Analisis: “Angkatan Udara Malaysia (TUDM) Menderita Karena Kekurangan Anggaran”

92
32

Royal Malaysian Air Force (RMAF) menghadapi masa depan yang tidak pasti pada rencana pengembangan kemampuannya, mengingat keterbatasan anggaran yang diberikan pemerintah, akibat pertumbuhan ekonomi yang lambat dan jatuhnya penerimaan dari hasil minyak.

Tiga F3-Tornado RAF, dua F-18 RMAF bersama tanker DC-10 dalam latihan Bersama Padu 2006. (© 25 Squadron)

Sulit untuk memprediksi masa depan pengadaan utama bagi RMAF, sebagaimana pemerintah Malaysia tetap mempertahankan fleksibilitas terbuka untuk mengisi kebutuhan. Alokasi anggaran tahunan untuk pengadaan pertahanan sebenarnya bukan untuk memperoleh peralatan pertahanan utama. Pada kenyataannya, dana itu adalah untuk pembayaran progresif atas peralatan yang sudah dibeli.

Pada kesan pertama, anggaran sebesar RM 462 juta (US $ 104 juta) yang dialokasikan untuk RMAF dalam pengadaan di bawah anggaran pertahanan tahun 2017 tampaknya akan menjadi potongan yang signifikan dari anggaran tahun 2016 sebesar RM 702 juta.

Namun penting untuk dicatat bahwa sebagian besar dari alokasi 2016 itu adalah untuk 5 unit Pilatus PC-7 Mark II dan 2 unit Airbus A400M yang telah dikirim tahun lalu. Dan pesawat Airbus A400M terakhir datang pada tahun 2017, dan tidak ada harapan pesawat lainnya akan bergabung dalam armada RMAF, karena dana berkurang secara tidak terduga.

Meskipun demikian, ada kemungkinan Kuala Lumpur akan kekurangan dana untuk setiap pembelian utama RMAF dalam jangka pendek. Menteri Pertahanan Malaysia, Hishammuddin Hussein telah beberapa kali menyebut bahwa kementerian sedang mengalami keterbatasan anggaran.

Pimpinan RMAF sebelumnya, Jenderal Tan Sri Roslan Saad, yang pensiun pada akhir 2016, juga mengatakan bahwa RMAF harus memperhatikan situasi keuangan pemerintah ketika merencanakan pembelian untuk masa depan.

Masalah pendanaan jelas berdampak pada minimnya kemajuan dalam program utama penerbangan militer yang seharusnya menjadi prioritas tinggi. Serangan Sulu pada bulan Maret 2013 di Lahad Datu, Sabah, mendorong Kuala Lumpur segera memperoleh pesawat pengintai maritim untuk mendeteksi serangan dari laut. (Belum ada program resmi atau belum ada pendanaan yang terwujud)

Demikian pula, setelah hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 pada bulan Maret 2014, pemerintah Malaysia menyatakan akan meng-upgrade kemampuan radar surveillance berbasis darat dari RMAF, serta menambah pesawat pengintai maritim. (Masih belum belum ada pendanaan atau program resmi yang muncul).

Tapi contoh utama dari ketidakjelasan Kuala Lumpur tampaknya dikarenakan minimnya kekuatan finansial saat RMAF membutuhkan jet tempur multperan, untuk menggantikan MiG-29 negara itu. Permintaan sejak tahun 2010 dan telah bertahan lebih dari 2 kali masa jabatan Kepala RMAF sebelumnya, Jenderal Rodzali Daud (2009-2014) dan Jenderal Tan Sri Roslan Saad (2014-2016).

Menteri Pertahanan Malaysia, Hishammuddin mengatakan kepada media pada bulan Januari lalu bahwa keputusan tentang MRCA akan dilakukan sebelum tahun 2020, tetapi mengingatkan bahwa apapun kesepakatan yang akan diambil bergantung kepada kondisi perekonomian Malaysia.

Pada bulan Oktober 2016, ia dilaporkan telah menyebut bahwa Dassault Rafale dan Eurofighter Typhoon adalah kandidat yang akan dipilih, sedangkan Boeing F/A-18 E/F Super Hornet dan Saab Gripen telah dikesampingkan.

Airbus A400M telah menambah kekuatan dalam armada angkut Malaysia. (© Flight Global)

Meskipun dengan adanya pernyataan ini, Boeing dan Saab terus menawarkan jet mereka ke Kuala Lumpur. Saab kini juga menawarkan Gripen E, yang akan siap pada tahun 2020, dengan opsi untuk menyewakan Gripen C/D pada periode interim.

Perusahaan Aerospace Technology Systems dari Malaysia juga telah menawarkan rencana meng-upgrade MiG-29, tetapi sumber di industri pertahanan mengatakan bahwa RMAF lebih memilih pesawat baru. Sementara itu, layanan masih terus menerbangkan MiG-29 yang tersisa – diperkirakan sekitar 6 (enam) pesawat – dengan mengurangi kapasitas operasional.

Pesawat tempur RMAF lainnya, 18 unit Sukhoi Su-30MKM dan 8 unit F/A-18 Hornet, masih beroperasi seperti biasa. Terbatasnya jumlah airframes, bagaimanapun, menimbulkan tantangan dalam patroli dan latihan di wilayah udara, seperti halnya fakta bahwa negara ini dibagi menjadi dua bagian geografis yang berbeda, Peninsular dan Malaysia Timur. Ini memerlukan RMAF untuk terus merotasi detasemen tempur untuk masuk dan keluar dari Malaysia Timur.

Pemindahan permanen dari RMAF Kuantan di Semenanjung Malaysia ke RMAF Labuan di Pulau Labuan, di Malaysia Timur, Skadron No. 6 RMAF ini – yang terdiri dari armada Hawk 208 – telah mengurangi kebutuhan untuk rotasi tempur.

Menambah daftar masalah RMAF di 2016 dengan hilangnya 4 (empat) jenis pesawat dalam insiden terpisah, sebuah pesawat transport Airtech CN235-225M, pesawat latih Aermacchi MB-399, pesawat Beechcraft King Air 200T untuk patroli maritim dan helikopter transport Sikorsky S-61A-4 Nuri.

Helikopter transport Sikorsky S-61A-4 Nuri. (© Aviation International)

Dari empat kerugian tersebut, Aermacchi MB-339CM dan Beechcraft King Air 200T memiliki dampak yang paling besar. Armada pesawat kecil Aermacchi MB-339CM sudah tidak memadai untuk kebutuhan pelatihan layanan ini, tetapi RMAF hanya mampu menyediakan 8 (delapan) pesawat. Bahkan kemudian, hanya mampu memperoleh pesawat tersebut dengan memindahkan mesin dari pesawat MB-339A-nya, memperbaiki mereka dan menginstalnya ke dalam airframes CM. (Opsi untuk memperoleh 4 pesawat tambahan tidak pernah terlaksana).

RMAF juga memiliki 6 unit Eagle 108 untuk pelatihan tempur lead-in, tetapi kecilnya armada yang ada tidak cukup untuk menghasilkan pilot pesawat tempur dalam jumlah yang sesuai. Sejauh ini RMAF belum mengeluarkan permintaan untuk pengadaan pelatih tempur lead-in baru. Akan tetap menunggu untuk terwujudnya pembelian MRCA sebelum melanjutkan pada jet pelatih canggih baru. BAE telah menawarkan Eagle T2S sebagai bagian dari paket MRCA, namun Malaysia harus memilih Tornado.

Demikian pula, kehilangan Beechcraft King Air 200T akan menambah ketegangan pada pesawat yang tersisa, yang jumlahaslinya tidak pernah memadai untuk sebuah negara seukuran Malaysia. RMAF belum pernah mengatakan apakah pesawat tersebut akan diganti.

Namun, dalam laporan berkala yang muncul bahwa RMAF bisa memperoleh pesawat patroli maritim CN-235 baru dari Indonesian Aerospace (PTDI), atau mengkonversi beberapa CN-235 yang ada ke versi MPA. Northrop Grumman telah memasarkan Hawkeye E-2D dan Saab dengan platform Erieye, keduanya mengklaim bahwa pesawat mereka dapat memenuhi kebutuhan AEW&C dan misi MPA. Saab, bagaimanapun unjuk gigi dan beralih ke pemasaran sistem Swordfish untuk peran MPA. Namun, cuma ada sedikit komitmen yang jelas dari Malaysia karena kesulitan pendanaan.

Angkatan Laut AS telah mengirimkan Boeing P-8 Poseidon MPA ke Malaysia dalam sejumlah kesempatan, tetapi para pejabat AS menekankan bahwa itu adalah kunjungan kooperatif biasa, bertujuan untuk membantu Malaysia pada kesadaran maritim bukan untuk mempromosikan Platform P-8. Pilihan lain tampaknya melengkapi dengan dua pesawat transport taktis bekas, Lockheed Martin C-130, dengan peralatan pengawasan maritim. (Namun, sekali lagi, tidak ada tindakan nyata yang muncul).

Hilangnya CN-235 dan helikopterNuri, meskipun tragis, juga kurang menjadi perhatian, terutama karena RMAF masih memiliki sejumlah helikopter Nuri dalam pelayanan dan 12 unit helikopter baru Airbus H225M yang masih beroperasi secara normal.

CN-235 adalah pesawat transportasi VIP juga sebagai transportasi taktis RMAF dan lebih dari cukup dengan armada C-130 dan A400M baru yang ada, 3 dari 4 yang telah memasuki layanan. Pesawat A400M pertama Malaysia saat ini telah kembali Seville di upgrade ke konfigurasi taktis, sedangkan 2 sisanya dijadwalkan untuk mengunjungi Seville untuk upgrade yang sama. Pesawat keempat akan tiba sebelum tengah 2017, sepenuhnya dilengkapi dalam konfigurasi taktis.

Flight Global

 

92 COMMENTS

  1. Patutlah pesawatnya jarang jatuh kerana tak de budget nak beli BBM untuk terbang ronda dan exercise….pesawatnya ditaruh dihanggar selalu,di lap selalu,habis tuh di elus2 biar kinclong….kah kah kah

  2. Coba baca lagi bagian kalimat bercetak miring yang terdapat dalam beberapa paragraf diatas 😀 Semua rencana yang belum ada realisasinya 😛 seperti dengan banyak istilah “akan” dalam rencana pengadaan kita 😆

  3. Jangan pesimis bung destroyer. Jika anda ke makassar berkunjunglah ke lanud hasanudin nah setelah itu anda minta ijin ke petugas bandara syukur kalau ketemu sama pak david setelah itu anda tinggal tanya berapa jumlah sukhoi kita di sana. Pasti gk akan di jawab.

  4. CN-235 adalah pesawat transportasi VIP juga sebagai transportasi taktis RMAF dan lebih dari cukup dengan armada C-130 dan A400M baru yang ada, 3 dari 4 yang telah memasuki layanan. Pesawat A400M pertama Malaysia saat ini telah kembali Seville di upgrade ke konfigurasi taktis, sedangkan 2 sisanya dijadwalkan untuk mengunjungi Seville untuk upgrade yang sama. Pesawat keempat akan tiba sebelum tengah 2017, sepenuhnya dilengkapi dalam konfigurasi taktis.
    ……………………………………………………………
    RMAF masih mampu menjaga wilayahnya meski kekurangan dana, hal ini adalah kerana luas wilayah mereka yang sederhana luas. Malaysia juga mendapat impak positive dari program pembangunan tentera darat dan laut.
    pada masa ini Malaysia tidak memesan sebarang pesawat menilai kepada pemodenan armada lain di malaysia. Malaysia dijangka membeli pesawat baru setelah program tentera laut dan darat selesai.
    #tulis bagi la habis. Info potong2 apa kes

  5. wkwkwkkwkk…negeri jaguh terperosok karena ke angkuhannya para pemimpin…dan blum sadar dg kelemahannya negaranya ….masyarakatnya yg kritis di benci di anggap komunis…masyarakat umumnya mwrasa ras eropa yg unggul ….pencucian otak british trhadap malaysia terbukti manjur…bila bertemu negara superior selalu menghamba bila merasa jaguh menjadi pongah…terhadap jirannya….

    • A simple misconception that I often heard is that Indonesia fought to earn their independence from Japan in 1945. It was the diplomatic collaboration, not physical fights, between national leaders Soekarno, Mohammad Hatta, and the Japanese occupiers that made the independence and its defense possible.

      “We must be grateful to the Japanese. If human beings stay in the groove of colonialism without anything radical to stir them or their colonizers, it is difficult to ever make a revolution.” – Soekarno

      (edited)
      It was the diplomatic collaboration, not physical fights.
      Hahahahahahahahaha. Mental terbukti manjur. Banyak makan pisang busuk colibri.

      (edited)
      #sila nyimak di historytoday.com
      #japan national gallery
      #pantat colibri

      • kolaborasi dgn jepang terjadi seiring melemahnya kekuatan jepang kalau mereke masih kuat mana mau mereka merestui badan penyelidik usaha kemerdekaan.
        namun ketika jepang sudah menyatakan kekalahannya dgn sekutu mereka tetap tidak mau mengizinkan kami utk merdeka sehingga terpaksa kami rebut utk mengisi vakum power sebelum sekutu mendarat dgn dugaan akan mendirikan kembali pemerintahan kolonial kerajaan belanda.
        dugaan kami benar sehinngga berlanjut ke perang mempertahankan kemerdekaan selama 4 tahun dgn pengorbanan jutaan rakyat kami.

        lancang benar menyamakan kemerdekaan kami dengan kemerdekaan pemberian inggris.

        bisa dilihat dari bahasa anda dimana menggunakan bahasa sendiri dgn penggunaan grammar dan ejaan british.

      • Betul sekali..suka-suka…., Laksamana Maeda…seperti-nya diplomatic colaboration…untuk Indonesia Merdeka…namun pertimbangnnya, 1. Tentara PETA sudah terlalu banyak dan militan….jepun takut seperti Pemberontakan Supriyadi, 2. Jepun tidak suka alutsista disita begitu saja oleh sekutu…, 3. Emang setelah 17 Agustus 1945..Bangsa Indonesia ..Tidurr..Nyantai..Pelesir gitu kah ?….hahah…Smart Think..lah …Suka-suka….datanglah sekali-sekali ke jalan Chow Kit…guys..

      • Betul sekali..suka-suka…., Laksamana Maeda…seperti-nya diplomatic colaboration…untuk Indonesia Merdeka…namun pertimbangnnya, 1. Tentara PETA sudah terlalu banyak dan militan….jepun takut seperti Pemberontakan Supriyadi, 2. Jepun tidak suka alutsista disita begitu saja oleh sekutu…, 3. Emang setelah 17 Agustus 1945..Bangsa Indonesia ..Tidurr..Nyantai..Pelesir gitu kah ?….hahah…Think Smart ..lah …Suka-suka….datanglah sekali-sekali ke jalan Chow Kit…guys..

        • Walaupun dgn buluh runcing nyatanya kita berhasil mengalahkan belanda dan british emak malon.. tk seperti malon yg diam di bilik termenung saat di jajah british kahkahkah
          Buluh runcing ini bukan buluh runcing sembarangan. Buluh runcing ni sebelum di gunakan untuk perang di bacakan doa dulu agar kempuannya bertambah..

  6. jika yang dimaksud adalah Budget, maka harus diterjemahkan ANGGARAN BELANJA, sebab ANGGARAN sendiri adalah ESTIMASI

    sekarang sepertinya sudah banyak yang menyamakan kata ANGGARAN dengan kata BUDGET

    ESTIMASI = 1. ANGGARAN 2. TAKSIRAN
    BUDGET = ANGGARAN BELANJA

  7. salah satu contoh nyata dari komentar saya sebelumnya,,
    bahwa ekonomi terlebih dahulu melalui investasi infrastruktur dan manufaktur..
    kemandirian pangan dan energi…

    otot yg dikuatkan melebihi kemampuan prediksi ekonomi malaysia pada akhirnya mengorbankan pembelian tahunan mereka..
    ibaratnya kemampuan ekonomi sebatas nyicil motor dipaksakan nyicil mobil,, akhirnya kebutuhan dasar tak terpenuhi…

  8. gitu aj kok repot …. pakai sj duit judi dari genting higland …. selesai urusan … masalah halal gk halal kan selama ini tetap dipakai utk pembangunan yg pasti kecipratan jg masuk perutnya botak …. hehe

  9. Bukan hanya Malaise yang mengalaminya. Coba lihat bagaimana kesiapan pesawat tempur USMC? Mungkin dibawah separoh. Bahkan ada kabar yang menyebutkan USMC sampai berburu ke museum minta mreteli suku cadang pesawat hornet koleksi museum. Nasib USN juga tidak lebih baik. Kapuskodal, kepala pusing kurang modal, istilahnya. Negara dengan anggaran militer 600 miliar usd pun merasa kurang modal, apalagi negara kurcaci kayak Malaise.

LEAVE A REPLY