Mar 292017
 

 

Pesawat serang ringan Hawk 208 Angkatan Udara Malaysia (TUDM)

BAE Systems akan bermitra dengan perusahaan MRO Malaysia yaitu Airod untuk melakukan upgrade pesawat serang ringan berkursi tunggal Hawk 208 Angkatan Udara Malaysia (TUDM) dan menjamin ketersediaan operasional yang berkelanjutan, sebagaimana dilansir dari AIN Publications.

Upgrade tersebut akan mencakup penerima peringatan radar baru, penanggulangan elektronik (EW) dan perekam video digital, software baru untuk perencanaan misi juga akan diberikan serta kemungkinan penggantian radar lama dengan radar baru.

Pembaruan kemitraan dan nota kesepahaman (MoU) ditandatangani pada tanggal 22 Maret lalu di pameran Langkawi International Maritime & Aerospace (LIMA). Sebelumnya kedua perusahaan juga telah menandatangani MoU tahun lalu, namun dalam MoU itu tidak menyatakan yang bila varian Hawk milik TUDM akan diupgrade. TUDM saat ini memiliki 6 unit  Hawk 108 berkursi ganda dan 12 unit Hawk 208 berkursi tunggal.

BAE Systems akan merancang, memproduksi dan memberikan sertifikasi upgrade, sementara itu Airod akan bertanggung jawab untuk melaksanakan integrasi sistem ke pesawat serang ringan tersebut. Pekerjaan akan dilakukan sepenuhnya di Malaysia dan akan berlangsung selama tiga tahun.

Mike Swales, direktur program Hawk untuk BAE Systems, mengatakan bahwa kontrak akan ditandatangani dalam waktu dua bulan ke depan, dan program akan mulai akhir tahun ini. Upgrade ini menyertakan sistem peringatan radar Seer RWR buatan Leonardo, sistem penanggulangan elektronik Vicon 78 XF buatan Thales dan perekan video digital DVR buatan Zodiac.

Roslan Bin Ali, manajer pemasaran ‘fixed wing’ untuk Airod, mengatakan bahwa mesin Adour 871 buatan Rolls-Royce masih sangat diandalkan, akan tetapi radar APG-66H buatan Northrop Grumman sudah mengalami degradasi setelah lebih dari 20 tahun dalam pelayanan. Kemungkinan untuk upgrade radar semua tergantung pada kebutuhan TUDM, ia menambahkan.

Tahun lalu, TUDM telah mengerahkan sepenuhnya Squadron 6 dari pangkalan udara Kuantan di semenanjung Malaysia menuju pangkalan udara Labuan di Malaysia Timur untuk memperkuat keamanan di Zona Keamanan Timur Sabah, terutama setelah serangan Lahad Datu pada tahun 2013. Armada Hawk 208 dan Boeing F/A-18D TUDM digunakan dalam serangan udara terhadap para pemberontak Filipina.

Malaysia Tak Mau Upgrade Seperti MiG-29SM Rusia Karena Minimnya Anggaran

Pada pameran LIMA2015, RAC MiG dan perusahaan Malaysia ATSC mengusulkan ke Kementerian Pertahanan Malaysia untuk upgrade MiG-29N menjadi standar MiG-29SM. Ini akan menjadi mirip dengan MiG-29UPG Angkatan Udara India, yang melibatkan penggantian radar N-019E dengan Zhuk-ME (model FGM-229) yang lebih canggih. Upgrade juga akan memungkinkan MiG untuk membawa rudal dan amunisi cerdas sama dengan Su-30MKM.

Tapi Malaysia menolak modernisasi yang mahal, sehingga memaksa RAC MiG untuk menyodorkan pilihan alternatif yang lebih murah seperti upgrade pada MiG-29 milik Angkatan Udara Myanmar.

Komandan Angkatan Udara Malaysia Jenderal Affendi bin Buang mengatakan, meskipun MiG-29N masih operasional, namun sistem sensor dan persenjataannya ketinggalan jaman, memaksa TUDM untuk mempertimbangkan pilihan untuk tetap mengoperasikan MiG-29 di masa depan. Sebenarnya basic MiG-29N masih kokoh dan kuat, tetapi ada sistem tertentu pada MiG-29 yang harus segera diganti atau di-upgrade untuk meningkatkan kemampuannya.

  23 Responses to “Angkatan Udara Malaysia Akan Upgrade Armada Hawk”

  1.  

    Sama dng kita donk.!

  2.  

    Mank mampu

  3.  

    apakah bakal di upgrade setara advanced hawk? 😆 hihihi

    inilah yang terbaik daripada beli pesawat baru 😛

  4.  

    Upgrade lagiiii?

  5.  

    up…up…up….

  6.  

    Bedanya apa ya pesawat Hawk malaysia dengan pesawat Hawk punya Indonesia?ada yang berkenan mau kasih tahu?mksh sebelumnya.

  7.  

    Kalau untuk Indonesia, sudah saatnya Hawk 109/209 dihibahkan ke TNI AL untuk penegakkan
    kedaulatan di maritim dan diganti dengan Gripen untuk Kohanudnas.

    •  

      Komnas HAM Swedia gampang ribut soal alutsista yang mau diekspor/dipake negara lain dan berusaha menyetir kebijakan negaranya. Kalo ada konflik negara kita pake persenjataan impor dari mereka dan tindakan pemerintah kita gak sejalan dengan pandangan mereka ada kemungkinan embargo. Langkah cerdas kita adalah menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka untuk kemudian bikin sistem/persenjataan modifikasi/pengembangan sendiri tanpa perlu membeli alutsista murni impor dari mereka untuk keperluan “pertumpahan darah” (kecuali radar, asal bukan ‘peluru’) agar Komnas HAM mereka tidak bawel nantinya

  8.  

    Serumpun sama sama cekak duit anggaran militernya..Tp Indonesia sedikit lebih baik dari malayya

  9.  

    Saatnya rebut kembali sipadan dan ligitan dari tangan malaysia…sekarang!!!!

    •  

      Satu-satunya kesempatan Indonesia mempersatukan Nusantara seutuhnya adalah saat Perang Dunia ketika negara-negara tukang ngerecoki urusan tetangga sedang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Begitu sadar mereka sudah lemah akibat tawuran, sementara kita sudah mempersatukan Nusantara sepenuhnya. TINGGAL MASALAH KESEMPATAN DAN NYALI

  10.  

    Nah yg pantas utk Malaysia ya di upgrade2 aja, ga usah mimpi pengen beli jet tempur yg baru2….drpd spt pungguk merindukan bulan, mending di upgrade aja semua peralatan tempur yg sdhmpd uzur2 itu….xixiii