Agu 032014
 

2011-08-09-17.09.04

Saat ini ada 5 isu strategis nasional, yaitu Ancaman Konvensional dan Non-Konvensional, Kondisi Geografis Indonesia, Gangguan Kemanan masih cukup besar, Permasalahan Perbatasan dan Kemandirian Masih Terbatas. Berhubungan dengan judul artikel maka kita akan membahas tentang “KEMANDIRIAN MASIH TERBATAS.

Untuk mengejar kemandirian dan penguasaan teknologi, pemerintah membuat 7 program kemandirian industri pertahanan, yaitu Pembangunan Industri Propelan Nasional, Pengembangan Kapal Selam, Pengembangan Pesawat Tempur (IFX), Pengembangan Roket dan Rudal Nasional, Pengembangan Kapal PKR atau Frigate Nasional, Pengembangan Radar Nasional, dan Pengembangan Tank Nasional (medium).Kemarin sudah dibahas masalah Pembangunan Industri Propelam Nasional, rencana jangka menengah pembangunan kapal PKR atau Frigate Nasional, dan Pengembangan Kapal Selam.

 Pengembangan Roket dan Rudal Nasional

Program pengembangan roket nasional di Indonesia akan memberikan kesempatan kepada industri dalam negeri terkait membangun kemampuan dan menguasai teknologi peroketan untuk kemandirian pertahanan. Untuk itu, dilakukan pemanfaatan sarana dan prasarana yang ada sebagai modal awal untuk mulai mengembangkan kemampuan dalam litbang dan produksi roket serta rudal untuk persenjataan TNI.

Secara bertahap dikembangkan roket dan rudal nasional dengan memperhatikan kebutuhan operasi yang sesuai dengan kondisi negara Indonesia dan mengintegrasikan kemampuan nasional untuk mengembangkan teknologi pertahanan yang berbasis teknologi kedirgantaraan. Awal pengembangan dimulai dengan roket diameter 122 mm dengan jarak jangkau 20 km.

Sejak saat itu sudah 3 tipe motor roket yang dihasilkan yaitu RX1210 propelan komposit 1m bintang 8, RX1213 propelan komposit 1,3 m bintang 7, RX1220 dengan propelan komposit ganda. Selain itu motor roket RX1210/1213 dua tingkat dengan jangkauan 21 km. Kemudian pengembangan motor roket RX2020 dengan diameter 200 mm dan propelan 2 m dengan jangkauan 40 km.

Mulai dari tahun 2010 fokus pengembangan ditujukan kepada D230 RX1210 dengan jangkauan maksimum 15 km, D230 RX1220 dengan perkiraan jangkauan maksimum 21 km dan RX2020. Leading sektor teknologi peroketan adalah LAPAN, teknologi hulu ledak adalah PT. PINDAD, dan integrasi serta industralisasi adalah PT. DI.

Program RKX telah menberikan beberapa hasil, seperti, pengembangan sensor IMU (Inertial Measurement Unit), sistem autopilot, model terowongan angin, sistem aktuasi, yang dalam hal ini menggunakan high torque servo motor, sistem separasi sederhana, sistem telemetri sampai jarak jangkau 60 Km, struktur tahan panas (blast tube), alat penguji subsistem kendali (HWIL), dan sistem sensor pencari sasaran (infra-red/optical) tahap awal. Hasil-hasil tersebut belum maksimal, diantaranya IMU yang dihasilkan masih mempunyai bias error yang terlalu besar untuk bisa melakukan close-loop dengan sistem kendali sikap, sehingga masih diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk mendukung program roket kendali.

TAHUN 2010

Pada tahun 2010 telah diluncurkan Roket D-230 kaliber 122 mm RX-1210 dan RX-1213 dengan jarak jangkau 12-15 km di-freeze menjadi R-Han 122. Roketroket ini mendapat sertifikat uji coba dari Dislitbangal serta Rancang bangun sistem peluncur 8 laras menggunakan mobil Land Rover. Konsorsium pengembangan roket ini melibatkan Instansi Pemerintah (Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Pertahanan, Dislitbang TNI AL), Lembaga Riset (ITB, LAPAN, BMKG) dan Industri (PT DI, PT Pindad, PT KS).

Tahun 2011

Telah dilakukan rancang bangun dan uji luncur perdana Roket D-230 kaliber 122 mm, RX- 1220 dengan jarak jangkau 25 km, Roket Kendali RKX- 2020, dan Rancang bangun sistem peluncur Truk Gaz 16 Laras dan Truk Perkasa 8 Laras.

Tahun 2012

Konsorsium telah berhasil mengembangkan roket D-230 RX-1220 dengan diameter 122 mm, berbahan bakar propelan seberat 23 kg, kecepatan terbang 2,7 Mach, dan jarak jangkau sekitar 24 km. Selain itu, dikembangkan juga roket D-230 RX-2020 dengan diameter 200 mm, berbahan bakar propelan seberat 53,4 kg, dan jarak jangkau sekitar 36 km.

Untuk pengembangan sistem elektronika dan kontrol telah dilakukan pengembangan Bus Terminal Server RBU, Simulator Source Station, Software Interfacing, Software Firing Control RBU, Software Tactical Management ASW. Terhadap Roket RX-1220 dan RX-2020 bermuatan GPS dan Radar telah dilakukan uji coba sebanyak 4 kali di Pameungpeuk, Garut.

Tahun 2013

Telah dikembangkan roket balistik RX-2020 bermuatan radar dan GPS, prototipe Remote- Controlled Weapon System, Ballistic Computer, Roket Electric-Ducted Fan, Sistem Elektronika (Combat Management System). Uji coba telah dilakukan beberapa kali diantaranya, roket RX-2020 telah diterbangkan di Pamengpeuk tanggal 27 Agustus dan di Morotai 18 Desember 2013, sedangkan uji statis Roket 3 Digit RX 450 dilakukan di Pameungpeuk.

(Jalo dan Kemenristek)

jakartagreater.com

  192 Responses to “Anda Percaya, Kami Pasti Bisa ! (jilid V)”

  1.  

    Maaf OOT , tentang Nahkoda ragam class saya coba cari tentenganya cuman sea wolf , bukan mica , tapi info dari Bung Yayan itu mica ( maaf Bung Yayajn bukanya meragukan tapi mungkin bisa di jabar lebih detail ) , klo lihat tinggi launchernya kayak e klo di tentengin mica Nahkoda ragam kurang tinngi ya ? , para Sesepuh tolong di bahas nich , galau banget soale.

    •  

      coba bantu bung Yayan saja : artikel dari negeri jiran

      So Near But Yet So Far

      Marhalim Abas July 25, 2014 Malaysian Defence

      SHAH ALAM: IHS Janes is reporting that Indonesia has commissioned the firs two of three Bung Tomo-class frigates on July 18.

      Bung Tomo is of course the TNI-AL designation of the Nakhoda Ragam class corvettes originally ordered by the Brunei Navy.

      The IHS Janes report:

      “Indonesia’s Defence Minister Purnomo Yusgiantoro presided over a commissioning ceremony for the Indonesian Navy’s (Tentera Nasional Indonesia – Angkatan Laut: TNI-AL) first two of three Bung Tomo-class corvettes at Barrow-in-Furness, UK, on 18 July.

      The 95 m F 2000 vessels, KRI Bung Tomo and KRI John Lie , were originally built by BAE Systems for the Royal Brunei Navy (RBN) under a contract signed in January 1998. However, after a protracted legal dispute, the ships were laid up and offered for sale by the Bruneian government through an affiliate company of Lürssen. The vessels were subsequently acquired by Indonesia in January 2013.

      The Bung Tomo-class vessels are armed with one Oto Melara 76/62 Super Rapid gun, two MSI-Defence 30 mm guns, and two 324 mm triple-tube torpedo launchers. As built, the ships were also provisioned for eight MBDA MM 40 Block 2 Exocet anti-ship missiles and 16 MBDA VL Seawolf point defence missiles; however, neither weapons system was installed. It is understood that, in TNI-AL service, they will receive eight MM 40 Block 3 Exocet missiles, and 16 MBDA VL Mica point defence missiles.

      The vessels’ sensor suite includes a Thales 4130C1 hull-mounted sonar, a Kelvin Hughes 1007 I-band surface search radar, and a BAE Systems AWS 9 E/F-band air/surface search radar.

      The corvettes can achieve a top speed of 30 kt and are designed for a range of 5,000 n miles at 12 kt.”

      It appears that the corvettes will be armed similarly to our own SGPV/LCS which of course have yet to be built. RMN as I had previously posted had wanted to buy these corvettes to add to its fleet but the effort was rebuffed due to the lack of funds.

      Someone told me RMN was so close to getting these ships that he could smell the bridge already.

      But alas it was not to be.

      — Malaysian Defence

      http://www.malaysiandefence.com/?p=4659

  2.  

    lha klo bung@RI sendiri siapa..???.ko tahu semua ..tlng penjelasannya…!!!!

  3.  

    ya mudah2 an sukses pengembangannya…biar gk kejadian menimpa rumah singgah warga lg…amin…klo jatuh ke tukang loak mendingan bisa jadi duwit..hehehe.thanks infonya bung jalo

  4.  

    Assalamualaikum wr.wb
    la saya siapa bung?

  5.  

    @RI, maap ya Jajaka Tingkir ga pernah sekalipun pake nick laen.! Jajaka Tingkir juga bukan Joko Tingkir coz saya Jawa-Sunda, jadi nya Jajaka bukan Joko.!

  6.  

    @jalo ..
    “TAQOBBALALLAHUMINNA WA MINKUM”, minal aidzin
    wal faidzin, mohon maaf lahir & bathin

  7.  

    si okelah bukannya cewe tulen ? jangan2 nih mbah bowo

  8.  

    bung jalo. adakah roket produksi lokal yg udah di pakai ama tni?

  9.  

    Bung jaloooooo…maaf o nya kepanjangan..saking penasaran..kalau ga salah tim lfx kan buat tim bayangan ifx,kasarnya plan b kalau ifx ga lancar.ko dilebur ? Ni ifx ma proyek r han yg selalu bikin harap2 cemas…

  10.  

    Sedih rasanya kalau mengingat sejarah, bangsa Indonesia sebenarnya pernah menjadi negara yang kedua di asia setelah jepang yang sukses mengembangkan tehknologi peroketan dengan bantuan Uni Sovyet (sebelum mengecil jadi Rusia sekarang). Awal tahun 60 an dengan bantuan Uni Sovyet, hingga pada tanggal 14 agustus 1964, Indonesia akhirnya berhasil meluncurkan roket buatannya sendiri yang bernama Kartika 1 dengan berat 220 Kg dari stasiun peluncuran roket Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Entah mengapa setelah pergantian rezim orla ke orba, usaha pengembangan roket menjadi mandeg cenderung mundur, apakah karena kebijakan politik saat itu yang memang tidak memerlukan tehknologi ini? Karena merasa tidak punya musuh potensial? Saat itu bangsa Indonesia cukup menjadi penonton dari kemajuan beberapa negara-negara asia dalam bidang peroketan, sebutlah Pakistan, India, Iran sekarang RRC. Namun untuk saat ini, cukup baguslah, kesadaran pembuat kebijakan untuk sadar akan pentingnya tehknologi peroketan. Lebih baik terlambat daripada tidak samasekali … Bravo LAPAN.

  11.  

    Maaf nee OOT

    Chinese Radar May Pierce F-35 Stealth
    Armor: Report

    http://defensetech.org/2014/07/31/chinese-radar-may-pierce-f-35-stealth-armor-report/#ixzz39R1VF5lK
    Defense.org

    Thank,.. Bung Jalo, Semoga Sukses Selalu

  12.  

    mohon maaf lahir batin juga bung…

  13.  

    salam kenal bung jalo

  14.  

    bang jalo..
    ane cuman bisa ngedukung moril doang, bahwasannya masarakat kita sangat suprot n ngarepin terwujudnya roket nasional yg dibikin putra putri indonesia..

    maap lair batin bang jalo..

  15.  

    Minal aidin walfaidzin bung jalo,semoga anda dan keluarga dalam lindungan allah swt,nice artikel bung,semoga NKRI tambah jaya dan tambah maju,Lanjutkan…!!!

  16.  

    pertengahan agustus ini di Jogja diadain KOMURINDO (kontes muatan roket indonesia) yang diikuti PT se Indonesia, ada hubungan dengan R-han bung jalo?

  17.  

    Salam knal. . .mas jalo. . .ngemng2 gm kbr kpl perang yg dpsan dr Ukraina tuh ?thanks

  18.  

    Artikel yg jauh lbh “realistis” dan “meneduhkan”.
    Nais artikele…

    Minal a’idin wal faaizin… Mhn maaf lahir bathin Bung @jalo dan slrh admin JKGR.

  19.  

    Sok tahu lu RI coba tebak saya siapa? Dimana? Berapa? Mengapa? Loh kokk bisa?

  20.  

    mohon perhatikan pengadaan raw material alutsista. harus transparan dan tidak di markup gila2an

    saya dapat info dari warung kopi pengadaan di salah satu BUMN strategis nilai jualnya di markup untuk bagi2 dan mereka(supplier+buyere) sesumbar tidak ada insitusi hukum berani untuk menyelidiki hal ini ;:)

    capek ah

  21.  

    maaf om Jolo@ bukan ga mau nimbrung, habis bahas politik mulu terusnya saling cerca.. jadi males deh. hehee..
    minal aidin semuanya.. 🙂

  22.  

    bahas progress pensil ya., lama nian kaga nimbrung di warung ini,. jika progressnya demikian,. bisa dipastikan spidolnya alias yang lebih dari dua digit itu dah digendong atau bercokol di sebagian tempat strategis,. tinggal kita liat dan tunggu untold story atau yang ke sensor tentang produksi yang udah battle proven,. biar tidur tambah pules,.