Apa Motif Amerika Serikat Tarik Pasukan dari Suriah ?

Militer AS diperintahkan untuk menarik sebagian pasukan dari Afghanistan © US Army via CNN/WPTV

JakartaGreater.com – Meskipun menyatakan akan menarik pasukan dari Suriah, itu hanya pasukan infanteri, sementara Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS akan tetap berada di pangkalan dan tetap utuh, seperti dilansir dari laman Bao Dat Viet.

Baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump mengambil “langkah” untuk mengejutkan sekutu ketika ia mengumumkan bahwa ia akan segera menarik pasukan Amerika Serikat kembali dari Suriah dengan alasan bahwa ia telah mengalahkan organisasi teroris Negara Islam – IS.

Setelah langkah dari AS tersebut, sekutu mereka seperti Pasukan Demokrat Suriah (SDF) atau Israel, Afghanistan, Irak dan Arab Saudi menyatakan keprihatinan, karena ini dapat dianggap sebagai kemenangan pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

Tetapi untuk meyakinkan negara-negara yang terlibat dan juga mengirim peringatan keras kepada Rusia dan Suriah, Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton kemarin, bahkan mengeluarkan pernyataan yang sangat jelas.

Pasukan infanteri AS berlatih bersama pasukan NATO di Lithuania. © Sgt. Jarred Woods via Wikimedia Commons

Sementara jadwal penarikan pasukan AS dari Suriah belum ditentukan karena “penundaan” yang sedang berlangsung, Bolton mengingatkan bahwa Washington akan memaksa Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk bertanggung jawab atas insiden terkait senjata kimia.

“Sementara ini kami mempertimbangkan bagaimana dan kapan untuk mundur, kami ingin pemerintahan Assad mempertimbangkan apa yang bakal dilakukan Amerika Serikat sebagai tanda dari pengurangan oposisi terhadap penggunaan senjata pemusnah massal”, kata Bolton.

Melanjutkan bahwa banyak opsi akan ditawarkan jika mereka (pemerintah Suriah) tak lagi memperhatikan pelajaran dari “dua serangan” sebelumnya, maka serangan berikutnya akan berkomentar lebih banyak.

Perlu dicatat bahwa AS mengumumkan untuk menarik pasukannya hanya untuk membawa pasukan lainnya ke wilayah Suriah, unit-unit ini nantinya ditugaskan untuk berkoordinasi dengan kelompok bersenjata setempat dalam kegiatan penyerbuan sarang IS – Daesh.

Kapal perusak USS Arleigh Burke (DDG-51) meluncurkan rudal jelajah RGM-109 Tomahawk © US Navy via Wikimedia Commons

Sementara serangan di wilayah Suriah selama beberapa waktu terakhir telah dilakukan oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS, pasukan ini masih sangat dikerahkan di pangkalan militer di seluruh kawasan Timur Tengah dan tidak menunjukkan tanda-tanda mengurangi skala pertempuran.

Oleh karena itu, risiko wilayah Suriah akan mengalami serangan rudal jelajah lain dianggap masih utuh, ketika unit-unit tempur AS di Timur Tengah dapat dengan cepat bisa mengatur serangan kilat seperti yang telah mereka lakukan terakhir kali.

Tinggalkan komentar