Jan 162019
 

JakartaGreater.com – Ketika Korea Selatan menjadi negara terbaru yang membeli dan juga mengerahkan jet tempur siluman F-35 AS, pengamat militer Tiongkok menegaskan bahwa jet tempur J-20 Tiongkok yang ditingkatkan akan mendapatkan keunggulan luar biasa atas F-35 di masa depan dan bahwa Tiongkok dapat menangkis semua potensi ancaman dari apa yang dijuluki media sebagai “US F-35 friends circle” alias “lingkaran kroni F-35 AS” di Asia-Pasifik, seperti ditulis Global Times pada hari Selasa.

JakartaGreater.com pada hari selasa melaporkan bahwa 2 F-35A akan ditugaskan ke unit tempur Korea Selatan mulai bulan April atau Mei. Pengiriman tersebut merupakan bagian dari pengadaan 40 unit F-35A Korea Selatan pada tahun 2014 dengan harga per unit lebih dari $ 100 juta.

Korea Selatan bukan satu-satunya sekutu AS yang telah membeli pesawat siluman. Jepang mengoperasikan 10 unit F-35A, dengan 32 akan dikirimkan dari pesanan sebelumnya, tulis CNN pada bulan November 2018.

Jepang juga bersiap untuk memesan 100 jet tempur F-35 tambahan. Pesawat-pesawat ini termasuk F-35B yang mampu lepas landas di lintasan pendek dan mendarat vertikal, yang akan dikerahkan pada kapal perusak helikopter kelas Izumo yang akan dirombak, yang pada dasarnya membuat mereka menjadi kapal induk, menurut laporan Nikkei pada November 2018.

Sepasang jet tempur F-35A Australia tiba di Pangkalan Udara Williamtown © Kemhan Australia via Twitter

Australia juga telah menerima dua unit F-35A pada bulan Desember 2018, situs berita lokal news.com.au melaporkan. Negara itu pada akhirnya akan menerima 100 jet, kata situs web Angkatan Udara Australia.

Di bawah program Joint Strike Fighter (JSF) Amerika Serikat, F-35 memiliki tiga varian:

  • F-35A untuk Angkatan Udara
  • F-35B untuk Korps Marinir
  • F-35C untuk Angkatan Laut.

Dengan menjual jet-jet tempur siluman ke sekutu-sekutunya di wilayah Pasifik Barat, AS membangun “lingkaran kroni F-35”, kata Wei Dongxu, seorang analis militer yang berbasis di Beijing kepada Global Times, pada hari Selasa.

AS, Jepang dan Korea Selatan dapat melakukan lebih banyak latihan bersama di dekat China menggunakan F-35, sehingga memudahkan koordinasi, kata Wei. Kemampuan siluman dari F-35 membuatnya “lebih sulit” dideteksi dan akan berdampak pada kebutuhan pertahanan nasional China, katanya lebih lanjut.

Dilengkapi dengan sistem senjata canggih dan kemampuan jelajah siluman dan supersonik, F-35 dianggap sebagai salah satu jet tempur paling canggih di dunia. Tetapi China bukanlah bebek yang cuma bisa duduk dalam bentrokan potensial dengan jet tempur AS.

Jet tempur siluman J-20 buatan China © Military Watch

Jet tempur generasi kelima Chengdu J-20 China, yang telah beroperasi di bawah Angkatan Udara PLA sejak awal 2018, diberkahi dengan teknologi penerbangan dan elektronika yang canggih dan mumpuni. Jangkauan dan muatan senjatanya secara luas dianggap lebih baik daripada F-35, memungkinkannya untuk mencapai misi utama yaitu untuk mendapatkan keunggulan atau superioritas udara di medan perang abad ke-21.

“Selain itu, J-20 memiliki ruang untuk perbaikan. Versi upgrade dari J-20 akan memiliki keunggulan luar biasa dibandingkan F-35 AS di masa depan”, kata Wei.

Radar pasif dan radar gelombang meter China juga dapat mendeteksi pesawat siluman, dan dapat memandu rudal anti-pesawat terbang seperti HQ-9 dan HQ-16 untuk menghancurkan F-35 AS, menurut catatan Wei.

Sementara itu, F-35 AS memiliki banyak masalah

Kemampuan siluman F-35, salah satu fitur terpenting yang membedakannya dari generasi jet tempur sebelumnya, membutuhkan biaya perawatan yang sangat tinggi, karena lapisan penyerap gelombang radar akan berkurang dan perlu diganti setelah pesawat ini melakukan penerbangan, menurut laporan dari News.com.au.

Pada bulan September 2018, sebuah jet tempur siluman F-35B di bawah Korps Marinir AS jatuh karena permasalahan jalur bahan bakar. Jet tempur F-35 ini di masa lalu melakukan pendaratan darurat, mengalami insiden dalam penerbangan, termasuk kekurangan oksigen di antara para kru dan juga menderita dari kebakaran mesin dan kegagalan lainnya di darat, tulis Washington Post dalam laporannya.

Hingga kini, militer China belum mengumumkan laporan adanya kegagalan fungsi pada jet tempur generasi kelima Chengdu J-20.