Antisipasi Australia Atas Pembangunan Di Laut China Selatan

CANBERRA – Pemerintah Australia memperkuat aliansi dengan AS dan berencana untuk melakukan ekspansi militer dengan menghabiskan dana sejumlah $ 140 milyar dolar dalam 10 tahun kedepan di tengah meningkatnya ketegangan regional atas China yang mulai meregangkan otot pada rute perdagangan utama di Laut China Selatan.

Sebuah cetak biru pertahanan dirilis oleh Perdana Menteri konservatif Australia Malcolm Turnbull, Kamis mendesak Beijing untuk lebih terbuka tentang niat keamanan di Laut China Selatan, dimana China sedang membangun pulau buatan di terumbu karang yang disengketakan.

“Kami adalah kekuatan maritim, kami adalah negara kepulauan,” kata Turnbull Kamis. “Kami beroperasi diwilayah dimana jalur laut, akses bebas navigasi, aset maritim dalam arti angkatan laut sedang tumbuh, baik kapal selam dan kapal permukaan”.

Sementara berhenti melakukan konftrontasi langsung dengan China atas pulau-pulau buatan, cetak biru pertahanan memperingatkan pembangunan tersebut akan memiliki “dampak besar” pada stabilitas wilayah Pasifik dan Samudera Hindia dalam dekade mendatang.

Sumber: Stockholm Institute for Peace Research

“Sebagai kekuatan utama, menjadi sangat penting bagi stabilitas regional bahwa China memberikan jaminan kepada tetangganya untuk lebih transparan tentang kebijakan pertahanan,” dokumen kebijakan tersebut menyebutkan. “Meskipun wajar bagi negara-negara yang baru kuat untuk mencari pengaruh yang lebih besar, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk bertindak dengan cara yang konstruktif memberikan kontribusi bagi stabilitas global, keamanan dan kesejahteraan.”

Dokumen pertahanan Australia yang pertama sejak China mulai membangun pulau-pulau. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying menyebut pernyataan dokumen tersebut mengenai Laut China Selatan dan Laut China Timur adalah “negatif,” dan mengatakan bahwa Beijing “tidak puas” dengan mereka.

Pembangunan dari pulau-pulau tersebut telah memicu keresahan regional dan mendorong Washington untuk menentang klaim Beijing dengan melakukan patroli lewat udara dan laut demi “kebebasan bernavigasi”. Para pejabat AS mengatakan militerisasi Beijing didaerah tersebut sebagai cara untuk mendukung klaim maritim, sementara China telah membela diri dengan mengatakan hal tersebut sebagai tindakan defensif dan sah.

Citra satelit terbaru menunjukkan bahwa China telah memasang fasilitas radar pada beberapa pulau buatan, yang akan meningkatkan kekuatan militernya dikawasan itu. Laporan oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional mengenai instalasi radar di Kepulauan Spratly datang sehari setelah para pejabat AS dan Taiwan mengatakan Beijing telah menempatkan rudal permukaan-ke-udara (SAM) dikepulauan Paracel, sebelah Utara Spratly.

Australia dihadapkan pada aksi diplomatik yang ganjil dalam mencoba mempererat hubungan strategis dengan AS tanpa mengancam hubungan ekonomi dengan China, mitra dagang terbesarnya.

Sebanyak 60% dari perdagangan laut Australia melewati wilayah Laut China Selatan, dan sebagian besar menuju China. Sejauh ini, Australia masih enggan untuk mengikuti AS dengan melakukan patroli kebebasan bernavigasi, akan tetapi australia menggunakan pesawat patroli maritim jarak jauh yang kemudian ditentang oleh China karena melakukan pengintaian secara teratur diwilayah tersebut.

Meskipun terjadi penurunan tajam dalam hal anggaran karena penurunan harga komoditas dan perlambatan ekonomi, Australia telah merencanakan ambisi peremajaan peralatan militer, termasuk menambah dua kali lipat armada bawah laut, dengan 12 kapal selam baru, drone pengangkut rudal, armada laut yang lebih besar dan peningkatan jumlah personil militernya.

Canberra berjanji untuk menambah anggaran militer sebesar 2% dari output ekonomi, atau sekitar 58 juta dolar Australia (US $ 42 juta) per tahun. Pada tahun fiskal ini diperkirakan belanja militer Australia sekitar 32 juta dolar.

Dokumen tersebut juga menyerukan kekuatan maritim yang lebih besar dengan rudal penghancur kapal dan meningkatkan latihan militer dengan AS, dimana AS meningkatkan rotasi ribuan Marinirnya, pesawat terbang dan kapal perang melalui Australia, juga bekerjasama mengembangkan perisai pertahanan rudal balistik.

Peningkatan pesat dalam belanja militer China memicu perlombaan senjata di kawasan Asia-Pasifik. Sebuah laporan terbaru oleh Stockholm Institute for Peace Research mengatakan Australia adalah pembeli senjata terbesar kelima didunia tahun lalu. Enam dari 10 importir senjata global berasal dari kawasan ini, termasuk India diposisi teratas dan China diperingkat ketiga. Rusia juga kembali muncul sebagai pemain regional potensial, membangun kekuatan kapal selam dan baru-baru ini memasok senjata ke Fiji, sebuah negara kecil di Pasifik.

“Anggaran pertahanan Asia meningkat ditengah kebangkitan China, lonjakan pengeluaran militer dan upaya nyata untuk menulis ulang aturan di Laut China Timur dan Laut China Selatan,” kata John Blaxland, ahli keamanan di Universitas Nasional Australia.

Menteri Pertahanan Jepang Gen Nakatani mengatakan Rabu bahwa ia memiliki pandangan yang sama dengan para pejabat militer AS bahwa China sedang mencoba untuk mengubah pulau buatan ke dalam basis operasional.

Sumber: Wall Street Journal

Tinggalkan komentar