Jun 122017
 

Angkatan Udara AS butuh tambahan dana sebesar 1,7 triliun rupiah. Ā© Lockheed Martin

Angkatan Udara AS (US Air Force) meminta tambahan tambahan dana sebesar US $ 127 juta (sekitar Rp.1,7 tiliun) untuk pembangunan fasilitas pesawat terbang yang lebih baik di Utah dan Nevada, dalam permintaan anggaran di tahun fiskal 2018, seperti dilansir dari IHS Jane.

Menurut Kepala Staf Angkatan Udara AS, Jenderal David Goldfein dan Sekretaris Angkatan Udara AS Heather Wilson dalam sebuah kesaksian di depan kongres AS, bahwa perbaikan di Utah Test and Training Range (UTTR) dan Red Flag akan memungkinkan Angkatan Udara AS untuk menggunakan berbagai kemampuan yang tersedia pada F-35A.

Tahun Anggaran (TA) 2018 meminta dana sebesar US $ 28 juta untuk pembangunan militer (MILCON) untuk membangun Consolidated Mission Control Center (CMCC) di UTTR. Juru bicara USAF Erika Yepsen mengatakan pada tanggal 6 Juni bahwa CMCC akan menyediakan fasilitas misi yang aman dengan komando dan kontrol terpisah, bagi empat evaluasi terpisah, atau melaksanakan pelatihan berbeda secara bersamaan.

Yepsen mengatakan bahwa fasilitas baru tersebut dijadwalkan selesai pada TA 2021, yang memungkinkan jet tempur F-35 Lightning II, F-22 Raptor, serta sejumlah program senjata jarak jauh lainnya dapat melakukan pengujian secara simultan dan pelatihan di sana tanpa mengorbankan keamanan ataupun keamanan acara yang sedang dilaksanakan.

Untuk membangun fasilitas CMCC baru di UTTR perlu menghancurkan tiga fasilitas yang ada. Jika alokasi dana untuk pembangunan CMCC tersedia, USAF berharap kontrak dapat diberikan pada bulan Agustus dan konstruksi akan dimulai pada bulan September.

USAF meminta anggaran sebesar US $ 61 juta untuk 2 fasilitas baru di Pangkalan Angkatan Udara Nellis: yaitu fasilitas generasi kelima Red Flag dan fasilitas Virtual Warfare Center Operations (VWCO).

jakartagreater.com

  12 Responses to “Angkatan Udara AS Butuh 1,7 Triliun Lagi Untuk Menyediakan Fasilitas F-35”

  1.  

    ayo tambah lagi cetak lagi tambah lagi mumpung dolar nya masih laku šŸ˜€

  2.  

    operasional pesawat baru memang membutuhkan investasi tambahan yg besar untuk membangun fasilitas..
    bahkan biayanya lebih besar dari pesawat.. terutama fasilitas yg menjamin konsolidasi antar pesawat dan pesawat ke control center. belum lagi pusat pelatihan baru dengan alat baru dan pelatih yg perlu pendidikan yg tidak sebentar.

    itulah salah satu alasan saya berpendapat menggunakan pespur workhorse F16 tetapi terbaru yaitu viper.. (bukan sales)

    •  

      Sulit sepertinya bung, di utaranya indonesia singapura sudah tinggal tunggu F-35.
      Di selatannya Indonesia ada Australia yg getarnya sama sprti Singapura..
      Efek getar Viper pastinya sudah pasti dibawah negara tsb dn mudah ditebak oleh 2 negara tsb, beda halnya SU-35 yg kalau jd dibeli bakal menjadi Heavy Fighternya Indonesia dan pastinya kita dan mereka sama2 buta kemampuan masing2 pilot maupun kemampuan pespur.
      Kalau untuk patroli dn workhorse lbh baik pakai yg sudah ada yaitu F-16 blok-52 sdh ckp, karna jelas kalau Sukhoi yg dipakai bakal boros dana operasional bisa2 terulang lg tunggakan TNI ke Pertamina, jujur saja saya orgnya pelit hahahahahhahaa
      Just Imho bung Bhisma šŸ˜€

      •  

        masih kurang workhorse bung,,
        sangat kekurangan…

        handal patroli, operasional murah yg berarti bermesin tunggal.. dan intercept dan siap tempur dengan kemampuan cukup,, yg masuk kategori ini ya F16 dan gripen..

        untuk strike saya sudah menjatuhkan pilihan pada 32 SU35 BM..
        dengan penempatan 8 masing2 di natuna, pontianak, eltari dan saumlaki..

  3.  

    Yg nampak jls skrg mah negara besar produsen alutsista unggulan pd rame2 ngobok2 situasi kawasan di belahan bumi jd panas. Dgn sendirinya negara2 yg bersangkutan pd berlomba beli senjata buatan mereka…. :bola :bola :bola

  4.  

    Klu negara banyak duit permintaan segitu mah gampang!