menurut situs perusahaan.

“Bimbingan dan kontrol berbasis Software memungkinkan operasi otonom, taktik tembak dan lupakan, secara simultan menyerang beberapa sasaran yang mendekat. Torpedo MK-48 dilengkapi teknologi senyap… secara signifikan mengurangi kebisingan serta mengaktifkan rahasia penyebaran dan meminimalkan deteksi”.

Kesepakatan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan, di mana Beijing telah membangun serangkaian pulau buatan. Amerika Serikat telah menuduh China berupaya untuk mendirikan zona pertahanan udara, sementara Beijing beralasan memiliki hak untuk membangun di dalam wilayahnya sendiri dan bahwa pulau-pulau akan digunakan terutama untuk tujuan sipil.

Sebagai tanggapan, Pentagon telah melakukan sejumlah patroli provokatif melintasi wilayah yang diperebutkan, dan mendorong sekutu Pasifik untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam mencegah pengaruh China tumbuh di wilayah tersebut.

Sumber: Sputnik News

Tinggalkan komentar