Sep 222019
 

File: Nuclear artillery test Grable Event – From Wikimedia Commons, the free media repository.

Moskow, Jakartagreater.com  –  Moskow telah berulang kali memperingatkan AS agar tidak menempatkan Rudal jarak pendek dan menengah di dekat perbatasan Rusia, setelah Washington menarik diri dari Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF).

Peneliti Amerika dari Universitas Princeton telah mempresentasikan pemodelan skenario paling drastis dari konflik antara pasukan NATO dan Rusia dengan penggunaan senjata nuklir, dirilis Sputniknews.com, Rabu 18-9-2019.

Dalam sebuah video yang menyertai penelitian, yang disebut Rencana A, para analis menunjukkan langkah demi langkah bagaimana kedua pihak akan sampai pada penghancuran timbal balik yang hampir seutuhnya atau total.

Menurut pendapat para peneliti Princeton, perang konvensional akan berubah jadi nuklir setelah ada pihak yang menggunakan serangan nuklir taktis untuk menghentikan kemajuan pasukan konvensional.

Langkah selanjutnya akan menjadi pertukaran nuklir besar-besaran, dengan aksi dari pasukan penerbangan Rusia yang praktis memusnahkan Eropa dan pangkalan NATO di dekatnya, yang pada gilirannya akan mendapatkan serangan balasan terhadap situs peluncuran Rusia.

Setelah ini, menurut analis, Rusia dan AS kemungkinan akan menggunakan sebagian besar persenjataan yang tersisa untuk menghancurkan objek militer utama masing-masing dan akan menggunakan nuklir yang tersisa untuk menargetkan kota-kota dan pusat-pusat ekonomi yang paling padat untuk mencegah pemulihan yang cepat. Perang nuklir model itu diperkirakan akan membuat semua pihak yang terlibat hancur.

Menurut perkiraan para peneliti, pertukaran keseluruhan akan memakan waktu kurang dari 5 jam dan meninggalkan 34 juta orang tewas dan 57,4 juta terluka, sekerika. Selanjutnya konflik nuklir ini diperkirakan akan mengakibatkan sekitar 18 juta korban setiap jam.

Para analis menambahkan bahwa jumlahnya akan meningkat setelah adanya serangan terakhir karena kejatuhan nuklir dan “efek jangka panjang lainnya”.

Para ilmuwan mengambarkan simulasi ini didasarkan pada postur kekuatan nuklir nyata dari negara-negara yang terlibat dan dibuat untuk “menyoroti konsekuensi potensi bencana dari teater kekuatan nuklir yang dibuat AS dan Rusia saat ini.

Bagikan: